Monday, September 19, 2011

MY EM DUA KA QI JOURNEY (PART III)


Assalamu’alaikum…

Kembali lagi kita dalam cerita M2KQ edisi ketiga.

Lama sekali jedanya dari part II, aku minta maaf kepada pembaca setia perjalanan M2KQ si Khaira atas ketidaknyamanan ini (beuh… macam ada aja pembaca setianya ;)) Kali ini perjalanannya udah jauh, ga Cuma kawasan Aceh Besar- Banda Aceh tapi ke Tamiang. Wow! Di mana itu?

Sedikit tentang daerah ini, Aceh Tamiang adalah kabupaten yang baru berusia 9 tahun. Terletak di wilayah timur Aceh dan merupakan pecahan dari Aceh Timur. Tahun 2011 Tamiang menjadi tuan rumah untuk penyelenggaraan MTQ Aceh ke XXX.




Ceritanya aku terpilih untuk mewakili Aceh besar dalam bidang M2KQ. Buat yang belum tau apa itu M2KQ, bisa baca di sini. Tanggal 1 Juli 2011 kafilah kabupaten Aceh Besar berangkat ke Aceh Tamiang. Armadanya adalah satu bus AKAP, satu minibus, beberapa mobil plat merah serta mobil pribadi milik pendamping dan pelatih. Acara pelepasan diadakan ba’da magrib di masjid Lampeuneurut.

Aku berangkat ke lokasi bersama orang tua dan yahnda –abang ibuku- dengan mengendarai dua sepmor. Bawaanku berupa satu tas jinjing, satu ransel, dan satu bantal. Mengenai bantal, aku sempat keberatan karena khawatir peserta lain tidak membawanya, mekipun panitia telah mewanti-wanti sebelumnya. Kenyataannya rata-rata peserta memiliki bantal di tumpukan tas mereka. Bahkan ada yang sampai ketinggalan, hehe… :)

Seperti biasa, ketika hendak melakukan perjalanan jauh aku kerap kali merasa tidak nyaman. Bukan karena mabuk kendaraan. Momen perpisahan dengan keluarga selalu menyesakkan dada bagiku. Meskipun untuk waktu yang tak terlampau lama dan jarak yang relative terjangkau. Maklum, jarang-jarang. Haha… faktanya bisa dibaca di sini. Sekitar jam sepuluh malam kami bersiap untuk berangkat dan aku pun berusaha keras tidak menangis (malu udah gede). Saat berpamitan ibu menciumku! Sekali lagi, IBUKU MENCIUMKU! Aku rasanya tak mau pergi. Well, mungkin kesannya biasa saja seorang ibu mencium anaknya. Tapi aku jarang merasakannya. Tunggu dulu, bukan berarti hubunganku dengan ibu tidak harmonis. Kami berdua sangat dekat. Hanya saja ibu bukanlah seorang yang ekspresif. Waktu aku masih tinggal di asrama, ibu sering datang menjenguk bersama dengan ibunya Nanda, kawan dan juga kerabatku. Nah, saat akan pulang, yang menciumku adalah ibunya Nanda, bukan ibuku. Sedangkan aku hanya mencium punggung tangan ibuku saja saat bersalaman. Menyedihkan ya…  (-_-)

Oke, back to the topic. Meskipun kusembunyikan, toh akhirnya air mataku jatuh jua saat bus kami mulai melaju dan meninggalkan keluargaku yang melambaikan tangan. Untuk menenangkan diri aku mencoba tidur dan terbangun beberapa jam kemudian, makan sate dini hari di Matang. Kami tiba di Tamiang pada Sabtu pagi. Masih ada waktu untuk beristirahat dan mempersiapkan diri sebelum acara pembukaan Minggu malamnya.


Tempat pemondokan kami adalah rumah milik Kapten Syahrul yang berlokasi di Dusun Bhakti Kampung Bundar. Sopir bus yang kami sewa tidak mau mengantar hingga ke rumah. Jadinya kami terpaksa melakukan pawai duluan dengan mengangkut barang-barang, disaksikan warga sekitar. Kesan pertama terhadap rumah tersebut adalah asri. Terdapat satu balai dan pepohonan yang sedang berbuah di pekarangan. Yang paling menarik hati tentunya pohon durian dengan buah durinya yang bergelantungan. Kelak, sampai hari terakhir kami di sana tidak satu pun duriannya jatuh. Seseorang iseng mengguncang batangnya dan menghadiahi kami buah beraroma tajam tersebut.


