Sunday, December 25, 2011

Mengenang 7 Tahun Gempa dan Tsunami (26 Desember 2004)

"Hari itu pagi kelabu, langit biru mematung lugu
tak ada hujan yang luruh, tiada angin yang menderu
tapi nanggroe ini hancur lebur
guncangan bumi luapkan samudra
melumat daratan

Halaman MRB setelah Tsunami
Entah apa yang terjadi, tak seorang pun bisa pahami.
seketika saja semuanya tercerai berai
saat air hitam menghantam kehidupan,
tiada lagi sanak saudara
biarkan saja mereka sendiri
karena pelukan erat tak lagi berarti
pisahkan anak dari orang tua, suami dari istri,
kekasih dari yang dikasihi

Sementara awan kesedihan menggelayut manja
menggantung pilu
payungi bumi
yang kini berduka."


Ah, ini hanya secuil kenangan yang bisa kuutarakan. Tentang bumi yang bergejolak marah, dan laut yang menelan daratan. Sebait kisah yang kusimpan rapi dalam memori, selama ini.


Banda Aceh, sebelum & setelah Tsunami
Apa yang bisa  kukatakan tentang tragedi ini? Tujuh tahun sudah berlalu. Dan sesungguhnya, tidak ada kata yang dapat melukiskan nestapa yang pernah tercipta. Masih terekam jelas dalam benakku, rasa kehilangan yang demikian hebatnya hingga menggelayuti udara. Aku tak pernah mengira tanoh kami yang telah kenyang oleh konflik bisa lebih hancur lagi. Sebelumnya, adanya berita penemuan mayat tak dikenal telah menjadi santapan pagi sehari-hari. Begitu pula dengan kuburan massal yang berisi tumpukan tulang belulang. Namun siapa sangka, alam akhirnya menghentikan permainan-menjadi-Izrail yang dilakoni manusia dengan memberikan satu pukulan telak, menyapu bersih setengah kehidupan?

Hari itu adalah hari pertama aku mengikuti ujian lisan semester ganjil kelas IX Tsanawiyah di Dayah Tgk. Chiek Oemar Diyan. Aku yang memiliki tugas membantu bagian dapur, mendapat dispensasi untuk agak terlambat ke lokasi ujian. Berada di kamarku yang terletak di lantai dua asrama, aku mulai merasakan lantai tempatku berpijak mulai bergoyang. 'Ah, hanya gempa biasa,' pikirku. Ranjang susun yang berangka besi mulai berayun-ayun dan bersinggungan satu sama lain hingga menimbulkan bunyi dentingan. Suara-suara aneh berderak bermunculan. Suasana mulai mencekam karena guncangan yang kukira akan segera berhenti ternyata menjadi lebih hebat lagi. Terdengar jeritan menyebut Asma Allah sahut menyahut dari luar gedung. Dengan tubuh gemetar aku menyambar jilbab dan berlari turun. Tepat saat aku menjejakkan kaki ke tanah, bangunan berbentuk jamur yang memayungi bangku mulai luruh. Disusul dengan rubuhnya gedung asrama tempat ku berada sesaat sebelumnya. Astaghfirullah... apa jadinya jika aku tidak memutuskan untuk segera turun? Akankah aku masih bisa mengetikkan tulisan ini, jika saja menunda untuk keluar asrama walau hanya dalam hitungan detik?

Siang itu kali pertama aku mendengar cerita yang tidak bisa segera kucerna. Orang-orang tiba di pesantren dengan baju compang-camping. "Kami sampai di sini dengan berlari," Ujar mereka. Yang benar saja? Jaraknya tidak kurang dari 26 kilometer! "Air laut membentuk tembok setinggi pohon kelapa lalu membanjiri kota, mayat-mayat bergelimpangan, Masjid Raya disesaki manusia dan puing. Semuanya hancur, Banda Aceh jadi kota mati!" Hari itu pula memoriku merekam satu kosa kata baru yang belum pernah kudengar sebelumnya: Tsunami.

