Saturday, December 29, 2012

GA YaAllahBeriAkuKekuatan, Aida MA


KISAH CINTA ZUHRA DAN ZAKIAH

Saya ingin bercerita tentang cinta. Cinta yang sangat dalam dari dua orang insan yang disatukan dengan yang tidak akan pernah terputus: ikatan darah.

Kakinya cekatan menyusuri jalur sempit pematang sawah. Di bahunya, sekarung padi yang baru saja dilerai dari tangkai terguncang-guncang mengikuti gerak tubuh mungilnya. Langit telah memerah darah. Sebentar lagi azan magrib berkumandang. Ia harus segera tiba di rumah sebelum putri bungsu dan hewan peliharaannya cemas menunggu. Ia mempercepat langkahnya.

 Perlahan jurong[1] yang akan membawanya menuju rumah terbentang di hadapan. Ia pun bergegas dan tepat ketika pintu rumah dibuka dari luar, azan magrib mengudara. 

“Mak, pajoh bu![2] Sambut putrinya ketika perempuan itu menurunkan panggulan dari pundak ke lantai rumahnya.

“Preh dilee siat, mak hek that nyoe,[3]  ujar perempuan itu.

“Pajoh bu jinoe![4] ultimatum si anak. Sang ibu pun bangkit memenuhi permintaan buah hatinya.


Dapur itu berbentuk persegi panjang dengan kamar mandi di bagian belakangnya. Peralatan dapur berupa kompor serta kuali terletak di barat ruangan dan berhadapan langsung dengan pintu dapur. Rak piring berada tepat di samping pintu. Sebelah lemari pakaian tua serta seperangkat meja dan kursi berada di bagian timur ruangan.

Sang anak duduk di tangga yang menghubungkan dapur tersebut dengan bangunan rumah panggung warisan orang tuanya. Tanpa perlu turun ke dapur atau naik ke rumah panggung tempat mereka tidur, si anak segera saja melahap nasi sayur dari piring yang disodorkan ibunya. Setelah menandaskan sepiring nasi dan segelas air, ia pun kembali ke atas, menyibukkan diri dengan dunianya.
###
Namanya Zuhrah. Seorang perempuan beranak empat yang berasal dan kembali ke desa Lambeutong, Indrapuri. Ia telah menjanda sejak dua belas tahun silam ketika suaminya mendahului mereka kembali ke haribaan Allah SWT. Putra sulungnya telah lama merantau ke Riau dan hanya pulang beberapa kali. Anak keduanya, perempuan, telah berkeluarga dan memberikan mereka tiga orang cucu laki-laki. Anak ketiganya mengikuti jejak abang sulungnya setelah bencana tsunami melanda. Kini Zuhrah hanya tinggal berdua dengan putri bungsunya yang istimewa, Nur Zakiah.

Saya akan bercerita tentang cinta. Cinta yang sangat dalam dari anak kepada ibunya.

Zakiah adalah perempuan berusia sekitar 30 tahun yang terperangkap dalam jiwa kanak-kanak. Ia telah mengalami cacat mental sejak masih sangat muda. Tanpa menamatkan pendidikan sekolah dasar, Zakiah menjadi anak yang sangat bergantung kepada kedua orang tuanya. Ia tidak dapat melakukan hal yang paling sepele pun untuk dirinya sendiri. Bahkan berpakaian dan membuang hajat masih harus ditangani sang ibu.

Dengan keterbatasannya, ia pun memahami cinta yang tulus. Suatu ketika Zuhrah jatuh sakit dan tidak dapat bangkit dari tempat tidur. Zakiah yang saat itu tidak terlalu ‘sakit’ sedikit banyak memahami keadaan ibunya. Dengan berdasarkan cinta yang ia miliki, Zakiah turun ke dapur dan berusaha mencari-cari makanan untuk disuapkan kepada sang ibu. Dengan paniknya Zakiah  mencoba menghidupkan korek untuk menanak nasi. Namun Zuhrah berhasil mencegah anaknya melakukan hal yang dapat membahayakan diri dengan memintanya membawakan segelas air saja. Tak lama kemudian keponakan yang tinggal tak jauh dari rumah mereka datang dan menanak nasi untuk ibu dan anak tersebut.

Saya akan bercerita tentang cinta. Cinta yang sangat dalam dari ibu kepada anaknya.

Dengan keistimewaan si putri bungsu, Zuhrah sebagai ibu amat sangat mencintainya. Tak pernah sekalipun ia menyesali keadaan. Pernah suatu ketika Zakiah pergi dari rumah. Ia berjalan-jalan dan tersesat tanpa tahu jalan pulang. Semalaman sang ibu mencarinya hingga terdengar kabar bahwa anaknya ada di rumah kerabat yang terletak di desa tetangga. Betapa lega rasa hatinya mengetahui si buah hati baik-baik saja.

