Sunday, August 22, 2010

Di Laut Hatiku Terpaut


Aku masih di sini. Berdiri mematung di bibir pantai Ujong Batee. Kubiarkan saja riak-riak nakal si air asin menjilati kakiku. Sementara angin laut memainkan jilbab hitamku yang lusuh. Aku mengambil napas dalam-dalam. Menghirup aroma air berkandung garam yang selalu dapat membuatku tenang.

Entah kenapa, sejak dulu laut selalu menjadi tempat yang paling menyenangkan buatku. Aku selau berusaha singgah ke pantai kapan saja sempat. Ayahku adalah seorang nelayan berdomisili di Krueng Raya. Laut menjadi tempat kumengadu ketika dulu aku dimarahi ayah karena merebut mainan adik. Laut juga yang menjadi pelarianku saat ada sesuatu yang membuatku harus mengeluarkan air mata, seperti waktu ibuku pergi untuk selamanya lima tahun lalu. Pun saat ini, laut juga yang menjadi tempat peluapan kegembiraanku karena berhasil lulus dengan NEM terbaik untuk SMA-ku. Laut telah menjadi bagian dari kehidupanku.

Dulu aku pernah diajak ayah ketika beliau melaut pada siang hari. Ketika itu ibuku melarang keras, katanya tidak baik anak perempuan ikut ayahnya melaut. Tapi aku bersikeras. Akhirnya ibu mengizinkan. Aku sangat senang sampai-sampai berjanji akan mencuci bajuku dan baju adikku. Padahal waktu itu aku baru kelas tiga SD.

Aku tidak pernah bisa melupakan pengalaman melautku yang pertama sekaligus terakhir itu. Saat aku melihat betapa laut sebenarnya sangat luas. Ketika kami tiba di tempat kapal penyeberangan Gurita tenggelam, langit yang semula cerah telah berubah mendung. Semenit kemudian badai menjelang. Ayahku yang panic segera membalikkan perahu tua ke arah pantai. Aku apalagi. Mungkin kalau waktu itu aku tidak bersamanya ayahku tidak akan sepanik itu.

Akhirnya kami selamat sampai di pantai dan pulang ke rumah dengan basah kuyup. Ibuku cemas sekali dan menyalahkan ayahku. Sejak saat itu aku tidak diizinkan lagi ikut ayah.

Aku masih di sini. Berdiri mematung sambil mengeluarkan senandung kecil dari bibirku. Kurentangkan tanganku lebar. Menyilakan semilir angin memasuki celah baju dan membelai tubuhku lembut.

Kecintaanku pada laut diuji saat tiga tahun lalu sebuah bencana mahadahsyat melanda negeriku. Semua orang menyalahkan laut yang telah memuntahkan sebagian airnya hingga melumat hampir separuh negeri. Termasuk rumahku yang memang berada di pesisir. Waktu itu rumah kosong. Ayah dan adik sedang ke bukit mencari kayu bakar. Sedangkan aku menginap di rumah nenek di Indrapuri. Dua hari setelah bencana ayah tiba di Indrapuri. Ayah bercerita bahwa setelah gempa terjadi dari atas bukit ia melihat air berdiri membentuk tembok di tengah lautan.

Ketika itu semua orang takut pada laut. Semua orang membenci laut. Namun aku ingin segera kembali ke Krueng Raya. Aku rindu laut. Aku ingin melihat keadaannya kala itu.

Bencana itu telah berlalu hampir tiga tahun. Dan aku tahu bahwa itu sama sekali bukan salah laut. Adapun kerusakan parah terjadi salah satunya karena tanaman bakau yang menjadi penghalang air laut telah ditebang, disamping hal itu memang sudah kehendak Tuhan. Tidak ada yang perlu aku sesali. Termasuk rumahku yang hancur telah dibangun kembali oleh para pemberi bantuan. Kecuali mungkin kuburan ibu yang telah menyatu dengan laut.

Aku masih di sini. Berdiri mematung sambil menatap bangga ke laut lepas. Matahari senja hampir tenggelam. Membuat kaki langit memerah sangat indah. Sebuah perahu nelayan mendekat ke pantai. Seorang lelaki tua di atasnya melambaikan tangan. Aku balas melambai. Ayahku telah pulang.[ ]

Indrapuri, 2007

(Alhamdulillah, cerpen ini mendapat juara kedua pada lomba menulis cerita pendek Muslim Aid katagori SMA yang diumumkan 30 Desember 2007.)

Thursday, August 19, 2010

...................................














Sitting there contemplating....



(Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan???)

(QS Ar - Rahman: 13)

Idea.... Where are you???

Hfff...
Lagi lagi seperti ini,
pas ada tugas, giliran si ide yang diperlukan tak datang, hhh...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...