Tuesday, July 12, 2011

MIMPI, SUMBER ENERGI DAN INSPIRASI



Judul               : Sang Pemimpi
Penulis             : Andrea Hirata
Penerbit           : Bentang Pustaka (cetakan ke-19 Mei 2008)
Tebal               : 288 halaman

Mimpi. Kata berhuruf lima dan bersuku dua ini merupakan inti dari kehidupan masyarakat Melayu pedalaman. Yang membuat mereka masih bisa berdiri tegak menyongsong hari esok. Setidaknya inilah yang diungkapkan Arai, salah satu tokoh dalam buku ini. Arai yang merupakan sepupu jauh Ikal, tokoh utama, adalah sang pemimpi sejati. Tidak pernah ia merasa putus asa. Baginya, mimpi adalah satu-satunya hiburan dalam hidupnya yang sebatang kara. “Orang seperti kita tidak punya apa-apa kecuali semangat dan mimpi-mimpi. Tanpa mimpi, orang seperti kita akan mati…” Itulah  kata-kata yang membuatnya selalu tegar hingga ia berhasil meraih mimpi yang menjadi sumber energi tersebut.

Bagi yang telah membaca buku Laskar Pelangi, maka cerita di buku ini bisa dikatakan sebagai episode lain kehidupan Ikal. Jika buku pertama menceritakan suka-duka sepuluh anak Belitong yang bersekolah di SD Muhammadiyah maka buku ini mengisahkan masa remajanya. Dengan Magai dan SMU Bukan Main sebagai setting utama, buku kedua tetralogi Laskar pelangi ini menggunakan tokoh-tokoh baru yang tidak disebut dalam buku sebelumnya. Seperti juga anggota Laskar Pelangi yang memiliki keunikan, tokoh di buku Sang Pemimpi pun memiliki karakteristik tersendiri. Sebut saja Arai, Simpai keramat yang kepalanya dipenuhi ide-ide gila. Jimbron, teman sekontrakan yang keranjingan pada kuda. Pak Balia, kepala sekolah yang sangat memperhatikan kualitas sekolahnya, serta Pak Mustar, wakil kepala sekolah yang cepat naik darah.
Dalam buku ini, Andrea meramu kisah-kisah masa remaja yang penuh gejolak. Andrea menceritakan hiruk-pikuk Belitong dari sudut pandang rakyat jelata yang selalu membanting tulang untuk mendapatkan sesuap nasi. Begitu pula dengan para tokoh utamanya. Pembaca dapat mengetahui kekuatan mimpi yang membuat Ikal, Arai, dan Jimbron sanggup bangun dini hari untuk bekerja. Bagaimana anak-anak Melayu tersebut bekerja sebagai kuli ngambat demi membantu orang tua dan bisa tetap bersekolah. Bangun jam dua pagi untuk mengangkutl ikan hasil tangkapan nelayan dan membawanya ke stanplat agar bisa diserbu ibu-ibu paginya. Mereka tidak memiliki apa-apa kecuali mimpi.  Mimpi untuk tetap melanjutkan sekolah dan kuliah di Universitas Sorbonne yang secara kasat mata sangat mustahil diwujudkan. Para pemimpi ini tetap optimis meski peluang mereka begitu kecil.
Namun meskipun penuh semangat pada awalnya, rasa pesimis pernah menghinggapi Ikal saat membayangkan nasibnya setelah tamat akan sama dengan teman-temannya yang tidak sekolah. Karena itu ia mempersembahkan kursi nomor 75 untuk ayahnya saat pembagian rapor. Tapi ayahnya tetap melakukan ritual seperti biasa sebelum mengambil rapornya, tetap memakai baju safari bersaku empat, tetap tersenyum dan bangga padanya,  sama seperti saat Ikal masih duduk di garda depan. Karena kesalahan itu ia terpuruk ke dalam penyesalan. Arai kembali memompa keyakinannya bahwa tidak ada seorang pun yang bisa mendahului takdir. Mimpi itu pun kembali hidup. Sangat bertolak belakang dengan semangat belajar remaja masa kini yang rendah. Padahal  tanpa perlu bersusah payah bekerja seluruh fasilitas untuk mereka telah tersedia. 
 Layaknya remaja pada umumnya, hari-hari Ikal juga diselingi kenakalan-kenakalan. Misalnya saja pada awal buku ini, pembaca disuguhi kisah kejar-kejaran antara Ikal, Arai, dan Jimbron dengan Pak Mustar dan penjaga sekolah yang berakhir dalam peti es tempat penyimpanan ikan milik Capo Lam Nyet Pho. Kenakalan ini berpuncak pada saat tiga remaja tersebut menyusup masuk ke bioskop yang merupakan kawasan haram bagi pelajar. Aksi mereka ketahuan, akibatnya mereka dipermalukan habis-habisan oleh Pak Mustar di depan seluruh civitas akademika SMA Bukan Main.
Kelebihan buku ini terletak pada gaya bahasanya yang ringan dan mudah dipahami. Alurnya yang maju-mundur juga menarik untuk diikuti. Sebagaimana buku sekuelnya Laskar Pelangi, dalam Sang Pemimpi Andrea masih tetap memakai lelucon-lelucon kecil yang membuat cerita menjadi lebih segar dan renyah. Contohnya teori ibunda Ikal bahwa penyakit gila ada empat puluh empat macam, tetap dilanjutkan pembahasannya di buku ini. Atau saat ia menceritakan tokoh Arai yang seperti orang kebanyakan yang kampungan. Alhasil, pembaca akan tersenyum sendiri saat membaca.
Namun bagi para penggemar anggota Laskar Pelangi mungkin akan agak kecewa karena buku kedua ini sama sekali tidak membahas sepuluh anak tersebut. Andrea hanya menyinggung Mahar dan Lintang sebagai sahabat masa kecilnya yang tidak beruntung. Tidak ada cerita tentang menjadi apa mereka pada saat SMA. Seakan-akan Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi merupakan dua buku yang sama sekali tidak berhubungan. Mungkin hal ini memang disengaja untuk mengisahkan episode baru kehidupan Ikal.[]

No comments:

Post a Comment

Thanks for calling at ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...