Tuesday, July 26, 2011

MY EM DUA KA QI JOURNEY (PART II)


Assalamu’alaikum...

Selamat pagi, selamat menikmati hari, selamat mewujudkan mimpi serta selamat mensyukuri karunia Ilahi.. :)

Terima kasih sudah mampir dan menyempatkan diri mengunjungi dunia sunyi ini. (Maaf, agak berbasa-basi, sedang merangkai kata dalam imaji)

OK, thank you for being with me in the first part of my em dua ka qi journey. Let’s  continue our journey by Basmalah.

Setengah tahun setelah  MTQ Aceh Besar, tepatnya February 2011 saat aku sedang mengurus KRS di IAIN Ar-Raniry, my beloved mom phoned me. Ada surat panggilan TC, katanya. Aku santai saja. Toh, sebelumnya sudah dua kali ikut TC untuk provinsi tapi tak terpilih juga. Jadi tak terlalu berharap. Paling tidak, dana transportnya cukup untuk photo copy bahan kuliah, pikirku senang :)


TC seleksi diadakan selama 6 hari dalam dua minggu di Permata Hati Training Center and Guest House.  Saat itu kembali aku bersua dengan kak Nabila, Isna, dan bang Marthunis. TM dan Ismu sudah hijrah ke kabupaten lain (Isna pun akhirnya mewakili  Pidie.) Ketika memasuki ruang, aku disambut dengan meja tempat berdiamnya enam (buah) mesin tik. Wow! Aku datang dengan kepala kosong. Apa yang mau ditumpahkan ke kertas putih itu? Untungnya ketiga rekanku juga tidak mempersiapkan apa-apa. Jadi, aku tidak sendirian, hehehe.

Sejauh pantauanku yang terbatas dalam ruangan kami, hanya M2KQ-lah yang TC-nya paling santai. Kami hanya diskusi dengan pembimbing: Ust. Syukur dan Ust. Thaib, duduk-duduk, (aku) mengantuk, teken absen, shalat, pulang. Singkat kata, bang Marthunis pun menjadi perwakilan Aceh Besar sebagai peserta M2KQ putra. Sementara putrinya, kebetulan Khairatun Hisan yang terpilih (ingat, awalan ter- artinya tanpa sengaja). Baiklah, demimu Aceh Besar…(yaaa...)

TC pemantapan tahap pertama diadakan selama seminggu pada bulan April, masih di tempat yang sama.  Aku sedang dalam masa ujian tengah semester di Akuntansi. Sedangkan di Bahasa Inggris kumanfaatkan surat dispensasi (thanks Juliannisa for being my postwoman ;)) Berhubung pembimbing M2KQ hanya bisa hadir malam hari, jadinya meja M2KQ selalu berpenghuni setelah terbenamnya matahari. Siangnya aku pergunakan untuk bergerilya mencari bahan untuk tulisan yang kubuat dan ikut ujian di kampus. Well, aku sangat berterima kasih kepada Faridhatur Rahmi atas kesediaannya menemaniku ke puswil dan meminjam buku dengan kartunya. Thank you so much buddy… Semoga cepat melangkah ke jenjang berikutnya ya… :)
 

Back to Permata Hati. Jika para khattah menghias kanvas mereka dengan cat warna-warni, peserta M2KQ menyeraki meja dengan berbagai referensi. Bahan tafsir aku pinjam dari pustaka masjid Abu Indrapuri, yang tidak mensyaratkan kartu anggota. Buku-buku lainnya berasal dari koleksi pribadi dan isi lemari buku ayah. Semuanya tertumpuk di atas meja. Di tambah mesin tik, kami seolah prajurit siap tempur yang sedang menuju medan perang. We really are. Perang ide :P
Oh ya, TC itu panjangnya apa? Aku jujur tidak benar-benar tahu. Bagi yang tahu, tolong bagi-bagi tahunya ya…

Hasil dari TC tersebut adalah kami menetapkan empat judul dari dua tema. Sebagai tindak lanjutnya, Ust. Syukur meminta para peserta untuk menulis dengan salah satu judul. Aku adalah seorang yang susah berkonsentrasi jika pikiranku sedang terbagi. Sangat sulit untuk focus jika pikiranku kacau. Saket ulee. Tambahan pula selama TC aku diserang batuk hebat. When it happens, writing is the most difficult task to do. I’ve got nothing in my head, even a single word. Blank. If I’m writing a fiction, it allows me to explore my imagination. However, M2KQ is not that simple. It is a work that needs responsibility. I was really desperate at that time. This is the proof. It represents how my head was that morning: full of keuraleup.

