Monday, July 18, 2011

DAUN YANG JATUH TAK PERNAH MEMBENCI ANGIN

Judul          : Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin
Penulis       : Tere-Liye
Penerbit     : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal          : 256 halaman

Sebelum ini, saya sudah membaca buku Tere-Liye lainnnya yaitu Rembulan Tenggelam di Wajahmu dan Hafalan Shalat Delisa. Berbeda dengan dua novel tersebut yang menceritakan tentang makna kehidupan, Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin menyuguhkan cerita cinta tak sampai. Seorang remaja yang mencintai malaikat pelindungnya. Sebuah cinta yang sulit namun mungkin saja disatukan.


Danar bertemu tanpa sengaja dengan dua orang pengamen cilik dalam sebuah bus kota, Tania dan Dede. Sejak itu, ia yang sebatang kara sejak kecil menjadi akrab dengan mereka dan ibunya. Bahkan menganggap sang ibu sebagai orang tuanya sendiri dan membiayai sekolah anak-anak yatim tersebut. Persaudaraan itu berlanjut hingga mereka dewasa.

Ini kisah cinta tidak biasa yang mendasari keputusan berbuah penyesalan. Tidak ada yang dapat memaksakan soal cinta. Cinta memang dapat jatuh kepada siapa saja. Ia juga tak selamanya harus diutarakan. Namun ada kalanya keterusterangan dapat menyelesaikan beragam masalah. Sehingga tidak ada penyesalan di penghujung kisah.

Seperti biasanya, Tere-Liye mengisahkan ceritanya dengan lugas dan bahasa sederhana yang mudah dipahami. Sama dengan kesan setelah membaca dua novel yang saya sebutkan di muka, kisah ini juga mampu meneteskan air mata saya. Sang penulis cukup pandai meramu kata yang dapat meluluhkan hati. Satu kata untuk novel ini: bagus! Saya bahkan searching gambar pohon linden dan lagu noma-nomae yang disebut di dalamnya.

“Hello, hello, it’s me, Picasso, I sent you a beep, and I’m brave. But you should know that I’m not asking for anything from you.I love this sentence… ^_^

2 comments:

  1. Baru pertama kali baca resensinya. Moga berikutnya segera novelnya...

    ReplyDelete

Thanks for calling at ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...