Lain kali Zakiah mengacak-acak kertas kerja abangnya yang membuat sang abang amat berang kepadanya. Pemuda itu dengan marahnya mengangkat tubuh sang adik dan entah setan apa yang merasuki, ia mengarahkan Zakiah ke jendela hendak melemparnya ke luar dari ketinggian rumoh Aceh mereka. Beruntung Zuhrah melihat kejadian tersebut dan mencegah musibah itu terjadi. Dengan terisak ia menghampiri putranya.

“Walaupun dia telah mengacak-acak dan menghilangkan barang-barang penting, ia tetap adikmu! Kalau komputer kamu rusak, mak akan berusaha menggantinya. Tapi Zakiah itu adikmu, kalau terjadi apa-apa dengannya kita tidak akan dapat mencari gantinya.”

Saat itu putranya hanya terdiam, tak mengerti dengan apa yang baru saja hendak ia lakukan terhadap adiknya.

Perempuan yang telah menjalani hidup lebih dari setengah abad ini telah ditempa oleh kerasnya hidup dan pengabdian. Ia telah terbiasa kehilangan orang-orang yang dicintainya. Setelah suaminya pergi, ia kembali ke rumah orang tuanya di desa Lambeutong untuk merawat sang ibu yang sudah sakit-sakitan. Tahun demi tahun dijalaninya dengan penuh sabar dan telaten. Ia memandikan, membersihkan, mempersiapkan dan menyuapkan makanan ke ibunya yang telah terbaring lemah tak berdaya. Sang ibu bahkan tidak lagi mengenal anaknya. Namun keadaan itu tidak menyurutkan niatnya untuk berbakti kepada wanita yang telah merawatnya sejak masih di dalam alam kandungan. Ketika akhirnya sang ibu kembali ke pangkuan ilahi, Zuhrah pun tetap menempati rumah orang tuanya sebagai hasil dari pembagian mawaris dengan saudara-saudarinya.

Saya sedang bercerita tentang cinta. Cinta yang teramat dalam di antara dua insan.

Untuk menghidupi diri dan putrinya, Zuhrah menggarap sawah keluarga dan membagi hasilnya dengan kakak dan adiknya. Sesekali anak-anak mengirimi sedikit hasil pendapatan mereka. Karena kedua anak lelaki berada di luar daerah, kebutuhannya yang tidak dapat dipenuhi sendiri menjadi tanggung jawab adik bungsunya yang tinggal berselang tiga desa dari Lambeutong. Selain bertani, Zuhrah juga mengajar anak-anak desa mengaji di balee beut[5] pada malam harinya. Dengan mengunci Zakiah di rumah, ia menyusuri gelap malam menuju bangunan yang terletak di tengah desa untuk memperkenalkan kalam ilahi kepada generasi muda desa dan baru kembali sekitar jam sembilan. Kadang-kadang putrinya telah terlelap saat ia tiba.

Ia seorang perempuan yang bahagia dengan keadaannya. Dengan segala ujian dan anugerah yang Allah karuniakan, Zuhrah tidak pernah menyesali keadaan Zakiah yang tidak dapat mengurus dirinya sendiri. Satu hal yang dirisaukan jika ia menghadap Allah kelak adalah bahwa Zakiah akan tinggal seorang diri. Memang mereka memiliki saudara. Namun sebagaimana adanya seorang ibu, tidak ada yang dapat memahami seorang anak melebihi ibunya sendiri.

“Menyoe lon meuninggai singoh, so yang jaga si Zakiah?[6] begitu risaunya selalu.

Sementara Zakiah hanya menatap ibunya dengan pandangan kosong tanpa tanda-tanda memahami perkataannya. Ia telah kembali larut dalam dunianya. 

Memang, tidak ada yang dapat melampaui cinta seorang ibu kepada anaknya kecuali cinta Allah dan Rasul terhadap hambanya. Ah, cinta yang sangat dalam!


[1] Lorong
[2] Mak, makan!
[3] Tunggu sebentar, mak capai sekali.
[4] Makan sekarang!
[5] Balai mengaji
[6] Kalau saya meninggal nanti, siapa yang akan menjaga Zakiah?

____________________________

Tulisan ini diikutsertakan dalam Give Away - YaAllahBeriAkuKekuatan, Aida MA. Info lengkapnya di sini.




5 comments:

  1. Suka banget aku sama alur kisahnya..salut.

    ReplyDelete
  2. woww, ceritanya mengharukan
    cinta ibu tak terhingga kepada anaknya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih... :)
      iya, cinta ibu sepanjang jalan.

      Delete
  3. lagi mampir untuk penilaian...tunggu 30 january ya :)

    ReplyDelete

Thanks for stopping by ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...