Tuesday, March 22, 2011

KEKUATAN SEPOTONG DOA


Siapa saja yang senang mempelajari suatu bahasa, tentunya bukan hal yang aneh jika mereka memiliki keinginan untuk berkunjung ke tempat bahasa tersebut dipergunakan. Karena semua orang mengetahui, cara terbaik untuk mempelajari suatu bahasa adalah dengan datang dan hidup di tengah masyarakat yang berbicara dengannya.


Demikian pula halnya saya. Sebagai mahasiswi yang sedang menimba ilmu di Jurusan Bahasa Inggris, sudah menjadi cita-cita yang lama terpendam untuk dapat menginjakkan kaki ke benua Eropa, Amerika, atau pun Australia. Di mana mayoritas negaranya menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa nasional. Bagi saya yang berasal dari keluarga dengan keadaan ekonomi yang ‘berkecukupan’ –tidak berlebih- satu-satunya cara untuk mengejar cita-cita tersebut adalah dengan mencari beasiswa.

Bermula dari ajakan seorang teman, saya pun mengurus berkas-berkas untuk program Global Undergraduate, semacam short course yang diselenggarakan oleh Aminef. Mulai dari pengisian formulir, transkrip nilai, reference letter, sertifikat TOEFL, dan lain sebagainya saya persiapkan dan saya kirim ke Jakarta hanya empat hari sebelum deadline. Padahal saya telah mengetahui tentang program tersebut sejak hitungan bulan sebelumnya.

Tidak ada harapan berlebih. Saya hanya mencoba peruntungan. Belum tentu pun berkas saya tiba sebelum deadline. Karenanya saya langsung berusaha untuk lupa pernah mengajukan aplikasi beasiswa. Meskipun, tentu saja, dalam doa saya tetap memohon yang terbaik kepada Allah. Namun saya adalah orang yang cenderung menghindari resiko: tidak berharap terlalu banyak karena takut terlalu kecewa.

Alhamdulillah. Tidak sampai seminggu setelah deadline kabar gembira itu tiba. Berkas aplikasi yang saya kirimkan berhasil melewati tahap penyeleksian. Saya pun mendapat panggilan wawancara di Jakarta. Segera setelah mendapatkan e-mail pemberitahuan, saya menyampaikan berita gembira tersebut kepada orang tua. Ayah menyambut antusias dengan hamdalah yang terus terucap. Ibu hanya tersenyum kalem. Yes! Sebentar lagi cita-cita jangka pendek saya akan terwujud: naik pesawat gratis.

Selain saya, ada lagi dua orang mahasiswa undergraduate yang ‘lolos’ seleksi administrasi dari Aceh. Keduanya berasal dari jurusan yang sama dengan saya, termasuk teman yang mengajak saya dan seorang abang leting. Maka pada hari yang ditentukan, berangkatlah kami dengan tiket yang telah dipesan oleh penyedia beasiswa. Perjalanan menuju negeri Paman Sam memang masih harus melalui beberapa tahap penyeleksian. Tapi itu tidak mengurangi rasa senang saya. Karena yang penting adalah apa yang saya capai sekarang, sekali lagi, naik pesawat gratis. Perkara lulus wawancara urusan belakangan. Masih ada sedikit waktu untuk mempersiapkannya.

Kenyataannya, wawancara berlangsung santai dengan penguji yang –mungkin memang tipikal orang barat- membuka percakapan dengan candaan sehingga yang diujinya menjadi rileks. Pertanyaan seputar personal statement, manfaat yang akan diberikan short course untuk karir masa depan, dan sebagainya dialihkan dalam bentuk obrolan ringan. Tidak ada kesan menegangkan, kecuali bahwa mereka sesekali melihat berkas dan menulis sesuatu di notesnya yang mengingatkan untuk apa saya berada di sana.

Demikianlah, segera setelah keluar dari ruang ‘persidangan’ tersebut saya kembali ke prinsip awal saya: tidak berharap terlalu banyak. Sebenarnya saya memang sudah bersiap untuk gagal. Karena firasat tidak mengatakan saya akan melangkah ke tahap berikutnya. Artinya, saya mengharapkan yang terbaik menurut saya –lulus- dan mempersiapkan untuk hal terburuk menurut saya –tidak lulus-.

Kembali ke Serambi Mekah saya tetap mempersiapkan diri untuk hal terburuk. Apalagi sudah ada indikasi untuk itu. Beberapa teman telah dihubungi dan ditanya ini-itu oleh pihak Aminef, sedangkan saya tidak. Meskipun itu tidak lantas mengartikan mereka akan lulus, saya sudah bisa menebaknya. Ibaratnya mengetahui adanya banjir sebelum ia terjadi, saya sudah membangun bendungan  pertahanan jauh-jauh hari sebelumnya.

Berbeda dengan keputusan seleksi tahap pertama yang segera setelah deadline, keputusan tes tahap kedua ini mengambil waktu lebih lama lagi. Hingga akhirnya pengumuman itu keluar, saya yang memang telah punya firasat akan gagal sudah tidak terlalu down lagi.

Saya kecewa, tentu saja, mengingat kedua teman saya mendapatkan panggilan untuk seleksi selanjutnya sedangkan saya tidak. Hal pertama yang terlintas tentang penyebab kegagalan adalah bahwa saya tidak cukup memenuhi kualifikasi, I’m unqualified. Hal kedua adalah bahwa inilah jawaban atas doa saya, tidak lulus adalah hal yang terbaik bagi saya. Hal ketiga, dalam rangka menghibur diri, saat ini bukanlah waktunya. Saya akan sampai pada saatnya ketika keberhasilan itu adalah milik saya dan cita-cita itu akan terwujud. Masih banyak kesempatan, tenang saja.

