Friday, June 25, 2010

MAAFKAN AKU, SAHABAT!

Pernahkah kau mempunyai sahabat, tapi kau merasa sebenarnya kau tidak punya?

Maksudku begini, kau punya seorang sahabat yang mengerti kamu, kalian sering bersama, memecahkan masalah bersama, dan dia selalu menjadi tempat yang pas buatmu untuk mencurahkan isi hati. Namun tiba-tiba, tanpa sebab yang kau ketahui dia mulai berubah, dan berubah sama sekali hingga kau merasa seakan dia itu musuh yang paling membencimu sedunia. Pernahkah kau mengalami hal seperti itu?
Aku pernah.

* * *

Aku baru saja hendak keluar dari kelas ketika seorang lelaki yang sangat aku kenal melangkah masuk. Kukira dia mencariku, tapi ternyata ia malah nampak terkejut mendapatiku di kelas. Ia hanya memandangku sekilas dan langsung keluar lagi. Ini sudah yang sekian kalinya dan aku sudah tidak tahan lagi.

Segera kuberlari menyongsong sahabatku dan menariknya ke taman sekolah. Ia duduk di atas bangku panjang sementara aku berdiri di depannya.

“Kenapa sih, sepertinya kamu begitu benci terhadapku? Seakan semua yang kulakukan itu salah dimatamu!” Kutumpahkan seluruh kekesalanku dengan membentaknya, tapi mukanya tenang saja.

“Memang itu salahmu, karena sikapmu.”

“Oya?” Aku tersinggung mendengar jawabannya, “karena sikapku katamu? Memangnya apa yang salah dengan sikapku? Dan bagaimana kau bisa menyalahkan sikapku?”

Dia menatapku lembut, rautnya tetap tak berubah. “Sikap seorang sahabat tidak seharusnya acuh-tak acuh,” ujarnya yang semakin membuatku berang.

“Lantas kenapa aku tak pernah mengeritik sikapmu? Aku simpan sendiri perasaan sakit hatiku akan sikapmu!” Aku bersikeras bahwasanya letak kesalahan ada padanya, bukan padaku. Aku mengambil tempat di sampingnya.

Tangannya memungut selembar daun yang gugur dari pohon akasia yang menaungi bangku panjang tempat kami duduk saat ini, meletakkannya di atas telapak tangannya. “Kita bersahabat,” katanya tanpa menoleh ke arahku, “harusnya kau menegurku kalau aku salah.”

“Aku sudah capek!” Balasku cepat “Yah… kita terkurung dalam ikatan suatu kata, persahabatan. Setiap orang punya gaya dan jalan sendiri dalam bersahabat.”

“Oya?” sahabatku menatapku takjub. “ Aku belum pernah mendengar sebelumnya.”

Perasaan kesalku mulai berkurang. Merasa bahwa aku selalu lebih cerdas darinya membuatku senang. Aku menjawabnya dengan lebih pelan. “Ya! Dan beginilah gaya persahabatan kita. Saling memalingkan muka kalau bertemu.” Aku menghentikan kataku dengan berpaling ke arah sahabatku yang kini menundukkan wajahnya dalam-dalam. “Kalaupun kita bicara, itu karena keadaan yang mengharuskan kita untuk bicara. Dan kita tidak akan membicarakan hal lain kecuali mempertanyakan persahabatan kita. Untuk mengisi keadaan yang memang tidak enak kalau tidak bicara.”

“ Kata-katamu berbelit,” selanya.

“Iya, namun kau memahaminya,” jawabku. “Jadi beginilah gaya persahabatan kita. Mau tidak mau kita harus menerimanya, kecuali kalau kita ingin yang lebih buruk.”

“Maksud kamu?” ia mendongak, matanya menatapku penuh tanda tanya.

“Tidak usahlah pakai embel-embel bersahabat, kalau untuk dikatakan berteman saja kita tidak layak.” Aku sengaja menggantungkan kata-kataku untuk memancingnya.

“Jadi?”

Nah kan !

“Jadi ya seperti ini! Anggap saja kita tidak pernah saling kenal hingga tak ada korban perasaan diantara kita.”

