Tuesday, July 26, 2011

RENUNGAN DI SUATU SORE


Sore ini aku kembali duduk sendiri menghadap jendela. Menatap kosong ke dunia luar sana. Semua masih sama seperti kemarin. Tak ada yang berubah. 

Sekilas yang nampak dari tempatku duduk saat ini hanyalah sisi samping rumah tetangga: dinding rapuh yang terangkai dari pelepah rumbia dan papan serta atapnya yang terbuat dari seng dan anyaman daun rumbia. Di kejauhan sana menjulang puncak pohon mangga yang hampir dikuasai benalu dengan tinggi – berdasarkan perhitungan kasarku –  mencapai dua belasan meter. Ya… Itulah pemandangan jarak dekat yang disuguhkan oleh jendela berukuran 1 x 2 meter ini.

Di langit abu-abu sana, beberapa burung walet pencinta hujan terbang berkejar-kejaran. Mereka melayang ringan dan sesekali menukik tajam untuk kemudian melesat lagi. Girang mungkin. Karena mengira mendung yang telah pekat menggayuti langit akan segera melahirkan tetes-tetes hujan. Aku hanya tersenyum memerhatikan. Andai saja aku juga bisa terbang bebas dengan sayap sendiri. Ah, itu memang tidak mungkin. Bukan kuasa itu yang dianugerahkan kepada manusia, melainkan akal dengan kemampuan hebat.  Sehingga dapat menciptakan alat yang bisa menerbangkan dirinya. Satu kesadaran hadir di sore ini: manusia seringkali tidak puas dan itu membuat mereka sedikit sekali bersyukur.


Oh, iya. Tentu saja aku tidak akan betah duduk lama-lama hanya untuk menikmati panorama itu sebatas pandangan mata saja. Apalagi udara sore ini sepertinya sedang malas untuk bergerak. Mataku memang mengarah ke luar jendela. Namun pikiran dan hatiku tidaklah terpaku pada rumah tetangga maupun pohon mangga, tapi jauh melampaui itu semua. Ada hal lain yang menarik perhatianku, sesuatu hal yang aku sendiri tidak pernah benar-benar mengerti. Langit di atas sana. Ya. Langit yang digelayuti awan itu. Langit yang memayungi hidupku. Langit yang memukauku dikala hitamnya ditaburi bebintang. Langit yang… ah, terlalu banyak kata untuk mengungkapkannya.

Tiba-tiba saja bubungan asap mengaburkan pandanganku ke puncak mangga, aku yakin berasal dari dapur tetanggaku.  Maklum saja, ini memang saatnya menyiapkan makanan untuk makan malam. Aroma rempah pun mulai menggelitik indra penciumku. Kali ini berasal dari jarak yang tidak terlalu jauh. Menandakan bahwa ibuku juga telah memulai aktivitasnya. Maaf, Bu. Putrimu  tidak membantu sore ini. Hatinya masih ingin tetap di sini.

Aku masih duduk di depan jendela. Menikmati sore hari lewat celahnya. Semilir angin mulai menyapaku saat ini. Menghembuskan harum bunga yang bercampur rempah. Segar. 

Kembali aku menengadah. Aku selalu suka melihat langit. Ada daya tarik sendiri yang membuatku menggantungkan impian dan harapan di sana. Melihat langit dapat mengembarakan pikiranku kemana-mana. Menjelajahi galaksi dan jagat raya. Yah… aku memang senang berdiam menikmati pikiran sendiri. Berkhayal. Merenung. Merasa diri hanya setitik yang tak kasat mata dari alam ini. Aku bukanlah siapa-siapa dari kuasa Allah. Bukan apa-apa. Dengan hidupku yang singkat, jika aku tidak melakukan hal yang berguna maka alangkah tak ada yang menyadari keberadaanku ini.

Langit sekarang lebih terang. Awannya sudah tidak sehitam tadi dan walet pun sudah tidak sebanyak tadi. Sepertinya mereka kecewa karena hujan yang dinanti tak kunjung menyapa. Hmm… terkadang kenyataan memang tidak sesuai keinginan. Bukan sesuatu yang asing. Sangat lumrah bahkan. 