Senin pagi adalah jadwal penyisihan bagi cabang M2KQ. Karenanya aku dan bang Marthunis tidak mengikuti acara pembukaan hingga selesai. Kami pulang cepat untuk menyusun buku referensi dan mempersiapkan diri dengan karya untuk dua tema. Besoknya kami bertemu lagi dengan TM, Robby, Isna, Ismu, dan Syarfina. Mereka adalah kenalanku di sekolah dan kampus. Dewan hakim meminta kami menuliskan satu karya dengan tema satu, Jihad Melawan Kebodohan dan Kemiskinan. Untuk tema ini aku mengangkat tentang Optimalisasi Zakat Jasa.

Berbeda dengan ketika di Aceh Besar yang tanpa persiapan, kali ini aku telah membuat makalahnya. Aku telah mencorat-coret idenya, menyusun kata, menulis, dan mengetiknya. Praktis aku telah membacanya berkali-kali. Meskipun hasil karya latihan itu haram dibawa ke dalam ruangan, setidaknya apa yang telah kubuat dan baca selama ini telah tersimpan dalam memoriku. Ini membantu dalam mengembangkan ide tulisan.

Namun demikian, sama seperti di Aceh Besar, waktu yang ada rasanya tidak cukup panjang untuk dapat melakukan acara makan-makan. Sebenarnya cukup. Hanya saja aku belum merasa tenang jika tulisanku belum selesai. Jadi aku hanya rehat sejenak untuk shalat Dhuhur dan makan sekerat roti. Minumnya kulakukan sambil kembali berkutat dengan mesin tik. Padahal para pendamping telah membekali kami makanan yang banyak –termasuk nasi kotak- untuk santap siang.Target kami adalah menulis sebanyak 15 halaman, hasil maksimal. Hehe… beda dengan yang di part I kan? Wajar, bukan mutlak rencana awalku. Ini karena provokasi bang Marthunis :P 

Alhamdulillah yah… akhirnya selesai juga. Jam di pergelangan tanganku menunjukkan titik di antara angka 5 dan 6. Kami dibawa ke Kuala Simpang untuk isi ulang tenaga dan tiba di pemondokan menjelang magrib. Aku segera shalat dan mandi lantas menunggu waktu Isya. Karena masih kenyang usai makan sate di Kuala Simpang, aku meninggalkan makan malam. Setelah shalat Isya aku pun terlelap dengan suksesnya. Mengistirahatkan badan dan pikiran. Capek euy…

Seperti yang pernah kukatakan di salah satu post, aku termasuk orang yang percaya pada feeling. Maksudku, meskipun tidak bisa membandingkan hasil karyaku dengan milik peserta lain, aku sadar betul akan apa yang telah kubuat dan bagaimana pandanganku terhadapnya. Masih bingung? Intinya aku tau dirilah, kalau merasa puas atas apa yang kuhasilkan, maka aku berani berharap lebih. Karenanya aku merasa yakin dapat tembus semifinal dan Alhamdulillah, aku berhasil. Vina, TM, Roby, bang Marthunis dan aku masuk semi final. Yup, Aceh Besar merupakan satu-satunya kafilah yang dua peserta M2KQ-nya masuk enam besar. Setidaknya, peringkat harapan III sudah kumiliki. Tidak berusaha untuk mencapai hasil yang lebih baik.

Rabu adalah waktunya semifinal. Aku tidak merasa siap. Pasalnya sejak malam aku kurang  fit dan sulit berkonsenterasi. Tambahan pula, dewan hakim meminta kami menuliskan judul lain dari tema satu. Sedangkan aku hanya memaksimalkan persiapan satu judul untuk satu tema. Memang sudah finalisasi dua judul untuk masing-masing tema ketika TC, namun yang benar-benar kami maksimalkan hanya satu untuk setiapnya. Karena keterbatasan referensi, aku tetap menulis  tentang home industry (yang sejatinya untuk tema dua) dengan menekankan pada tujuannya mengentaskan kemiskinan dan menjadi mandiri.

