Tuesday, March 22, 2011

MY TWO HEROES


Ketika hendak menulis tentang orang terdekat, pikiranku langsung tertuju pada dua orang yang paling berjasa dalam kehidupanku: orang tua. Ya, menurutku mayoritas orang memiliki pendapat yang sama bahwa ibu-bapak merupakan sosok yang paling berpengaruh di setiap tarikan napasnya selama di dunia. 


Sebagai anak tertua, aku sangat dekat dengan orang tuaku. Malah terkadang aku terkesan lebih manja dari pada adikku. Meski rasanya aku lebih dekat kepada ayah, tapi sesuai hadits Rasulullah SAW yang menyatakan ibu lebih berhak mendapat penghormatan tiga kali lebih dari ayah maka pertama sekali aku ingin menceritakan tentang ibuku. 

Namanya Ainul Wardah. Ibuku adalah wanita paling cantik di dunia, menurutku. Ia adalah wanita rumahan yang menikah dalam usia muda, baru tamat Madrasah Aliyah. Aku dilahirkan setahun kemudian. Jarak usiaku dan ibu tidaklah lebih dari dua puluh tahun. Rupa kami pun tidak jauh berbeda. Tidak seperti pinang yang dibelah dua, sebab aku juga memiliki guratan wajah ayahku. Namun demikian, orang yang baru mengenal kami akan menyangka ia adalah kakakku.

Selera ibu dan aku sama dalam banyak hal, terutama pakaian. Setiap hendak bepergian aku akan membuka lemariku lebar-lebar dan berseru kepadanya, “Lihat lu Mak… kakak pakai baju apa?” setelah itu ia dan adik-adik akan menggodaku, “Lihat tu si kakak! Selalu tanya baju sama mamak. Ntar kalo di kost tanya sama siapa kak?” biasanya aku hanya merengut diganggu begitu. 

Mungkin karena usianya lebih muda dari ayah, ibu agak sulit mengerti aku yang remaja. Sehingga setiap punya masalah, aku akan lebih leluasa bercerita pada ayah. Namun seiring aku tumbuh dewasa, banyak hal baru yang aku pahami. Aku pun jadi lebih dekat dengan ibu sebab mengerti alasannya melarang-larangku dulu. Ia menjadi lebih pengertian menurutku. 

Sekarang aku akan mengisahkan sosok lain yang membuat hidupku lengkap: ayah.

Ayahku adalah lelaki terhebat yang pernah kukenal. Ia bernama Drs. A. Hadi YS, seorang pekerja keras yang pantang berpangku tangan. Selain pekerjaan utamanya sebagai kepala sekolah suatu SMP di kecamatanku, ayah juga seorang petani dan peternak. Ia memiliki berapa kebun di berbagai topografi. Mulai dari kebun rambutan yang berada di daerah lhok, kebun aneka guna yang berada di daerah pemukiman, hingga ladang tanaman yang berada di cot dan glee, dua wilayah yang topografinya lebih tinggi lagi.

Setiap pagi, sehabis shalat subuh di masjid ayah akan pergi ke cot untuk memberi makan sapi ternakannya. Kemudian beliau berangkat ke sekolah. Pulang sekolah ayah akan pergi ke kebun atau memotong rumput untuk makanan sapi. Sorenya, lelaki terhebat ini akan kembali ke cot untuk mengandangkan ternakannya sebelum magrib. Sedangkan malamnya setelah Isya, ayah akan mengerjakan tugas-tugasnya sebagai sekretaris gampong. Hampir tidak ada masa baginya untuk berleha-leha.

Karena ibu tidak bekerja, maka seutuhnya yang menjadi tulang punggung keluarga kami adalah ayah. Dengan usahanya yang tak kenal lelah itu, Alhamdulillah ayah berhasil menjadikan asap dapur kami tetap mengepul dan mampu membiayai studiku hingga perguruan tinggi saat ini.

Meskipun sibuk, tidak berarti ayah melewatkan waktu memperhatikan kami anak-anaknya. Dulu, sebelum aku punya sedikitpun penghasilan sendiri, jika menginginkan sesuatu aku akan minta pada ayah. Dimulai dengan kalimat, “Ayah, kalau ada rezeki…” aku mengutarakan keinginanku. Beliau selalu mengiyakan. Aku tahu lelaki paruh baya itu berusaha sekuat tenaga untuk memenuhinya. Contohnya saat aku ingin memiliki handphone dan bersikeras untuk membelinya dengan uang yang kudapat hasil dari memenangi perlombaan, ayah melarangku. Berjanji ia yang akan membelikan. Uangku itu ditabung saja, katanya. 

Beliau adalah sosok yang demokratis. Anak pertamanya memang perempuan, tapi tidak pernah melarangku melakukan hal yang biasanya disenangi laki-laki. Tentu saja selama hal tersebut masih wajar dilakukan (ayah tidak akan mengizinkan aku yang hobi manjat ini untuk menaiki batang kelapa). Yang termasuk ‘hal wajar’ itu adalah menonton bola. Maka saat piala dunia 2010 berlangsung ayah dengan senang hati membelikanku cemilan untuk begadang. Jika beliau tidak sempat nonton, tanpa ragu akan menanyakanku hasil pertandingannya. Mungkin ini adalah akibat dari anak laki-lakinya belum cukup umur untuk diajak menghadapi televisi semalaman.

Ya… itulah sekilas ceritaku tentang dua pahlawan dalam hidupku. Terlalu banyak kata untuk menjelaskan jasa mereka. Tapi sedikit yang telah tertuang cukuplah kiranya mewakili yang belum terungkap.

Khairatun Hisan
Sat/Aug 28 2010 10.34 a.m

2 comments:

Thanks for calling at ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...