Ketika harap tak menjadi nyata, atau keberhasilan yang diyakini berubah menjadi kegagalan, muncullah prasangka  bahwa ini akhir dari segalanya. Lalu memutuskan untuk benar-benar mengakhiri semuanya. Padahal itu hal yang sangat wajar. Yang diperlukan hanyalah berusaha lebih giat lagi atau melupakan semuanya. Takkan ada yang mencibir. Toh, semua akan indah pada waktunya. Namun betapa sering aku mengalaminya dan betapa perih semuanya terasa. Oh, betapa sulitnya aku mengerti bahwa semua tidak serumit itu.

Dan betapa mudahnya aku bicara.

Fenomena tadi mengantarkanku pada satu kesadaran lagi: manusia terlalu cepat menyerah kalah dan berputus asa akan rahmat Allah, hingga terkadang menjadikan mereka berani untuk mendahului kehendak-Nya.

Aku tetap berada di depan jendela. Masih dengan pikiranku tentang kesadaran, langit, dan hidupku. Ya, hidupku. 

Hmm… hidup. Sesuatu yang tidak akan habisnya untuk disyukuri. Terkadang ada hal yang tak perlu diutarakan dan menurutku pikiran tentang hidup adalah salah satunya. Berpikir tentang hidup mungkin terdengar berat. Padahal tidak. Manusia selalu melakukannya namun mereka tidak sadar. Karena semua yang menjadi bahan pikiran selalu bermuara pada hidup dan kehidupan. Oh, aku tidak sedang mencoba berfilsafat. Entahlah, itu hanya persepsiku. 

 Hei, apa ini? Kakiku serasa terkena cubitan kecil dan aku mendapati seekor nyamuk tak diundang bertengger dengan tenangnya di tumitku. Kutepuk ia dan segera saja darah segar hasil hisapannya muncrat keluar. Bulatan merah pun membekas di sana. Uhh, kenapa di saat-saat tenang begini ada saja yang mengganggu? Bahkan seekor nyamuk kecil pun dapat merusak suasana. Bekas gigitannya tadi mulai gatal. Aku harus menemukan minyak kayu putih atau balsam sebelum gatal dan benjolannya semakin menjadi. Tapi aku masih belum ingin beranjak. Oke, lihat saja sampai kapan aku bisa menahan rasa gatal yang menyengat hanya dengan menggaruknya. Huff…

Ups… bukankah aku baru saja melakukah hal yang juga menjadi hobi manusia? Mengeluh! Baiklah, kesadaran ketiga di sore ini: manusia memang sangat suka berkeluh kesah mulai dari hal-hal kecil bahkan hingga menggugat takdir.

Oke, langit kini benar-benar bersih dari walet. Tinggal awan yang melapisinya rata. Matahari yang mulai beranjak ke peraduan membuat hari ini tak lagi secerah pagi. Awan pun sudah tak seputih warnanya. Selalu kubertanya,  Apa yang ada dibaliknya? Apa yang tersembunyi di atas sana sehingga aku begitu tertarik padanya? Huft… tanyaku tidak akan terjawab. Langit tetap saja diam. Membiarkan anak manusia yang bernaung di bawahnya terus dilanda tanya. Namun bagaimanapun ia tetap memesona…

Aku masih di sini saat sore kian menggelap. Menawarkan mega merah pada langit yang tadinya kelabu. Indah… sangat indah. 

Tanpa terasa aku sudah terlalu lama larut dalam pikiranku sendiri. Hingga azan mulai memanggil dari masjid dan juga menasah dan aku sudah duduk di depan jendela ini sejak selesai shalat ashar. Waktunya beranjak.  Harus kuakui, duduk sendiri di depan jendela pada sore ini telah menyadarkanku akan banyak hal. Dan kesadaran terakhir yang datang hari ini sebelum aku bangkit menjemput magrib adalah bahwa hidup ini sangat indah. Lebih indah dari langit sore dan terlalu indah untuk disia-siakan meski dengan segala masalah yang menghiasinya… ah, indah…[]

Suatu sore yang tenang di depan jendela rumah,  January 19 2010

2 comments:

  1. sebuah karya yang indah: renungan penggugah jiwa.
    i like it..^^
    salam kenal :)

    ReplyDelete
  2. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca,,, :)
    Salam kenal juga ^_^

    ReplyDelete

Thanks for calling at ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...