Tuesday, September 20, 2011

SECANGKIR KOPI UNTUK RELAWAN


Judul   : Secangkir Kopi untuk Relawan
Penulis: Mohammad Al Azhir
Penerbit: Semesta (kelompok Pro U Media)
Cetakan I Desember 2010
Tebal: 269 halaman

Kopi itu terasa pahit. Namun sangat nikmat ketika telah masuk ke dalam tubuh. Ini kopi ternikmat yang aku minum. Bedanya, sebelumnya aku biasa minum kopi di kedai, sekarang aku meminumnya di sarang GAM.

Aceh,  26 Desember 2004. Tanoh yang selalu didera konflik ini berada di puncak nestapa. Gempa dan tsunami telah meluluh-lantakkan apa yang ada, termasuk manusia yang mendiaminya. Semua mata seketika tertuju ke wilayah paling barat Indonesia. Bencana internasional ini menyedot uluran tangan dari seluruh penjuru dunia.

Adalah Wahid Nugroho, seorang mahasiswa tingkat akhir Fisipol UGM yang juga aktivis tiba di Aceh pada awal Januari sebagai relawan. Bersama dengan teman-temannya yang tergabung dalam KKIA dan LSM lain, Wahid mengevakuasi jenazah, mendistribusikan sembako, juga mendata pengungsi. Ia tidak hanya menemukan tubuh dan jiwa yang remuk oleh bencana. Lebih dari itu, masyarakat Aceh sudah lebih dulu menderita oleh perang yang berkepanjangan. Sesuatu yang juga ingin ia teliti untuk tugas akhirnya sebagai mahasiswa.


Novel ini menceritakan dengan detil bagaimana aktivitas serta konsekuensi yang dihadapi seorang relawan di daerah konflik. Tidak semata-mata membantu para korban, datang ke Aceh artinya berkesempatan membiarkan nyawanya terancam, juga merasakan ketakutan seperti yang dialami ureung Aceh.  

Sebagai orang non-Aceh, Mohammad Al Azhir mampu menceritakan kondisi Aceh dengan sangat memikat. Ia dapat menggambarkan nestapa, ketakutan, bahkan pendapat orang Aceh terhadap orang Jawa dengan tepat sekali. Selain itu, novel ini juga menghadirkan banyak tokoh figuran. Ini memang sering terjadi jika menuliskan cerita yang tidak sepenuhnya fiksi, apalagi yang menyerupai catatan perjalanan seperti kisah Wahid. Dalam hal ini, Al Azhir mampu menempatkan peran mereka dengan baik sehingga memperkaya cerita.

Namun demikian, saya merasa terganggu dengan beberapa deskripsi yang -bagi saya- berlebihan dan terkesan bertele-tele. Begitu pula pergulatan si tokoh dengan dirinya sendiri yang di beberapa bagian terlalu panjang tetapi tidak berefek banyak pada alur cerita. Ini sempat membuat saya menghentikan membaca untuk beberapa saat.

Secara keseluruhan, menurut saya novel ini sangat bagus dan informatif. Anda akan dibawa kembali ke Aceh pasca gempa dan tsunami melanda. Membacanya juga membuat saya kembali meneteskan air mata saat mengenang bencana beberapa tahun silam. Saya memang tidak menyaksikan langsung air bah tersebut. Tetapi melihatnya dari layar kaca membuat dada saya serasa pecah. Tragedi itu pernah ada, dan buku ini adalah salah satu yang merekam akibatnya.

No comments:

Post a Comment

Thanks for stopping by ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...