Friday, August 19, 2011

CERITA RAMADHAN HARI KE-18


Sudah penghujung fase kedua Ramadhan. Lama juga aku tidak bercerita. Itu karena pulsa modemku habis. Alasan saja sih. Sebenarnya aku kembali terjangkit penyakit malas.

Oke, ada yang istimewa di hari ini. Aku sudah kembali mengisi ulang pulsa tentunya. Tapi ada hal lain yang lebih menarik.


Semalam aku menginap di tempat nenek bersama dengan adikku, Fadia. Ia sebenarnya agak keberatan ketika kukatakan tidak jadi pulang setelah puasa, karena masih banyak makanan yang belum dicicipi, hehe. Pasalnya, karena ia sudah berjanji untuk menemaniku berbuka puasa bareng kawan-kawan hari ini, di Banda Aceh. Artinya, jika ia menginap di tempat nenek dan melanjutkan dengan menghabiskan malam di Banda Aceh maka ia akan melalui dua malam tanpa ibu.  Singkat cerita, setelah kubujuk akhirnya ia mau juga tidur di rumah nenek.

Ketika tadi subuh kami pulang ke rumah, aku mendapati si adik bungsu, Taqiyya sedang menangis. Usut punya usut ternyata ia ingin makan donat dan menolak puasa kalau hari ini tidak dibuatkan donat. Ibuku menyarankannya untuk ikut aku ke Banda jadi bias beli donat saat buka puasa. Setelah beberapa lama berada dalam ketidakpastian akhirnya ikut juga. Akupun memburu waktu karena harus mengajar di bimbel di Banda Aceh pada jam delapan. Jadilah kami bertiga berangkat dari Indrapuri menembus udara dingin pagi hari. Setelah mengajar aku ke Darusassalam untuk mengambil jadwal kuliah demi mengisi KRS Online yang sampai saat ini masih berulah. Setelah itu lesehan sebentar di pustaka Beujroh, numpang pake Wi-Fi.

Sebenarnya, acara buka puasa bareng yang membuatku membawa serta dua adikku itu belumlah jelas adanya. Hanya dua orang yang bias ikut, tidak seru. Akhirnya, setelah melobi sana-sini, terkumpullah sekitar sebelas orang yang bersedia ikut. Cihaaaa… mereka teman-teman MTQ. Jadilah kami membuat acara dadakan.

Setelah memastikan jumlah peserta, akupun memesan tempat berikut menu untuk sebelas orang. Tanpa sengaja aku melihat ke atas sana, langit tampak begitu hitamnya dengan banyaknya air yang hendak ditumpahkan. Tak lama kemudian hujan pun menderas. Teman-teman yang tadinya sudah setuju untuk datang kembali menghubungiku. Saat-saat menegangkan bagiku. Mengingat acara yang tadinya sudah set kemungkinan akan tidak berjalan dengan lancar.

Alhamdulillah, menjelang jam enam sore langit kembali cerah dan acara kami berlangsung menyenangkan dan berkesan. Meskipun minus dua anggota.

Ini adalah pengalaman pertamaku menjadi organizer suatu acara. Aku jadi tahu beratnya konsekuensi yang ditanggung. Berdasarkan hal ini, sepertinya aku memutuskan untuk tidak mau lagi menjadi coordinator. Dengan pengecualian, tentunya.

No comments:

Post a Comment

Thanks for calling at ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...