“Bukankah kita dilarang untuk memutuskan tali silaturahmi?” Tanyanya tanpa menatapku.

“Aku tidak meniatkan memutuskan, tapi kalo memang sudah tidak bisa…”

Kubuat muka semenyesal mungkin. Ia tercenung, hatiku bersorak. Yakin kalau gertakanku kali ini akan berhasil, dan dia kana kembali menjadi sahabatku yang dulu. Terbayang saat kami selalu bersama.

“Apa aku punya salah padamu?”

Lamunanku buyar. Apa katanya?

“Ya, kalau aku punya salah aku minta maaf.”

Oh..tentu saja, ini yang kutunggu dari tadi. Perasaan bersalahmu yang menyebabkan persahabatan kita hancur. Aku tergelak, dia tidak. “Begitu, aku juga!” kataku tersenyum.

Perlahan sahabatku bangkit, sepertinya ia akan beranjak. “Terima kasih,” katanya, “jadi sekarang kita seperti orang yang tidak saling kenal, tidak punya salah.”

Ia berhenti sejenak, aku penasaran menanti kelanjutannya.

“Sebenarnya berat bagiku untuk mengakhiri persahabatan kita, tapi…Selamat tinggal!” Ia berlalu.

“Apa??” aku terkejut mendengar salamnya. Apa dia menganggap gertakanku tadi serius? “Hei! Bukan begitu maksudku!” Sahabatku terus melangkah. Ia tidak menggubris panggilanku. Oh..Tuhan. Bagaimana ini? Aku tidak mau persahabatanku berakhir begitu saja.

Tolong aku Tuhan!

***

Pagi ini sebelum perjalanan dimulai aku berkunjung ke kelas sahabatku. Aku ingin minta maaf padanya. Seperti yang pernah kukatakan, aku sama sekali tidak bermaksud untuk mengakhiri persahabatan kami. Aku hanya mengertaknya supaya dia kembali menjadi sahabatku yang dulu. Tapi, hei..! aku tidak menemukannya di kelas. Sejak kemarin juga teleponku tidak dijawab, pesan singkat yang kukirim juga tidak dibalas.

Sahabatku, kau dimana??

***

Sudah seminggu sejak pertengkaranku dengan sahabatku itu, aku tidak pernah melihatnya lagi. Dia memang tidak sekelas denganku, aku memilih program ilmu alam sedangkan dia di ilmu sosial. Tapi aku sudah menanyakan pada beberapa teman yang sekelas dangannya dan mendapat jawaban bahwa dia memang bolos seminggu ini, tanpa alasan. Entah kenapa aku jadi cemas. Itu bukan kebiasaannya.

Baiklah aku akan bercerita sedikit. Awalnya hal yang membuat aku kesal dengan sahabatku itu karena dia mulai jarang menegurku. Yah…sejak kami beda kelas, kami jarang berkomunikasi. Padahal kelas kami bersebelahan. Kuakui, aku tidak suka melihatnya berteman dengan anak-anak yang sering mengusiliku dulu. Dalam pikiranku, dia itu sahabatku. Jadi seharusnya dia juga tidak berteman dengan orang yang tidak aku sukai.

Sejak saat itulah, entah siapa yang memulai, setiap kali bertemu kami akan berusaha untuk tidak melihat satu sama lain. Tidak jelas masalahnya apa, yang kutahu dia tidak pernah lagi mengucapkan selamat saat aku mendapat kemenangan dari perlombaan yang aku ikuti. Ketika aku mengabarinya dia hanya tersenyum sinis lalu beranjak pergi.

Padahal aku sering berniat untuk menyapanya. Aku sudah lama ingin menanyakan apa masalah yang terpendam di antara kami sehingga membuat kami jadi saling diam? Apa ada kesalahanku yang membuatnya enggan dan tidak senang terhadapku?

Tapi aku perempuan, dan aku tidak mempunyai keberanian yang cukup untuk menegur seorang lelaki yang telah mendiamkanku. Meskipun dia sahabatku sendiri.

