Tuesday, August 2, 2011

MAK MEUGANG

Kurang seminggu lagi Ramadhan tiba. Seluruh umat muslim di seluruh dunia gembira menyambutnya. Demikian pula Mak Zainab. Perempuan sepuh berumur 70-an ini begitu senang saat Cut Kak Maneh, tetangga samping rumahnya yang sangat perhatian padanya mengabari hal ini. Bulan Ramadhan akan tiba enam hari lagi.
Kita akan berbicara banyak tentang Mak Zainab. Perempuan yang sudah pantas disebut nenek ini sebenarnya tidak hidup sendiri. Suaminya memang sudah lama meninggal dan beberapa anaknya mengadu nasib di luar daerah. Tapi dia masih mempunyai seorang anak laki-laki yang tinggal bersamanya di gubuk reyot mereka. Yaitu rumah panggung yang tidak begitu tinggi dengan atap rumbia dan dinding dari anyaman bambu. Namun yang disayangkan para tetangga akan Amin, Si Bungsu yang sudah berusia 27 tahun ini, adalah ketidakpedulian Amin pada Mak Zainab, ibunya. Seharusnya ia bisa menjadi tempat bersandar bagi ibunya yang sudah tua. Tapi jangankan membantu, pulang ke rumah saja ia watee leumak kuah, alias seenak hati.

Mak, boh bu!(1)” tiba-tiba saja Amin telah nyelonong masuk dan meneriaki maknya.
Mak Zainab yang baru saja memejamkan mata terbangun kembali. “Bu na lam kanot hai Neuk, taboh laju keudroe. Mak hek that.(2)” Jawab Mak Zainab dari tempat pembaringannya berupa lantai batang pinang beralaskan tikar tipis.
Amin mencibir.  Ia beranjak dari kursi lapuk yang didudukinya menuju tempat Maknya. “Neuboh siat! Lon meupiyoh dilee!(3)”
Mendengar bentakan kasar anak bungsunya, mau tak mau Mak Zainab beringsut juga. Dipaksanya tubuh ringkih yang letih -setelah seharian mengangkuti hasil sepetak sawah yang tidak seberapa- itu untuk bangkit. Tertatih ia berjalan menuju kanot bu dan menyendokkan nasi untuk anaknya.
“Peu nyoe, kareeng lom?(4)” tanya Amin tanpa minat.
Mak Zainab menghela napas. “Nyoe nyang na mudah hai Neuk, tapajoh laju.(5)”
“Han ek lon!(6)” Amin menepis piring yang disodorkan maknya dan bergegas turun dari rumah.
“Ho meunjak, Neuk? tapajoh bu dilee!(7)” tergopoh-gopoh Mak Zainab menyusul anaknya ke tangga. Namun sang anak sudah hilang dari pandangan.

