Tuesday, March 22, 2011

MENULIS, MENGGAMBAR RASA DAN PIKIRAN


 Jika hendak mengungkapkan isi hati dan pikiran, ada dua cara yang paling sering digunakan manusia: berbicara dan menulis. Berhubung tidak begitu mahir dalam hal merangkai bahasa lisan, aku lebih memilih opsi kedua.


Sebenarnya kesenanganku menulis itu berasal dari rasa sukaku akan bacaan. Sedari kecil aku disuguhi banyak buku oleh orang tua. Yang paling menarik, tentu saja, buku cerita. Dengan modal itulah aku mulai mencoba menuliskan apa pun yang terlintas dalam pikiran. Tulisan pertama yang aku ingat adalah ketika mendapat tugas mengarang dari guru bahasa Indonesia saat masih di Madrasah Ibtidaiyah. Sejak itu aku mulai senang mengisi waktu dengan menulis.

Bagiku, menulis merupakan sarana yang sangat sering membantu ketika hendak mengingat sesuatu, bercerita, atau mengeluh. Saat kesulitan mencari pendengar yang baik, aku selalu berpaling pada pena dan kertas. Dua benda mati yang dengan pasrahnya bersedia menampung goresan tanganku. Lantas bebanku terasa lebih ringan meski tidak ada solusi yang diutarakan mereka. 

Pada awalnya aku senang menggoreskan isi hati berupa coretan-coretan tak karuan yang dalam hitungan jam akan berpindah tempat ke dalam keranjang sampah. Itu kegiatanku saat kesal, jenuh, atau ketika pikiranku kacau. Menulis untuk menyegarkannya kembali. Untuk yang lebih seriusnya aku menulis fiksi dan puisi dikarenakan bacaan yang kukonsumsi pun kebanyakan tentang hal itu. Tapi sejak berstatus mahasiswa, aku mulai menyukai menulis laporan tentang suatu hal. Artikel nonfiksi pun kini aku gemari. Tapi tetap saja, aku lebih memilih dua bentuk yang kusebut pertama. Alasannya sederhana, aku bisa lebih bebas berekspresi dengan imajinasi.

Soal keyakinan, dari dulu aku yakin bisa menulis. Kalaupun tidak untuk konsumsi public, aku cukup bisa menghilangkan penatnya pikiran dengan menumpahkan isinya di atas kertas. Meskipun demikian, tidak jarang ada tulisan yang tidak memuaskan diriku. Ketika itu terjadi,  tindakanku adalah membongkar kembali apa yang telah tersusun dan mencoba menemukan celah yang perlu dan dapat diperbaiki. Aku tidak pernah takut gagal menjadi penulis. Karena bagiku, aku adalah penulis untuk diriku sendiri.

Sebagai sandaran, tidak ada penulis maupun buku yang sangat memotivasiku. Aku tipe orang yang tidak banyak menyenangi sesuatu dengan tingkatan ‘paling’.  Meskipun begitu aku menyenangi tulisan Asma Nadia. Aku suka kepiawaiannya mengangkat tema-tema sederhana menjadi cerita menarik. Kalau ditanya ingin jadi penulis seperti siapa, aku ingin menjadi sepertinya. Sedangkan buku yang mempunyai kesan bagiku adalah The Alchemist karangan Paolo Coelho. Caranya mengisahkan banyak hal dalam perjalanan mengikuti mimpi cukup mengesankan. Tak mungkir aku berharap bisa seperti itu.

Bicara mengenai kedisiplinan, aku menulis saat ingin dan perlu, dan berhenti ketika tidak. Hanya keadaan dan kemauan yang mempengaruhi pola itu. Padahal, tidak ada cara lain untuk bisa menulis selain menulis itu sendiri. Banyak buku motivasi menulis yang kubaca. Semuanya berisi saran dan anjuran untuk menggoreskan pena saat itu juga. Dimulai dengan menulis apa yang ada di pikiran, bukannya memikir apa yang akan ditulis. Karena itu, sedikit banyaknya aku sadar kenapa kemampuan menulisku tidak juga berkembang.

Aku tidak pernah benar-benar bercita-cita ingin menjadi penulis, ataupun hendak menjadikan menulis sebagai profesi. Namun demikian, tidak berarti aku tidak serius melakoni kegiatan ini. Hanya saja masih ada hal yang lebih menjadi prioritas untukku saat ini. Ada hal wajib yang aku harus benar-benar bertanggung jawab atasnya, pendidikan formalku.

Karena jauhnya jarak antara pendidikan yang sedang kujalani dengan jenis tulisan yang kusukai, mungkin sampai nanti pun, kegiatan menulis akan tetap menjadi satu hal yang paling aku senangi tanpa berani berharap lebih. Aku ingin jadi penulis, tentu saja. Tapi aku bukanlah seorang yang ambisius. Tidak jadi masalah kalau aku tidak pernah dikenal sebagai penulis. Tak mengapa jika hasil karyaku tidak dibaca banyak orang. Karena setiap kali menyelesaikan satu tulisan aku merasa senang. Sebab tulisan mempunyai arti yang besar untukku. Asal bisa tetap menulis, paling tidak untuk diri sendiri, itu saja sudah cukup bagiku.
                                                                                                       
     10102010 02.46. a.m.

4 comments:

  1. Salam ijin simak lagi Mbak di artikel yang menrik ini
    Menggambar kan sesuatu, di balik tirai dari goresan pena
    seakan jauh, artikulasi tulisan Mbak ini, saya berpikir
    Mbak ini termasuk orang yang sangat berkeinginan yang
    Sangat bercita-cita besar,. duh maaf bukan memuji ini hanya
    Berangan-angan saja. salam sukses yah Mbak..?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Whehe.. silakan disimak. Artikel yang laen juga boleh kok^^
      sala sukses kembali.. ada waktu datang lagi yaa..

      Delete
  2. Mohon ijin Follow blog nya Yah Mbak..?
    Kalau gak keberatan demi menjalin tali silaturahmi
    Antar blog berjalan sangat alami, diantos Follow back
    Terima kasih salam sukses setiap hari.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Silakan mas, insya Allah ntar saya follow back
      salam sukses jg yaa

      Delete

Thanks for calling at ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...