Saya mengucapkan selamat kepada kedua teman dan mereka membalasnya dengan menghibur saya. “How are you, Khaira? I know how it feels. I’m sure you’ll make it next year.”[i] Begitu kira-kira pesan singkat yang dikirim seorang teman. Saya balas, “I’m OK… J I’m not so desperate, believe me, I’ve prepared myself for it.”[ii] Lagi-lagi dalam upaya menegarkan diri.

Seperti halnya kabar gembira, kabar yang tidak gembira ini juga saya sampaikan kepada orang tua. Ayah langsung menghibur, sedangkan ibu tidak banyak bicara. Saya pun berusaha secepat mungkin melupakannya. Hingga beberapa hari setelah keputusan itu, kakak sepupu saya menanyainya. Saya langsung mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran. 

Tapi kemudian ibu menyambungnya, “Nyan hana luloh kon peu, Mak lakee du’a bek luloh. Jioh that…”[iii] kata ibu sambil menatap saya.

Saya serta merta terperangah. Speechless. Jadi itu factor penting yang sama sekali tidak tidak terlintas di kepala saya. Saya tidak mendapat ridha ibu. Sama sekali tidak terduga. Mengingat ibulah yang bersemangat mempersiapkan keberangkatan saya ke Jakarta, ibu yang memasukkan pakaian saya ke dalam tas. Saya tak menyangka kalau sebenarnya ia tidak rela.

Memang ketika saya mengutarakan niat untuk ikut tes, ibu menyuruh saya untuk meminta izin dari ayah. Setelah mendapat restu ayah saya tidak lagi menanyakan pendapatnya karena mengira mereka tentunya sependapat. Ternyata saya salah.

Walaupun tiga hal yang ada dalam pikiran saya mungkin saja menyebabkan saya tidak lulus, tapi saya yakin bahwa porsi terbesarnya diisi oleh doa ibu yang tidak menginginkan saya jauh. Memang bertahun lalu ibu pernah mengatakan tidak akan mengizinkan saya untuk pergi dan menetap di luar negeri dalam waktu yang lebih dari sebulan. Tapi itu sudah lama dan saya kira pendiriannya telah berubah. Ternyata tidak. 

Saya belajar banyak hal dari pengalaman itu, yang membuat saya ingin membaginya. Saya lupa memohon ridha orang tua, terutama ibu, sebelum saya mengharap ridha Allah. Padahal sudah jelas-jelas saya mengetahui bahwa keridhaan Allah terletak pada keridhaan kedua orang tua. Karena pengalaman itu juga, saya jadi terbiasa untuk tidak menggantungkan cita-cita terlalu tinggi sehingga saya akan hancur jika terjatuh karena gagal mencapainya. Mungkin sebagian orang tidak akan setuju dengan prinsip saya, tapi itu bukan masalah. Dan tentu saja, mempersiapkan diri akan hal terburuk yang mungkin terjadi dengan tetap mengharapkan hal terbaik. Saya rasa hal ini yang membuat saya tidak ambisius dan terlalu optimis: saya takut kecewa. Satu lagi yang tak kalah penting: kediaman seorang wanita tidak selamanya berarti ia setuju.. 

Kata ayah, kalau saya masih ingin belajar di luar, hal pertama yang harus saya lalukan selain mempersiapkan diri adalah bahwa saya harus merayu ibu untuk mendapat doa restunya. Karena ayah mengizinkan saya untuk ke mana saja, asal saya bisa jaga diri. Dan sepertinya saya memang masih harus terus membujuk ibu untuk waktu yang lama. Mengingat beberapa jam sebelum saya menyesaikan tulisan ini, ketika saya mengungkapkan keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, ibu langsung menyahut, “Asal jangan di luar (negeri),” Oh My Beloved Mom….

“Home is where the heart is”
                                                                      Home Sweet Home, March 22 2011 00.29 AM


[i] “bagaimana kabarnya Khaira? Saya tahu bagaimana rasanya. Saya yakin kamu akan lulus tahun depan.”
[ii] “Saya baik-baik saja. Saya tidak putus asa kok, percaya saya sudah mempersiapkan diri untuk itu.”
[iii] “Itu tidak lulus karena Mak berdoa untuk tidak. Terlalu jauh..”

6 comments:

  1. Keep trying to persuade your mom, Chaira. I hope your mom change her mind and support you to give shape your wish to go to foreign hehehe.
    Goodluckkkkkk :)

    ReplyDelete
  2. Ameen...
    Yup, thank you, bg.. :)

    ReplyDelete
  3. Salam kenal mbak,:)
    nama saya wahyu,saat ini saya berada di semester 5,
    dan saya berniat utk mengikuti program UGRAD,
    jika mbak berkenan dan memperbolehkan, saya ingin meminta contoh pengisian formulir dan bentuk dari reference letter. . .
    mohon balasannya,
    terima kasih..:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal juga..
      Boleh saja, kebetulan masih ada file-nya :)

      Delete
  4. wahhh :D
    terima kasih banyak,:)
    nggak nyangka dapat balasan secepat ini,
    sekali lagi terima kasih mbak..:)
    sebelumnya maaf merepotkan mbak,
    tlong share filenya ke uyuy_hebat@yahoo.co.id
    Oh..ya mbak,ad alamat facebook nggak?
    nanti klo ak mau nanya2 bsa lebih mudah,
    terima kasih lagi mbak..:)
    maaf sudah merepotkan...

    ReplyDelete
  5. makasih mbak,
    emailnya udah sampe..:)
    ak jga udah follow fbnya..:)

    ReplyDelete

Thanks for calling at ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...