Friday, June 25, 2010

LUPUS

Apa itu lupus?

Selama ini ketika mendengar kata lupus yang langsung terbayang dalam pikiran adalah tokoh fiktif rekaan Hilman dalam serial berjudul sama. Seorang pemuda gokil yang sangat hobi bermain tebak-tebakan.

Meski tahu ada suatu penyakit yang juga bernama lupus, saya sama sekali tidak ambil pusing maupun tertarik untuk mengetahui lebih lanjut tentangnya. Berhubung saya bukanlah mahasiswa kedokteran maupun jurusan lain yang berhubungan dengan kesehatan. Jadi rasa ingin tahu itu tidak muncul. Belum. Setidaknya sampai suatu hari ketika wabah ganas tersebut mendera ibunda dari seorang teman.



Semuanya bermula ketika di suatu pagi saya menerima pesan singkat dari Hanum, teman sekolah dulu. Ia mengabarkan bahwa ibu dari salah satu teman kami, Siti, sedang dirawat intensif di ruang ICU sebuah rumah sakit swasta di Banda Aceh, RS Tgk. Fakinah. Beliau harus mendapat rawat inap untuk kedua kalinya dalam bulan yang sama setelah tak lama sebelumnya diperbolehkan pulang.

Berita itu berasal dari Nanda, teman yang juga mahasiswa akper (Akademi Keperawatan) Fakinah. Ia berjumpa Siti di mushalla rumah sakit tersebut.

Teman-teman berencana menjenguk hari itu juga. Saya pun memutuskan untuk ikut. Rencananya jam satu siang harus berkumpul di rumah sakit. Namun karena Jumat ditunda hingga pukul dua. Ada delapan orang yang datang: Hanum, Nanda, Shinta, Mecita, Maida, Faridha, Suci, dan saya.

Setelah melepas kangen antar teman sekolah yang kini sudah terpisah di berbagai universitas dan jurusan, saya dan teman-teman mulai terpikir akan buah tangan yang akan diberikan. Ada yang mengusul untuk membeli buah tetapi pendapat itu dipatahkan oleh argument lain yang menyatakan bahwa uang lebih berguna, mengingat si pasien sekarang masih berada di ICU. Tentunya ia belum bisa memakan buah-buahan karena makan minumnya masih melalui sebuah jarum. Kesepakatan pun tercapai. Setiap orang memberikan Rp. 10.000-nya yang dikumpul pada satu orang untuk diberikan kepada si sakit atau keluarganya nanti.

Ternyata banyak yang tidak mempunyai uang pas sepuluh ribu. Ada lembaran 20 ribuan dan 50 ribuan. Mecita yang senang bercanda menukaskan ide gilanya, “Nggak apa-apa, kasih aja uang itu ntar minta kembaliannya.” Ada-ada saja! Akhirnya masalah tersebut bisa dipecahkan dengan mengkongsi. Jadi tidak semua mengeluarkan uang mereka untuk saat ini. Namun membayar kembali nanti kepada teman yang uangnya dipakai.

Shinta menelepon Siti untuk menanyakan di mana kami bisa menemuinya (baru menyadari bahwa tidak ada satu pun di antara pengunjung ini yang mengetahui ruang inap ibunya. Siti menyebutkan nama kamar Imawoe yang berarti mawar. Memang kebanyakan kamar di rumah sakit ini dinamakan dalam bahasa Aceh.

Di jalan menuju kamar terdapat papan nama pasien yang tergantung di dinding ruang bedah. Tertera di sana kamar Imawoe, Ny. Yusniati, ruang ICU, dan nama dua orang dokter yang menanganinya.

Kami menemui Siti di depan ruang ruang rawat ibunya. Ia adalah seorang gadis kelahiran tahun 1991, berperawakan mungil, dengan tinggi sekitar 150 cm dan berbadan kurus. Siti memakai rok panjang warna merah bata bermotif kotak-kotak, yang merupakan rok seragam angkatan kami, dengan padanan kaos merah hati dan jilbab kurung warna putih. Bawahan dan atasannya sama dengan Suci, salah seorang kawan yang berkunjung, hanya saja Suci memakai kerudung hitam.

Seperti biasa jika para kawan lama ini berkumpul selalu ada hal yang dapat membuat tawa. Tidak peduli waktu dan tempat. Kesamaan kostum Siti dan Suci menjadi salah satu pemicunya. Mecita sekali lagi melancarkan guyonannya dengan mengatakan Siti dan Suci kembar dan sudah bersepakat untuk memakai pakaian yang sama. Tentu saja hal itu tidak benar.