Hari ini hari meugang. Pagi-pagi sekali Mak Zainab sudah bersiap-siap untuk pergi ke pasar. Ia berniat menukar beberapa kilo padi hasil panen sawahnya dengan daging pada mugee(8) sapi. ‘Katrep that lon ngon Amin pajoh eungkot tho,(9)’ pikirnya.
Terseok-seok Mak Zainab memikul umpang berisi padi. Ia bersikeras tidak mau diantar. Padahal tadi Cut Kak Mneh telah menyuruh Polem untuk mengantarnya, atau biar Polem saja yang menukar padinya di pasar. Tapi Mak Zainab menolak, ‘lon mantong kha,’alasannya.
Sebenarnya Mak Zainab hanya tidak ingin merepotkan tetangga yang sudah sangat baik padanya.Jujur saja ia butuh bantuan, ia ingin diantar. Tapi bukan oleh Polem, melainkan oleh Amin, anaknya. Namun saat ini buah hatinya itu entah berada di mana, sudah tiga hari ini dia tidak pulang.
 “Keumeung tuka padee lom, Mak? (10)” Tanya mugee saat Mak Zainab masuk ke kedainya.
“Nyoe Neuk, lon neuk tuka ngon sie bacut. Sayang si Amin jipajoh bu ngon kareeng sabee.(11)”
Sang mugee terdiam. Ia tahu persis Amin baru saja menang judi dan menraktir teman-temannya makan nasi sie kameng.(12)
“Padum na, Neuk?(13)”
Pertanyaan Mak Zainab menyadarkan mugee yang tadi sempat melamun. “Hana peu, Mak. Bek neutuka padee,. Bah lon jok sie keu dron bacut.(14)”
Namun Mak Zainab menolak diberi begitu saja. Ia memaksa mugee menerima padinya. Karena tidak ingin menyinggung Mak, akhirnya mugee menyerah dan membiarkan Mak Zainab pulang dengan mata berbinar setelah menerima sekilo daging.
Mak amat berbahagia. Kepala tuanya dipenuhi rencana. Daging itu akan segera diolahnya menjadi masakan istimewa. Sebagian dimasak santan atau asam keueng. Sebagian lagi dijadikan sie reboh(15) yang tahan lama.
Langkah Mak Zainab memang terseok-seok. Tapi perempuan ringkih itu masih terbilang kuat untuk perempuan seusianya. Mak terbiasa berjalan kaki dua kilometer dan itu memang dilakukannya hampir setiap bulan, saat dia pergi ke pasar. Selain jarak satu meter yang selalu ditempuhnya ke sawah, sambil memikul padi atau benih. Semuanya dilakukan sendiri dan terkadang dengan bantuan tetangga. Ia tidak pernah mengeluh, meski punya hak untuk memaksa Amin agar membantunya.
Rumah Mak sudah tidak jauh lagi. Atap rumbianya kelihatan dari tempatnya melangkahkan kaki saat ini. Tapi Mak heran. Walaupun penglihatannya sudah tidak setajam dulu, ia tetap bisa merasakan tatapan iba para tetangganya. Mak hanya tersenyum pada mereka. Ia tidak mau berpikir macam-macam. Karena yang ada dalam pikirannya saat ini adalah segera sampai di rumah dan memasak sie meugang.
Namun semakin dekat dengan rumah perasaan Mak semakin tidak enak. Perlahan ia menaiki tangga dan ketika sampai di atas tangannya langsung membuka pintu. “Astaghfirullah…” Mak Zainab tidak mampu menahan perasaannya saat mendapati ruang di ballik pintu itu kosong melompong. Kantong plastic yang tadi dijinjingnya semangat kini terjatuh begitu saja ke lantai. Memang tidak banyak barang di gubuk itu. Hanya tiga karung padi hasil jerih payahnya setahun ini. Tapi kini itu pun sudah tidak ada. Mak Zainab jatuh tersedu.
Dari pintu yang terbuka Amin dengan santainya melenggang masuk dan langsung duduk di kursi favoritnya. “padee nyan lon publo, Mak. Lon peureulee peng.(16)” Amin menatap maknya lekat, “lon deuk, peu eungkot?(17)”
Mak Zainab tidak menjawab.
                                                                                                        Khairatun Hisan
                                                                                      OD, 06 Agustus 2007

Catatan:
1.    mak, mana nasinya?
2.    nasinya dalam panci, Nak. Ambil saja sendiri. Mak capek sekali.
3.    ambilkan sebentar! Saya mau istirahat dulu!
4.    apa ini? Ikan teri lagi?
5.    hanya ini yang kita punya, Nak. Makanlah!
6.    saya nggak mau!
7.    mau ke mana Nak? Makan dulu!
8.    juragan.
9.    sudah lama sekali saya dan Amin makan ikan kering.
10. mau menukar padi lagi, Mak?
11.  iya, Nak. Saya mau menukarnya dengan daging. Kasihan si Amin makan pakai ikan teri terus.
12. daging kambing.
13. berapa, Nak?
14. tidak apa-apa, Mak. Tidak  usah tukar. Biar saya beri untuk Mak sedikit.
15. padi itu saya jual, Mak. Saya butuh uang.
16. saya lapar, ikan apa?

No comments:

Post a Comment

Thanks for calling at ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...