Thursday, August 20, 2009

HOM

Aku bingung
Ribuan semut merang-rang otakku
Membuatnya berlubang

Aku gundah
Selaksa gulana menerpa hatiku
Menjadikannya kacau
Kusut
Semrawut

Jangan tanya kenapa
Ku tahu hanya satu kata
"Hóm"

SAAT LANGIT MURUNG

Langit murung
Hanya awan hitam yang menggantung
Mendung
Terkukung

Aku di sini biru
Menunggu ungu jadi kelabu
Biar membeku semua lukaku

Entahlah,
Di setiap celah yang terbuka
Hanya ada lara yang tertera
Selebihnya hampa

Kilauan zamrud mungkin menuai harga
Tapi tidak canda tawa

Labirin hati tertusuk duka
Hingga kini masih menganga

MELIHAT SEKITAR

Friday, June 19 about 10.20 am

On the way to SSC...

Di tengah macetnya lalu lintas di jembatan Lamnyong,
seorang bapak setengah baya beserta bocah laki-laki (aku tidak tahu apakah itu anaknya atau bukan) mendorong sepeda butut mereka.
Keduanya berjalan kepayahan karena sepeda yang seharusnya mempermudah perjalanan 'ditunggangi' oleh beberapa batang pisang muda.
Matahari begitu terik. Hatiku trenyuh melihatnya.
Apalagi saat kulihat, ya Allah, mereka tidak memakai alas kaki.
Bisa kubayangkan bagaimana rasanya kaki telanjang mereka ketika menjejak aspal yang panas.
Pikiranku melayang ke ayahku, saat itu kusadari betapa beruntungnya aku...

KISAH SI RABBIT

(Mengenang si Robby)

just wanna share a story...

Awalnya hewan mungil bertelinga panjang itu tiba di rumahku pada hari ketiga (atau kedua?) lebaran Idul Fitri th. 2008 lalu. Jumlahnya sepasang. Yang satu berwarna putih bersih (Ribby) dan satunya lagi coklat (Robby). Keduanya masih anak-anak. Adikku memberi nama mereka berdasarkan warnanya. Setelah berbulan kemudian kami baru tahu bahwa ternyata Robby-lah yang betina.

Wednesday, August 19, 2009

KAU ANGKARA

Mentari muram
menyeruak luas pada lazuardi yang tak berbias
cahaya pasti

dan bintang menikamku dari sana
menatap tajam dengan bola matanya
yang kristal

seperti tempik sorak yang mengabur pada
bayangan pelangi,
kau khatulistiwa yang mengapi

ELEGI HATI

Mungkin aku masih bisa bertamu
ke dalam hatimu yang beku
karena perapian masih diam
menyisakan riak-riak debu
mencabik malam

entah siapa yang tiba-tiba datang
dari balik rindu dan langsung
merobek sukmaku

pada senyummu yang patah,
luka kini semakin memerah
namun kau terus saja berpesta
lalu bersama menjamu tuak
tanpa hiraukan hatiku yang terkoyak!

Feb '07
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...