Menurut cerita Siti, Yusniati sempat dirawat di klinik daerah Sibreh, Aceh Besar, sebelum dirujuk ke rumah sakit. Saat dirawat inap sebelum ini ibunya dinyatakan kekurangan Hemoglobin. Kondisi Yusniati sangat lemah dan beberapa kali tidak sadarkan diri. Bahkan ia juga sempat dirawat di ICU selama tiga hari. Beberapa hari kemudian kondisinya membaik dan diperbolehkan pulang. Setelah beberapa hari di rumah ibu empat anak ini sudah bisa berjalan dan ke kamar mandi tanpa bantuan. Anak-anaknya hanya mengikuti dari belakang untuk memastikan ia baik-baik saja.

Keadaan Yusniati memang terus membaik hingga suatu hari ketika sedang makan ia mengalami kejang-kejang hebat. Darah merembes dari lidah dan bibirnya yang tergigit, memerahkan sekitar mulut dan dagunya. Ia pun kembali dilarikan ke rumah sakit yang sama dan langsung mendapat perawatan di ruang ICU.

“Sejak dibawa ke sini baru kemarin sadar. Sebelumnya koma udah tiga hari. Ini pun masih belum bisa bicara, cuma buka mata aja. Makan minum masih disuntik,” ujar Siti menerangkan.

Karena peraturan ruang ICU memang hanya mengizinkan kunjungan terbatas pada dua orang saja, Shinta yang lumayan dekat dengan Siti pun menjadi perwakilan. Sementara yang lainnya menunggu di depan ruang rawat inap Imawoe. Belum jauh berjalan Shinta kembali lagi. Rupanya uang hasil patungan tadi tidak ada padanya. Mecita membuka dompetnya dan mengangsurkan selembar uang yang langsung diterima Shinta sebelum dia sadar bahwa itu hanyalah selembar dua ribuan. Tawa pun pecah. Mecita kemudian memberikan lembar dua puluh dan lima puluh ribu hasil kongsian teman-teman.

“Kasihan… kondisinya sangat lemah,” Shinta bercerita sekembalinya dari ICU. Ia terkejut ketika Siti mengatakan pada Yusniati untuk membuka mata, mata yang sebelumnya tertutup itu mendadak membelalak.

“Nggak tau kenal (saya) atau nggak. Tapi tadi matanya nggak lihat ke arah Shinta,” tambahnya.

Saya penasaran dengan nama penyakit itu dan menanyakan Siti.

“Apa tu namanya… lupus ya? Jenis SLE.”

Lupus! Saya terkesiap. Tak menyangka penyakit yang namanya sama dengan tokoh fiktif lucu itu ternyata bisa membuat penderitanya koma.

“SLE? Sebenarnya penyakit itu gimana, maksudnya yang diserang apa?”

Shinta dan Mecita yang mahasiswa kedokteran menjadi rujukan selanjutnya.

“Lupus Eritematosus Sistemik. Penyakit itu menyerang antibody. Tapi nggak tahu juga jelasnya, belum belajar.”

Saya mencari jawaban sendiri kemudian. Mendapati penyakit ini berhubungan dengan kelainan antibody. Jumlah antibody yang berlebihan menyebabkan antibody tersebut bukannya melawan kuman atau zat asing, tapi justru menyerang system kekebalan sel itu sendiri. Istilahnya seperti pagar makan tanaman. System kekebalan tubuh malah menyerang organ tubuh yang sehat.

Diantara berbagai jenis lupus, katagori SLE (Systemic Lupus Erythematosus) merupakan jenis yang paling berbahaya dan dapat mematikan. Lupus ini menyerang banyak bagian tubuh bahkan organ-organ vital. Penyakitnya bisa suatu saat membaik namun tiba-tiba kembali memburuk.

Hingga saat ini penyebab utama lupus belum diketahui meski penyakit ini sudah ditemukan lebih seabad lalu. Begitupun obatnya. Perawatan yang dilakukan di rumah sakit-rumah sakit sekarang masih bertujuan untuk kesembuhan sementara. Bukan sembuh total.

Sembilan puluh persen penderita lupus adalah wanita usia produktif. Pengetahuan yang mengagetkan saya. Bahkan terkadang ada yang menyebutkan lupus sebagai penyakit perempuan karena banyaknya pengidap dari golongan ini. Walaupun ada juga laki-laki yang menderita kelainan antibody ini.

Oh, Tuhan!

Percakapan masih berlangsung seru dengan topic yang berbeda-beda. Mulai dari penyakit sampai kuliah. Apa saja. Mengenang kembali masa enam tahun di asrama. Semoga kunjungan ini bisa sedikit menghibur Siti yang harus menjadikan rumah sakit Fakinah ini sebagai rumah sementaranya. Hingga ia harus berangkat dan pulang kuliah ke sini.

Waktu hampir menunjukkan pukul 16.00. Maida dan Faridha, yang rupanya tidak meminta izin pada orang tua mereka untuk ke Banda Aceh, mengajak pamitan. Berbagai harapan dan doa disampaikan pada Siti supaya tabah dan ibunya cepat sembuh.[]

Lam Ilie Ganto, February 27 2010.

sumber gambar: http://thetransferfactorindonesia.com/

No comments:

Post a Comment

Thanks for calling at ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...