Monday, January 16, 2012

"Galak-galak kutak sigoe..."

Sebuah... (apa ya namanya? Pantun, syair, atau nyanyian, atau cerita?) yang sering dikisahkan kakek ketika aku kecil dulu. Suatu hikayat yang berisikan tanya jawab antara seekor unggas dan rumput, menguak rantaian kejadian yang berkaitan, bahwasanya segala hal -sekecil apapun- yang ada di dunia ini pada dasarnya terjadi dengan "kerja sama" beberapa makhluk.

Cakeuk weuk-weuk ji dong ateuh naleung panyang.

"Pakon panyang kah naleung?"
"Hana soe röt lon hai Pö."

"Pakon han ka röt kah keubeu?"
"Hana so gubeu lon hai Pö."

"Pakon han ka gubeu kah aneuk mit?"
"Saket prut lon hai Pö."


"Pakon saket kah prut?"
"Bu mentah lon hai Pö."

"Pakon mentah kah bu?"
"Kayee basah lon hai Pö."

"Pakon basah kah kayee?"
"Ujeun rhah lon hai Pö."

"Pakon ka rhah kah ujeun?"
"Cangguk laké lon hai Pö."

"Pakon ka laké kah cangguk?"
"Manøk puthuk lon hai Pö."

"Pakon ka puthuk kah manøk?"
"Siwah tak lon hai Pö."

"Pakon ka tak kah siwah?"
"Galak-galak ku tak sigoe..."


Hmm... Teringat masa-masa polos tanpa beban. Saat masih isap jempol dan cute... (kalau cute-nya sampai sekarang masih kan? Hehe...) Aku selalu meminta kakek menceritakan berbagai dongeng. Salah satunya yang satu itu..

5 comments:

  1. aceh kaya akan sastra cuma kita tak pernah menyadari dan malu akan budaya sendiri.... syairnya bagus dan aku juga sering mendengarnya... tapi sayang buat yang nggak ngerti bahasa aceh nggak ngerti apa yang di tulis... kalau boleh kasih saran dibuat terjemahannya.... 10 jempol buat artikel ini.. oh ya jangan lupa kunjung balik ya... ditunggu komntarnya...

    http://www.flora-fauna.blogspot.com/

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya memang, ini hany sepenggal yang sempat tercatat,.

      btw, mau bantuin translate? :)

      Delete
  2. Udah kakak follow balik ya blog-nya
    Tapi agak puyeng baca semua postingan nih.
    Apa karena warna latar dan warna tulisan ya?

    ReplyDelete

Thanks for stopping by ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...