Monday, May 28, 2012

Cerita KPM Bag. 1


Salam…

Ah, tak terasa bulan Mei akan segera usai. Intensif SNMPTN telah berjalan selama 27 hari, dan aku telah berada di tempat KPM selama 13 hari. Ah ya, KPM. Ini adalah singkatan dari Kuliah Pengabdian Masyarakat yang dulunya disebut KKN (Kuliah Kerja Nyata) mungkin seiring memburuknya makna KKN istilah tersebut pun berganti nama. Nah, karena waktunya sekalian dengan KPM, intensif tahun ini aku hanya sempat mengajar selama dua minggu.

Hmm… karena judul postingan ini adalah Cerita KPM, maka aku akan focus menulis tentang hal itu. Program KPM yang aku ikuti ini adalah program mandiri, yang semua biaya hidup dan kegiatan selama 45 hari di tempat KPM ditanggung oleh peserta. Oh ya, sebelumnya ada uang pendaftaran sebesar Sembilan ratus ribu. KPM mandiri kali ini ditempatkan di Kabupaten Aceh Jaya (Krueng Sabee, Teunom, dan…) dan Pidie (Padang Tiji dan Muara Tiga) yang berjarak sekitar 2-3 jam perjalanan dari kampung halamanku.


Selain mandiri, sebulan sebelumnya peserta KPM PAR telah berangkat ke tempat pengabdian di Bener Meriah. KPM mereka didanai dan mereka harus melakukan penelitian di tempat tinggal barunya. Lebih murah sekaligus lebih berat. Namun bukan alasan tersebut yang membuatku tidak berpartisipasi, melainkan karena tempatnya yang jauh di mata dan masyarakatnya punya bahasa sendiri… Bener Meriah adalah Kabupaten hasil pemekaran dari Aceh Tengah yang dihuni suku Gayo. Terletak di dataran tingggi dan aku tidak mengerti bahasa daerah mereka.

Singkat cerita, aku dan lima orang lainnya ditempatkan di Desa Piala Kunyet kecamatan Padang Tiji. Terletak sekitar 5-6 kilometer dari pusat kecamatan, gampong ini tidak terakses dengan baik. Sinyal hp tidak pernah penuh, bahkan modem yang kupasang di laptop menyatakan tidak ada jaringan. Itulah sebabnya aku tidak bisa meng-update situasi selama sebulan ini. Sebaiknya para provider Kartu SIM segera membangun tower penerima sinyal (entah iya itu namanya) di daerah ini, kalau mereka tidak ingin terus menerus menipu pelanggan dengan bualan jangkauan sinyalnya.

Back to the topic, kami diantar ke tempat pengabdian pada pertengahan bulan tepatnya tanggal 16 Mei. Saat pertama kali tiba di lokasi, aku sedikit khawatir mendapati gampong yang jauh di pelosok dengan banyaknya rumpun bamboo di tepi jalan. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa aku sama sekali belum mengenal anggota kelompok yang lainnya, entah aku bisa menyesuaikan diri dengan mereka atau tidak. Tapi, Alhamdulillah, masyakarat gampong ini ramah-ramah dan teman-teman kelompokku menyenangkan. Melihat keadaannya, boleh dikatakan aku betah tinggal di sini. Namun bukan berarti aku tidak ingin pulang lagi. Sekarang saja aku sudah kangen rumah…

Nah kegiatan kami di sini menyenangkan. Pergi ke kebun, membersihkan halaman rumah pak  Geuchik yang kami tempati (rumahnya kosong, jadi selama sebulan setengah ini mutlak milik kami, hehe), pergi ke pest bersama masyarakat, masak, mengajar les, dan itu-itu saja. Beda dengan PAR yang harus mengumpulkan hasil penelitian, kami santai-santai saja tanpa beban, haha (ntah iya pun).

Cukup sampai di sini. Hari ini tanggal 28 Mei. Kalaupun aku tidak sempat keluar ke kecamatan untuk bisa menggunakan modem, aku akan mengeset tanggal postingannya menjadi tanggal hari ini. Ok, see ya!

6 comments:

  1. semoga happy deah menjalani tugas dari instansi sobat

    ReplyDelete
  2. Wah, sepertinya, tempatnya terpencil sekali, ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe, jauh masuk ke dalam kak...

      Delete
  3. Yang penting jalan-jalan ke daerah barunya itu kan, Ra. masalah sepi kayaknya gak masalah dibanding pengalaman yang bisa dibawa pulang.Hehe :P

    ReplyDelete
  4. terima kasih atas artikel yg bermanfaat ini..

    bila berkenan follow back ya :)

    #Salam sehat selalu

    ReplyDelete

Thanks for stopping by ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...