That was it. Sejak awal aku sudah tidak yakin. Meskipun demikian aku tetap mengusahakan yang terbaik. Salah satunya dengan menggenapkan 15 halaman. Rutinitasnya tetap seperti biasa. Kami selesai sore hari, ke Kuala Simpang, pulang, shalat Magrib, mandi, shalat Isya, istirahat. Yang berbeda adalah aku tidak lagi memikirkan tentang apa yang akan kutulis. Aku mencoba untuk tidak memikirkan hasilnya. Pasrah saja. I had known I couldn’t make it since I saw Vina’s Arabic handwriting. Mine was so terrible, :(

Hmm… meskipun telah kupersiapkan sebelumnya, toh aku agak sedih juga ketika nomor undianku tidak disebut saat pengumuman final. Well, that wasn’t my turn. Selamat buat bang Marthunis, Vina, Roby, en TM yang akan mempresentasikan tulisan mereka di depan dewan hakim.

Tak terasa, sudah seminggu lebih kami berada di Tamiang. Minggu malam waktunya penutupan yang disiarkan secara langsung oleh TVRI stasiun Aceh. Keluargaku di Indrapuri ikut menyaksikannya. Setelah seremonial ini itu, waktu yang dinantikan tiba. Pembacaan keputusan dewan hakim. Begitu namaku selesai disebutkan, handphone-ku bordering berkali-kali memberitahukan SMS yang masuk. Keluarga serta teman-temanku memberikan ucapan selamat. Alhamdulillah… masih ada yang peduli walau hanya dapat harapan II (hehehe….lebay ya?) Sementara itu,  Vina menjadi yang terbaik I putri sedangkan Roby, bang Marthunis, dan TM secara berurutan menjadi yang terbaik I, II, dan II untuk kategori putra. Tahniah buat semuanya… I’m proud that I’m your friend :) Secara keseluruhan, Aceh Besar menempati peringkat kedua, mempertahankan prestasinya dua tahun lalu.

Selanjutnya sesi pembagian hadiah. Berhubung M2KQ adalah cabang termuda, maka kami mendapat giliran terakhir. Aku yang memiliki penyakit kelaparan tengah malam agak keberatan berdiri terlalu lama. Karenanya segera saja aku duduk lesehan di atas kerikil, sambil membayangkan nasi bungkus di depan. Seolah-olah sedang piknik di taman sari. Tapi kelak beberapa teman ikut bergabung untuk samadiah pura-pura, (hehe… kapan lagi lesehan di tengah lapangan sambil pake jas?)

Oh ya, ini pialanya                                                                          Vina en Khaira















Senin siang kami kembali menempuh perjalanan pulang selama kurang lebih sepuluh jam. Aku tiba di rumah menjelang jam empat pagi, disambut dengan tangan terbuka oleh orang tua (hehe… jelaslah). Oh how I missed them…

Nah, teman, sekian sajalah cerita M2KQ-ku. Ini bagian yang paling panjang dan terakhir untuk saat ini. Semoga saja masih ada part IV nantinya, hehe…ngarep.

Thank you for reading and commenting!

Assalamu’alaikum…


6 comments:

  1. loh kak Ikut MTQ di aceh Tamiang ..!!

    rumah saya di kualasimpang ..

    ----------------------------------
    Tapi, turut berduka untuk perwakilan aceh barat kalau nggak salah yang kecelakaan saat pulang...


    by:http://tengku-daniel.blogspot.com

    ReplyDelete
  2. Tinggal di Tamiang ya? Dekat sama tempat MTQ?

    hehe... dulu tu belum kenal ya..

    yup, kafilah Aceh Barat yg kecelakaan, anak kecil meninggal...

    ReplyDelete
  3. iya saya di tamiang..
    rumah saya di pinggir jalan Lintas medan-b.aceh ...


    kalau kk tinggal daerah mana ??

    kirain kk tinggal di daerah jawa ternyata di aceh...

    ReplyDelete
  4. wheee... emang mukanya Jawa ya? haha...

    Saya di Indrapuri, Aceh besar... :)

    ReplyDelete
  5. nggak tau saya indrapuri dimana ?

    kalau namanya aja sering dengar tapi kalau kesana kayaknya belom pernah saya ...!!

    ReplyDelete
  6. Iya, di Aceh Besar... jln, Banda Aceh-Medan sebelum nyampe Banda.,, udah dekat lah ke Banda :)

    Saya jg ga tau Tamiang sebelum ikot MTQ :)

    ReplyDelete

Thanks for stopping by ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...