Ah, tak terasa bulan Mei akan
segera usai. Intensif SNMPTN telah berjalan selama 27 hari, dan aku telah
berada di tempat KPM selama 13 hari. Ah ya, KPM. Ini adalah singkatan dari
Kuliah Pengabdian Masyarakat yang dulunya disebut KKN (Kuliah Kerja Nyata)
mungkin seiring memburuknya makna KKN istilah tersebut pun berganti nama. Nah,
karena waktunya sekalian dengan KPM, intensif tahun ini aku hanya sempat
mengajar selama dua minggu.
Hmm… karena judul postingan ini
adalah Cerita KPM, maka aku akan focus menulis tentang hal itu. Program KPM
yang aku ikuti ini adalah program mandiri, yang semua biaya hidup dan kegiatan
selama 45 hari di tempat KPM ditanggung oleh peserta. Oh ya, sebelumnya ada
uang pendaftaran sebesar Sembilan ratus ribu. KPM mandiri kali ini ditempatkan
di Kabupaten Aceh Jaya (Krueng Sabee, Teunom, dan…) dan Pidie (Padang Tiji dan
Muara Tiga) yang berjarak sekitar 2-3 jam perjalanan dari kampung halamanku.
Selain mandiri, sebulan sebelumnya
peserta KPM PAR telah berangkat ke tempat pengabdian di Bener Meriah. KPM
mereka didanai dan mereka harus melakukan penelitian di tempat tinggal barunya.
Lebih murah sekaligus lebih berat. Namun bukan alasan tersebut yang membuatku
tidak berpartisipasi, melainkan karena tempatnya yang jauh di mata dan masyarakatnya
punya bahasa sendiri… Bener Meriah adalah Kabupaten hasil pemekaran dari Aceh
Tengah yang dihuni suku Gayo. Terletak di dataran tingggi dan aku tidak
mengerti bahasa daerah mereka.
Singkat cerita, aku dan lima orang
lainnya ditempatkan di Desa Piala Kunyet kecamatan Padang Tiji. Terletak
sekitar 5-6 kilometer dari pusat kecamatan, gampong ini tidak terakses dengan
baik. Sinyal hp tidak pernah penuh, bahkan modem yang kupasang di laptop
menyatakan tidak ada jaringan. Itulah sebabnya aku tidak bisa meng-update
situasi selama sebulan ini. Sebaiknya para provider Kartu SIM segera membangun
tower penerima sinyal (entah iya itu namanya) di daerah ini, kalau mereka tidak
ingin terus menerus menipu pelanggan dengan bualan jangkauan sinyalnya.
Back to the topic, kami diantar ke
tempat pengabdian pada pertengahan bulan tepatnya tanggal 16 Mei. Saat pertama
kali tiba di lokasi, aku sedikit khawatir mendapati gampong yang jauh di
pelosok dengan banyaknya rumpun bamboo di tepi jalan. Ditambah lagi dengan kenyataan
bahwa aku sama sekali belum mengenal anggota kelompok yang lainnya, entah aku
bisa menyesuaikan diri dengan mereka atau tidak. Tapi, Alhamdulillah,
masyakarat gampong ini ramah-ramah dan teman-teman kelompokku menyenangkan.
Melihat keadaannya, boleh dikatakan aku betah tinggal di sini. Namun bukan
berarti aku tidak ingin pulang lagi. Sekarang saja aku sudah kangen rumah…
Nah kegiatan kami di sini
menyenangkan. Pergi ke kebun, membersihkan halaman rumah pak Geuchik yang kami tempati (rumahnya kosong, jadi
selama sebulan setengah ini mutlak milik kami, hehe), pergi ke pest bersama
masyarakat, masak, mengajar les, dan itu-itu saja. Beda dengan PAR yang harus
mengumpulkan hasil penelitian, kami santai-santai saja tanpa beban, haha (ntah iya pun).
Cukup sampai di sini. Hari ini
tanggal 28 Mei. Kalaupun aku tidak sempat keluar ke kecamatan untuk bisa
menggunakan modem, aku akan mengeset tanggal postingannya menjadi tanggal hari
ini. Ok, see ya!

semoga happy deah menjalani tugas dari instansi sobat
ReplyDeletemakasih ya... :)
DeleteWah, sepertinya, tempatnya terpencil sekali, ya
ReplyDeletehehe, jauh masuk ke dalam kak...
DeleteYang penting jalan-jalan ke daerah barunya itu kan, Ra. masalah sepi kayaknya gak masalah dibanding pengalaman yang bisa dibawa pulang.Hehe :P
ReplyDeleteterima kasih atas artikel yg bermanfaat ini..
ReplyDeletebila berkenan follow back ya :)
#Salam sehat selalu