Aku hanya menyelesaikan tujuh halaman dari sepuluh yang menjadi target. Malam terakhir TC pertama, dengan sedikit takut dan perasaan tidak enak aku menghadap pembimbing. Alhamdulillah, ternyata Ust. Syukur hanya meminta pendahuluannya saja. Selebihnya beliau memberi kami kebebasan untuk berkonsultasi di luar jadwal TC. 

Saat TC berakhir, saatnya kembali ke habitat semula. Aku kembali disibukkan dengan kuliah dan mengajar. Perkara M2KQ pun sedikit terabaikan. Sekitar dua minggu menjelang TC kedua yang diadakan Juni, aku mulai kembali mencari referensi untuk empat judul yang akan kubuat. Setelah bahannya terasa cukup, aku pun menuliskan pendahuluan untuk dua judul sekitar jam 3 pagi. Ditemani final Liga Champion yang dimenangi Barcelona. Hoho, senang sekali bukan MU yang berjaya *peace buat fans Setan Merah ya… ;) kedua cikal bakal makalah tersebut aku targetkan untuk bahan konsultasi dengan Ust. Syukur, yang hanya kulakukan sekali selama jeda TC.

Ketika TC kedua dilaksanakan di tempat yang sama, aku merasa agak kewalahan karena harus menjelajahi tiga lantai berkali-kali dalam sehari. Kamarku di lantai satu. Ruang makan dan coffee break di lantai dua. Tempat latihan di lantai tiga. Yah… program penambahan berat badan-ku tidak akan berhasil kalau keadaannya seperti ini. Tak jauh berbeda dengan TC pertama, kali ini aku sedang menghadapi ujian akhir semester di Bahasa Inggris. Jadinya susah untuk focus. Terlebih lagi jarak tempuhnya sangat tinggi (tiga lantai). Situasi ini mendukungku untuk lebih banyak menulis di kamar dari pada tempat latihan.

Meskipun di awal kukatakan bahwa meja M2KQ hanya terisi di malam hari, itu tidak berarti peserta M2KQ tidak sungguh-sungguh berlatih. You can’t say that people do not strive for something just because you don’t see they do that. Berbeda dengan cabang lain, menulis itu layaknya belajar. Beda orang beda caranya. Aku sendiri termasuk late night person. Ideku lebih lancar tertuang pada malam hari, di atas jam 10. Seperti saat aku menulis blog ini. Aku yakin bang Marthunis, TM, Roby, Isna, kak Nabila, dan teman-teman lain juga punya cara tersendiri dalam membuat sebuah tulisan. Ya kan? (Namanya udah masuk ya By, TM yang bilang tu…:))

Akhirnya, TC kedua pun usai. Menyisakan beberapa hari sebelum MTQ XXX Aceh dilaksanakan di Tamiang. Aku melanjutkan cita-cita yang tertunda. Bohong kok. Aku meneruskan mencari referensi dan segala persiapan untuk dua judul yang kupilih. Sebenarnya masih kurang yakin juga dengan pilihanku. Masih perlu revisi. Cerita tentang Tamiang akan aku post dalam part III. Maaf jika part II ini tidak terlalu mengesankan. Seperti kukatakan, aku tipe orang yang susah berkonsenterasi jika pikiran sedang terbagi. Nah, sekarang jam 01.57 dini hari, aku sedang berpikir apakah nasi goreng yang kubeli tadi sore masih bisa kusantap untuk mengganjal perut yang mulai perih minta diisi.

Terima kasih atas kesediannya membaca. Semoga juga bersedia meninggalkan komentar di bawah postingan ini dan mengikuti blog ini, hehehe. Thanks, Pals! Eh, ini ya Roby, part II-nya… 

Wassalamu’alaikum…

No comments:

Post a Comment

Thanks for stopping by ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...