Hingga kini, aku masih sering berharap semua yang telah terjadi hanyalah mimpi buruk. Aku membayangkan suatu saat nanti akan terbangun dan mendapati semua masih seperti sedia kala. Aku masih siswi kelas tiga Mts yang sedang menempuh ujian dan saudara-saudaraku masih sehat wal afiat. Namun aku sadar, kenyataan ini sama terangnya seperti matahari siang. Bahwa nestapa itu telah melanda dan bumi telah berada di posisi ini untuk ke tujuh kalinya sejak saat itu.

Ya. Kenangan itu masih terekam jelas dalam ingatan dan aku memang tidak berniat menghapusnya. Memangnya apa lagi yang tersisa dari sebait kisah pilu masa lalu? Sepenggal cerita untuk diwariskan ke anak cucu.

16 comments:

  1. Musibah dari Allah swt itu ada kalanya teguran, dan ada kalanya juga' cobaan...
    Semua itu bisa dijadikan pembelajatran bagi Kita semua. Ambil Hikmahnya...

    ReplyDelete
  2. semoga menjadi titik balik kebangkitan kota banda aceh...

    ReplyDelete
  3. @sang pembelajar: yup, anda tepat sekali. setiap kejadian tentu ada hikmahnya...

    @surya ramadhan: amin... semoga juga untuk Aceh dan seluruh daerah yang terkena musibah..

    ReplyDelete
  4. Semoga saja ALLAH SWT.mengampuni dosa serta kesalahan kita semua...amien

    ReplyDelete
  5. aku bacanya gemetar kak...
    sedih banget kalo inget kejadian ini.. walopun aku jauh di sini tapi rasa kemanusiaanku membuatku selalu menitikkan air mata kalo inget kejadian ini.
    alhamdulillah kakak msh sehat wal'afiat sampe skrang ini..

    ReplyDelete
  6. This is our wake up call that we must all know that we are still responsible for all the calamities. We must at least do the right thing to preserve our mother nature.

    ReplyDelete
  7. @icah: amin... semoga Allah menempatkan mereka yang telah pergi di tempat yang selayaknya..

    @Nizwa:iya... kejadian itu ga akan lekang dari ingatan. alhamdulillah kita masih diberi kesempatan untuk meneruskan perjuangan..

    ReplyDelete
  8. nggak kerasa ya 7 tahun berlalu...
    liat di tv aja udah merinding.
    nggak kebayang gimana kalo sy yg ada disana.
    semoga musibah seperti ini bs bikin kita jauh lebih inget sama Allah Swt.
    dan bisa nyadarin kita kalo kita bener-bener makhluk yang sangaaaaaaaaaaaaaaatttt kecil.

    ReplyDelete
  9. Rasanya walaupun mpe 100 tahun kenangan itu tetap lekat Ra...

    ReplyDelete
  10. Semoga itu makin mengingatkan bahwa kita ini HANYALAH MANUSIA ..

    ReplyDelete
  11. ngga bisa membayangkan gimana perasaan orang sana waktu itu, terjadi begitu saja dan semuanya hilang T^T

    ReplyDelete
  12. @srrriii: iya... semoga setiap musibah selalu mendekatkan kita pada sang Rabb..

    @ana: betol an, ga bakalan bisa lupa..

    @mfweblog's: Amin... semoga tidak menjadi manusia yang lupa diri.

    @Ladida C: kmi ga pernah terbayang bakal mengalami bencana yg bagaikan kiamat kecil itu..

    ReplyDelete
  13. @Gentist Geelong: yup, we are responsible for all the destruction we cause to the earth, we have to protect it from now on..

    ReplyDelete
  14. MasyaAllah :)
    mari muhasabah hari ini untuk esok yang lebih baik!

    ReplyDelete
  15. semoga gempa di aceh nggak terjadi di daerah lain yah sob :(

    ReplyDelete
  16. tameudoa adak jeut bek troh lee bala u nanggroe tanyoe..

    http://rampagoebgdj.blogspot.com/
    http://aceh-mp3.blogspot.com/

    ReplyDelete

Thanks for stopping by ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...