Friday, February 17, 2012

Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah


Judul: Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah
Penulis: Tere-Liye
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 512 Halaman
Cetakan I Januari 2012
Ternyata, kemalasan menulis skripsi menular kepada aktivitas menulis saya lainnya. Termasuk menulis blog. Postingan pertama di bulan Februari. Novel terbaru dari Tere-Liye.
Adalah Borno, bujang berhati paling lurus sepanjang tepian sungai Kapuas. Borno menjadi yatim di usia 12 tahun, kehilangan ayahnya akibat sengatan ubur-ubur. Ia dewasa di sebuah rumah panggung sederhana di atas sungai. Bersama seorang ibu dan para tetangga yang luar biasa: Pak Tua, Bang Togar, Cik Tulani, dan Koh Acong.
Sebagai seorang lulusan Sekolah Menengah, kehidupan Borno teramat biasa dengan kesibukannya mencari pekerjaan. Mulai dari menjadi buruh di pabrik karet, menjadi tukang sobek karcis di dermaga pelampung, hingga akhirnya menetapkan pilihan sebagai Pengemudi Sepit. Borno mewarisi pekerjaan kakeknya yang adalah juragan sepit pada masanya.
Pekerjaan mengantar penumpang menyeberangi Kapuas mengantar Borno pada takdirnya yang lain: bertemu tambatan hati. Tepat ketika ia menemukan sepucuk amplop merah di dasar sepit Borneo miliknya, kehidupan biasanya perlahan menjadi lebih berwarna. Hari-hari Borno mulai diisi dengan mencari si Pemilik amplop, yang diduganya adalah seorang gadis bermata sipit yang pernah menumpang sepitnya. Gadis yang memiliki nama layaknya nama bulan: Mei.
Membaca bab-bab awal novel ini, mau tidak mau saya seperti diingatkan dengan kisah lugu Ikal dan A Ling dalam tetralogi Laskar Pelangi. Tidak ada kesamaan kisah di antara keduanya. Hanya saja asal usul Borno yang merupakan penduduk asli Pontianak terpikat pada seorang gadis keturunan, sama dengan Ikal dengan identitas Belitong aslinya juga jatuh hati pada seorang gadis etnis Cina. Itu saja. Kisah cinta mereka teramat berbeda.
Senada dengan novel-novel terdahulunya, Tere Liye mampu menciptakan tokoh-tokoh dengan karakter yang kuat dan tidak ambigu. Borno misalnya, ia digambarkan benar-benar sebagai ‘bujang berhati paling lurus sepanjang tepian sungai Kapuas’ yang agak keras kepala. Pak Tua adalah tokoh yang sangat bijak. Banyak kalimat-kalimat sederhana namun penuh makna muncul dalam dialog tokoh ini. Bang Togar juga diceritakan sebagai seorang Batak yang tidak kehilangan identitasnya meski telah berada jauh dari kampung asalnya. Demikian pula tokoh-tokoh lainnya.
Salah satu hal yang saya sukai dari novel-novel Tere Liye adalah pilihan katanya.  Kalimat-kalimat yang digunakan adalah kalimat sederhana yang mudah dipahami, yang membuat setiap novelnya terkesan ringan tanpa perlu kehilangan maknanya. Begitu pula novel ini.
Pada akhirnya, kisah Borno dan Mei ini bukanlah kisah cinta biasa. Anda akan benar-benar memahaminya setelah membaca. Karena seperti kalimat yang tertera di cover belakang bukunya: tidak perlu endorsement-endorsement dari para orang terkenal untuk novel ini. Cukup dari teman, kerabat, tetangga sebelah rumah. Siapa saja bisa memiliki kisah cinta luar biasa. Seperti  kata Pak Tua, cinta itu dapat dilihat dari perbuatan, bukan sekedar umbaran kata-kata gombal tanpa makna. Selamat membaca!

Note: Saya bukanlah seorang kritikus ataupun pengamat sastra, atau apa saja sebutan lainnya yang merujuk pada  seorang dengan keahlian khusus dalam menganalisis sebuah tulisan. Saya hanyalah penikmat. Lebih sederhananya, saya cuma seorang yang menyenangi bacaan, terutama fiksi. Atas dasar itulah, tulisan saya selalu saya sandarkan pada opini dan kesan saya terhadap buku yang saya baca. Sesederhana itu.

4 comments:

  1. Replies
    1. menurut teori sastra yang saya pelajari, tokoh2 d dlm novel ini tdk bulat. contohnya Pak Tua dan Borno. Pak Tua digambarkan sebagai orang yang sangat bijak dan tanpa celah kesalahan. sedangkan Borno sangat diagung2kan karena kelurusan sikapnya. itu menunjukkan tokoh2 dlm novel ini kurang memiliki kekuatan sebab tokohnya tidak bulat. tokoh bulat adalah tokoh yang memiliki kekurangan dan kelebihan di dalam dirinya sama halnya dengan manusia normal.

      Delete
  2. hhmmm...menurut saya, tokoh2 dlm novel tsb tdk bulat. termasuk Pak Tua, mengapa tidak bulat? sebab Pak Tua digambarkan sebagai orang yang sangat sangat bijak dan Borno benar benar lurus...menurut teori sastra, tokoh yang menarik adalah tokoh bulat, artinya tiap tokoh memiliki kekurangan dan kelebihan, layaknya manusia biasa....

    ReplyDelete

Thanks for stopping by ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...