Tanpa sengaja aku melihat ke luar kelas. Nampak sosok sahabatku di gerbang. Tapi apa benar itu sahabatku? Mengapa dia tidak berseragam? Aku menuju pintu kelas dan melihat jelas bahwa dia benar sahabatku. Hei! apa yang dilakukannya bersama Baron, siswa yang dikenal pembuat onar itu.? Sosok sahabatku acak-acakan. Dia, Baron, dan teman-temannya menaiki motor mereka, menggasnya keras hingga terdengar raungan yang memekakkan telinga, lantas mereka pergi.

Aku tercengang dan hanya bisa mengurut dada. Sahabatku, apa yang terjadi denganmu?
Hari-hari selanjutnya aku tidak pernah melihatnya lagi.

***

Hari ini mendapat kabar yang sangat mengejutkan. Betapa tidak, sahabatku dikeluarkan dari sekolah! Bagaimana aku tidak heran, siswa yang pernah menjadi siswa teladan ketika SMP itu kini tidak diterima lagi di SMA-nya.

Dengan penasaran aku segera menuju kelasnya, hanya ada seorang perempuan di sana, aku mendekatinya. “Hei..bagaimana ceritanya sahabatku bisa dikeluarkan dari sekolah? Memang apa kesalahannya?”

Perempuan itu menatapku tajam. “Itu gara-gara kamu!”

Aku tersentak. “Apa maksudmu? Selama ini bahkan kami sangat jarang bertemu, apa lagi bicara. Bagaimana kamu bisa mengatakan kalau ini salahku?”

Dia mendengus. “Di situlah letak kesalahanmu, karena kalian tidak bicara!”

“Hei..tunggu dulu! Itukan karena dia tidak pernah menyapaku, dan ketika sekali-sekali aku mengabari keberhasilanku dia tidak pernah menanggapi.”

Kini perempuan itu tersenyum sinis. “Ternyata benar yang dia katakan, kamu memang betul-betul egois!” dia diam sejenak, “kamu selalu memaksanya untuk mendengarkanmu, tanpa memberi dia kesempatan untuk menceritakan masalahnya. Kamu mau dia memahamimu, sementara kamu sendiri tidak pernah berusaha untuk memahaminya. Dia tersiksa olehmu!”

Aku tertegun mendengar kata-katanya. Segitu kah yang telah kulakukan pada sahabatku? Mengapa aku tidak menyadarinya?

“Kamu selalu meminta dia yang menyapa, dia yang menegur, tapi kamu sendiri tidak pernah melakukannya. Kamu mau tahu, kenapa sahabatmu itu bisa bergabung dengan Baron hingga dikeluarkan dari sekolah?”

Dia menatapku berang. Aku diam saja.

“Itupun gara-gara kamu! Awalnya dia hanya iseng saja mendekati mereka, sekedar untuk memancing reaksimu. Tapi kamu tidak pernah menanyakannya. Kamu terlalu sibuk dengan dirimu sendiri, sampai ketika dia mulai terpengaruh oleh mereka, kamu tidak juga menegurnya. Padahal dia selalu mengingatkanmu kalau kamu salah. Dan ketika dia sudah terjerumus semakin dalam, kamu malah memutuskan persahabatan kalian. Bagaimana dia bisa kembali lagi?”

Saat ini hatiku serasa digodam ribuan palu. Ternyata memang aku yang menyebabkan persahabatan kami hancur. Dia terjerumus ke dalam pergaulan yang salah juga karena menyadarkanku. Hhh…betapa aku telah benar-benar terbutakan oleh keadaanku.

Aku menatap perempuan yang duduk di hadapanku itu. “Sepertinya kamu tahu banyak tentang sahabtku. Apa kamu bisa memberi tahuku dimana sekarang dia berada?”

Kulihat dia menggeleng. “Aku tidak tahu,” ujarnya

Sebentar lagi jam istirahat usai. Aku keluar setelah mengucapkan terimakasih padanya. Sekilas aku seperti melihat bayangan sahabatku bersama Baron mengendarai motor mereka yang meraung keras dijalan. Aku berdiri.

“Sahabatku, tungguuuuuuuuuu!! Maafkan aku!”

Oemar Diyan, 29 Mei 2007

sumber gambar: http://madanma.files.wordpress.com/

No comments:

Post a Comment

Thanks for calling at ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...