Friday, August 19, 2016

Reading Manga

I love reading and am a huge fan of novels. My preference is based on the employment of our imagination while reading. 

However, I've just finished reading a manga series recently. This was triggered by my being curious about the continuation of the main characters' relationship of the anime I watched and guess what? I enjoy it! That's said, I start browsing for more mangas of the anime I like and who knows if I am going to really enjoy them someday :)

Wednesday, June 22, 2016

Azan sebagai Penarik Perhatian

Malam baru saja sedikit lewat pukul sembilan. Suasanya pun hening, karena kebanyakan masyarakat sedang berada di mesjid atau meunasah untuk melaksanakan shalat tarawih berjamaah. Sementara saya sedang mengaji setelah melakukan shalat tarawih sendiri di rumah.

Tiba-tiba terdengar suara azan dari meunasah gampong tetangga. Saya mengernyit heran. Telah lebih dari satu jam berlalu sejak masuknya waktu isya. Padahal meunasah itu juga mengadakan shalat tarawih berjamaah. Apa si muazzin salah lihat jam? Saya tidak terlalu ambil pusing dan melanjutkan bacaan sampai azan selesai dan mendengar si muazzin berteriak-teriak di pengeras suara.

Saya berhenti membaca dan memfokuskan pendengaran.
"Gampong Menara teumeutoooong... Lakee bantuaaaan..."
(Desa meunara kebakaran... mohon bantuan...)
Barulah saya tahu bahwa azan yang dikumandangkan sebelumnya bukanlah karena si muazzin salah lihat jam, namun bertujuan untuk menarik perhatian sebelum mengabarkan musibah. Segera saja jalan terdengar ramai dengan hingar bingar kendaraan dan suara orang-orang yang saling bersahutan. Masih dengan mukena, saya ikut keluar dan melihat langit di arah gampong meunara yang terlihat terang dengan sapuan cahaya kemerah-merahan. Jalan sedikit ke muka lorong, dari arah yang sama terlihat asap hitam membubung ke langit. Menandakan adanya api yang tidak sedikit.

Karena ramainya jalan dengan kendaraan dan orang-orang yang berjalan kaki ke arah gampong Meunara, saya jadi ingin ikut pergi. Untuk melihat pastinya, yang tentu saja tidak membantu mengecilkan api sedikitpun. Untungnya keinginan saya itu tidak terwujud karena tak lama kemudian terdengar sirene mobil pemadam kebakaran yang meraung-raung dan meskipun masih ingin menonton, pada akhirnya tidak jadi pergi.

Kembali ke judul. Banyak hal yang saya pelajari kembali di bulan Ramadhan ini. Hal-hal yang dulunya pernah saya ketahui dan pahami namun seiring waktu terlupakan begitu saja, terutama pengetahuan keislaman. Salah satunya tentang azan ini. Saya tidak tahu apakah ada syariat khusus tentang mengumandangkan azan ketika terjadi musibah. Dalam kasus semalam, karena keterbatasan pemahaman, saya menafsirkan bahwa azan yang dikumandangkan si muazzin di waktu yang tidak biasa -di luar masuknya waktu shalat- itu bertujuan untuk menarik perhatian warga sehingga lebih banyak yang mendengar pengumuman yang ia sampaikan setelahnya. Wallahu'alam.

Thursday, June 9, 2016

My Kind of Ramadhan Break

The first three days of this Ramadhan I was free of academic activities. This break I made myself useful by going to pull out the rice seedlings to be transplated into the whole field.

That's said, I've regained my long-lost experience a day ago, which is working in the paddy field! :) I call it long lost because it's been ages since the last time I played in the muddy floor of the newly ploughed field during planting season. I recall it was about fifteen years ago (?) when I was still in primary school that I used to tag along my relatives when they were working in the field during planting and harvesting.

In any way, the greenery decorated by bugs are just so captivating. Just look at how fresh these dew-washed grass-like leaves are!


The first day was not so hard as the sun kept hiding beneath the cloudy sky. However, on the second day it was burning as the sole ruler of the blue sky, leaving us baked to the flesh. Yet a good company did make difficult things easier, just like yesterday. The addition of two cousins helped us finish off on time so we can head home by the time Azan called. It was undoubtedly a very good alternative to spend some time. 

