Sunday, April 28, 2013

"Maka Nikmat Tuhanmu yang Manakah yang Kamu Dustakan?"

#New Post, Bismillah...

Sudah berapa lama sejak terakhir kali saya memposting catatan? Well, sudah lama sekali tentunya. Mengingat saya memang belum menghasilkan satu pun 'tulisan' di tahun ini. Tentu saja, yang saya maksud adalah jenis tulisan yang biasanya mengisi blog ini.

Ada dua alasan untuk kekosongan ini: sok sibuk dan malas. Awal tahun - Januari - saya dikejar deadline untuk menyelesaikan dua buah modul bahan ajar Bahasa Inggris untuk kelas tiga SMA. Lainnya lagi adalah naskah novel yang harus dikirim paling lambat 2 Februari. Maret saya tersengat oleh kabar adik leting akan naik seminar proposal skripsi yang membuat saya ikut alih fokus ke tugas maha penting itu - walaupun pemicu sebenarnya adalah karena pembimbing sudah menagihnya.

Nah, bukan cerita kesoksibukan saya yang menjadi inti postingan kali ini. Paragraph di atas hanyalah intro sebelum saya masuk ke topik yang sebenarnya. Sebuah catatan yang mungkin agak panjang dan semoga tetap ringan untuk dicerna.
"Maka, nikmat tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"

Saturday, April 13, 2013

Kei, Kana, dan Kopi

Banna mencari-cari target mereka. Matanya lalu tertuju pada dua lelaki berwajah oriental yang baru saja melangkahkan kaki dari pintu kedatangan bandara Sultan Iskandar Muda. Satu di antaranya jangkung. Sementara yang satu lagi lebih pendek darinya. Keduanya memandang berkeliling seakan mencari wajah yang mereka kenal.

“Itu ya, Dek?” Banna menyikut adiknya.

“Kazehaya Kei-san!” seru Beuna.

Dua turis tersebut menoleh. Melihat tulisan di tangan Beuna, mereka mendekat.

“Kazehaya-san?” Tanya Banna.

“Iya,” Kei menjawab. “Ini teman saya Shohei.”

“Ah, hajimemashite,” balas Banna. “Saya Banna dan ini Beuna. Kami adiknya kak Kana.”

Keempatnya berbincang sebentar. Basa-basi bertukar kabar. Namun karena karakter Banna dan Beuna yang tidak jauh berbeda dari kakak mereka, bahkan cenderung lebih banyak bicara dari Kana, keduanya langsung bisa akrab dengan kedua tamu, terutama Shohei. Tak lama kemudian mereka menuju parkiran. Banna mengeluarkan mobil.

“Mau singgah sebentar untuk minum kopi? Kopi Aceh terkenal khas.”

Shohei melirik Kei. “Bagaimana? Apa kau sanggup menahan rindumu sebentar lagi?”

Kei menimpuk kepala Shohei. Ia mengangguk pada Banna dan Beuna. “Kurasa itu ide yang bagus.”

Ya, mencicipi minuman favorit Kana langsung dari daerah asalnya adalah pembuka yang baik sebelum menemui gadis itu. Kei tersenyum senang. Membayangkan akan segera berjumpa Kana setelah mereguk minuman hitam kesukaan si gadis.

Saturday, April 6, 2013

Clumsy Love

“Cantik seperti biasa,” Rio tersenyum pada dirinya sendiri begitu memasuki kelas. Pandangannya tidak lepas dari deretan bangku di sisi dinding. Tepatnya terpaku pada seorang gadis berambut panjang yang sedang membaca buku. Pujiannya tadi adalah untuk gadis yang duduk di dekat jendela tersebut. Gadis impiannya.
Rio menuju mejanya di deretan tengah lalu duduk dengan posisi menghadap si gadis. Ia mengambil sebuah buku dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Seolah-olah matanya tidak bisa melihat huruf-huruf yang tertera dengan jelas. Sambil pura-pura membaca, Rio mencuri-curi pandang pada gadis yang duduk satu bangku di depan pada deretan sebelah kirinya. Masih ada sepuluh menit lagi hingga bel masuk berbunyi. Masih ada waktu yang cukup untuk memerhatikannya.
Bangku ketiga dari belakang pada deretan tersebut kosong. Tepat di samping pujaan hatinya. Kesempatan. Rio meraih tasnya tanpa berpikir. Tapi sebelum ia sempat bangkit dari bangkunya, seorang siswa sudah duduk di sana.
Rio mendesah kecewa, terpaksa meletakkan kembali tasnya. Perhatiannya kini beralih kepada anak laki-laki itu yang mengajak gadisnya bicara. Rio mendesah sebal. Harusnya kan ia yang duduk di samping si gadis dan bicara dengannya. Ia cemberut. Cemburu.
Tiba-tiba si gadis pujaan menoleh ke arah Rio dan tersenyum. Ia yang tidak siap dengan situasi itu hanya membalasnya kikuk. Salah tingkah.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...