Tuesday, May 31, 2016

A Simple Happiness

Ever heard of a saying stating that women like to be thought as younger than they actually are? I think I've just personally proven that saying is accepted, for -nth times already.

Image source: mindful.org

Tuesday, April 26, 2016

Selamat Melanjutkan Perjalanan, Kawan

Tadi pagi saya mendapatkan kabar yang cukup menyedihkan. Salah seorang teman kuliah saya yang terkenal cerdas, baik, ramah, cantik, serta memiliki pronunciation bahasa Inggris yang sangat bagus telah pergi meninggalkan kami untuk selamanya. Sang Pencipta memanggilnya kembali di usia 25 tahun.

Namanya Faradilla. Dilla panggilannya. Meskipun baru ingat belakangan, sebenarnya pertemuan pertama saya dengan Dilla bukanlah ketika kami berada di unit yang sama saat menempuh pendidikan di Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris IAIN (sekarang UIN) Ar-Raniry. Kami pernah berada di premise yang sama selama beberapa hari dalam kegiatan lomba tentang gender equality tingkat provinsi (saya lupa nama resmi lombanya) yang diadakan di Hotel Madinah pada tahun 2007, setahun sebelum kami kuliah. Saat itu kalau tidak salah Dilla mendapatkan juara 3. Bukti bahwa ia memanglah seorang gadis yang cerdas.

Masa-masa kuliah membuat saya lebih mengenal Dilla. Kesan saya terhadapnya dari dulu hingga kini tetap sama: ia adalah seorang teman yang begitu mudah untuk disukai. Pembawaannya yang ceria membuat Dilla mudah diterima siapa saja. Berbeda dengan saya yang clumsy dan tidak pandai bersosialisasi, Dilla adalah jenis teman yang dapat membuat orang seperti saya pun merasa mudah bergaul. Intinya ia mudah akrab dengan siapa pun dan tentu saja, disukai banyak orang.

Dilla unik dengan caranya sendiri. Ia sangat menyenangi menggunakan rok kembang yang dijahit ayahnya. Ia pandai mengenakan make up. Ia pernah membawa tissue satu pak besar dalam tasnya saat terserang pilek (dan membagi tissue-nya kepada saya). Bagi saya ia hebat karena mampu beli sepeda motor sendiri ketika kuliah. Sebagai irrelevant sentence, dari Dilla lah saya pertama kali tahu bagaimana bentuk dan apa itu hape android bertahun lalu.

Tamat kuliah, kami mulai menempuh jalan masing-masing. Ada yang menjadi pekerja kantoran, ada yang mengajar, ada yang melanjutkan pendidikan. Komunikasi tetap terjalin -meskipun tidak secara intens- di grup-medsos seperti Facebook dan chat WhatsApp. Saya sendiri terakhir bertemu dengannya awal tahun 2015 lalu di pernikahan seorang teman. Saat itu Dilla sudah bekerja namun ia tetap dirinya yang biasa, yang menunjukkan keterkejutannya melihat saya di Aceh (karena saat itu saya sedang S2 di Salford dan pulang saat libur tahun baru). Tidak ada yang berubah darinya dan saya sangat senang bertemu dengannya.

Pertengahan bulan ini kami -para alumni TEN 2008- dikejutkan dengan kabar tentang keadaan Dilla yang sedang koma dan dirawat di ICU. Tentunya kami semua merasa terkejut karena kabar ini begitu tiba-tiba. Apalagi sebelumnya kami baru saja merayakan kebahagiaan salah satu teman yang baru saja menggelar resepsi pernikahan. Niat untuk menjenguk tidak terlaksana karena pihak keluarga belum mengijinkan, jadi perkembangan keadaannya saling dibagi di grup. Hingga tadi pagi kabar menyedihkan itu tiba. Tepat lima belas hari sejak kabar sakitnya kami terima, Dilla pergi untuk selamanya. Innalillahi wa inna ilaihi raajiuuun.

Selamat jalan, Dilla. Semoga Allah mengampuni dosa Dilla dan menempatkan Dilla di tempat terbaik di sisi-Nya. Ra menuliskan ini karena ingin tetap mengenang Dilla. I'm honestly happy to know you and be one of your many friends. You'll always be smiling so widely in my memory. Just like the last photo of us together.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...