Sunday, April 28, 2013

"Maka Nikmat Tuhanmu yang Manakah yang Kamu Dustakan?"

#New Post, Bismillah...

Sudah berapa lama sejak terakhir kali saya memposting catatan? Well, sudah lama sekali tentunya. Mengingat saya memang belum menghasilkan satu pun 'tulisan' di tahun ini. Tentu saja, yang saya maksud adalah jenis tulisan yang biasanya mengisi blog ini.

Ada dua alasan untuk kekosongan ini: sok sibuk dan malas. Awal tahun - Januari - saya dikejar deadline untuk menyelesaikan dua buah modul bahan ajar Bahasa Inggris untuk kelas tiga SMA. Lainnya lagi adalah naskah novel yang harus dikirim paling lambat 2 Februari. Maret saya tersengat oleh kabar adik leting akan naik seminar proposal skripsi yang membuat saya ikut alih fokus ke tugas maha penting itu - walaupun pemicu sebenarnya adalah karena pembimbing sudah menagihnya.

Nah, bukan cerita kesoksibukan saya yang menjadi inti postingan kali ini. Paragraph di atas hanyalah intro sebelum saya masuk ke topik yang sebenarnya. Sebuah catatan yang mungkin agak panjang dan semoga tetap ringan untuk dicerna.
"Maka, nikmat tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"

Setiap muslim pasti akrab dengan kalimat tersebut. Ayat ini diulang berkali-kali dalam surah ar-Rahman. Setiap satu ayat yang menggambarkan nikmat Allah diikuti oleh kalimat ini. Karena itu, bagi saya ini adalah kalimat sindiran untuk mengingatkan manusia yang amat bebal untuk bersyukur (bebal itu saya tujukan untuk saya sendiri. Jadi Anda tidak perlu tak berkenan dengan pilihan kata-kata saya).

Nah, apa saja yang harus disyukuri? 

Pertanyaan bodoh. Yang seharusnya ditanya adalah: memangnya ada nikmat yang tidak perlu atau tidak patut disyukuri?

Manusia seringkali memiliki masalah dengan penglihatan mata hatinya. Rabun. Hanya dapat melihat hal-hal yang besar namun tidak peka dengan hal kecil, contohnya: rumah besar vs gubuk kecil, mobil mewah vs kereta angin, dan sebagainya. Bagi sebagian orang, akan mudah untuk mengucapkan syukur saat mereka memiliki benda-benda yang saya sebut sebelum 'vs'. Ketika suatu hari benda-benda tersebut terganti dengan pasangannya, maka sangat sedikit yang masih tetap melafazkan syukur di bibir dan hatinya. Padahal, apa yang salah dengan benda-benda tersebut sehingga keberadaan mereka tak perlu disyukuri? Bukankah semuanya berasal dari Sang Pemurah? Mudah-mudahan Anda paham dengan analogi saya. Tidak ada nikmat yang terlalu kecil untuk bisa berterima kasih.

Jadi, seberapa banyak nikmat yang sepatutnya kita syukuri? Pernahkah ada yang mencoba menghitung?
 "Jika kau hendak menghitung nikmat Allah, sungguh kau tidak akan sanggup menghitungnya."
Sang Pemberi Nikmat telah memperingatkan. Tidak akan cukup usia kita untuk menghitung nikmat yang kita dapatkan dalam satu hari saja. Karena dalam ayat lain telah dijelaskan tidak akan cukup semua ranting, daun, dan air yang ada di dunia untuk menuliskan segala nikmat-Nya.

Sebenarnya, ada alasan kenapa saya ingin menulis ini meski ada hal lain yang sudah lebih dahulu mengendap dalam pikiran saya. Saya ingin mengikat kesadaran ini lebih lama lagi. Kesadaran untuk mensyukuri nikmat besar yang hampir tidak pernah saya pedulikan sebelumnya, yang harus saya akui berasal dari sebuah kalimat singkat yang selama hampir dua bulan ini sering mampir ke ponsel saya. Kalimat yang -karena berulang-ulang- pada awalnya saya anggap klise tetapi punya makna yang sangat dalam ketika direnungkan. Kalimat itu sederhana saja:
Alhamdulillah masih bisa bernapas...
Ya. Sebuah jawaban dari pertanyaan, "Apa kabar?"

Alhamdulillah masih bisa bernapas. Kalau saya tidak salah ingat, salah satu ciri makhluk hidup yang saya pelajari pada pelajaran Biologi bertahun silam adalah bernapas - mohon dikoreksi jika salah. Jadi apa intinya? Bernapas adalah pertanda bahwa sesuatu itu hidup. Jika tidak bernapas, ia mati. Bahkan orang yang sudah terminally ill, otaknya sudah mati selama bertahun-tahun tetap dipasangkan respirator dan feeding tube untuk menjaganya tetap hidup. Jadi, adakah alasan untuk tidak bersyukur atas udara yang masih bisa dinikmati dengan bebas tanpa perlu membayar? Kalaupun O2-nya sudah tidak gratis lagi karena sudah berada di dalam tabung, apakah napas yang setiap detik dihela tidak cukup untuk disebut nikmat?

Bernapas menyangkut serangkaian proses yang kompleks. Melibatkan berbagai organ luar dan dalam tubuh. Rumit. Tidak terbayang jika harus berkonsentrasi untuk menghirup dan menghembuskan udara berkali-kali setiap detiknya. Tidak akan ada cukup waktu untuk melakukan hal lain apalagi bekerja mengumpulkan harta. Usia manusia hanya cukup digunakan untuk bernapas.

Namun kenyataannya, setiap organ dalam tubuh bekerja secara otomatis sesuai fungsi yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta. Otak, paru-paru, jantung, hati, ginjal, bahkan darah dan lain sebagainya menjalani tugas mereka tanpa manusia perlu 'sengaja' untuk menyuruhnya. Jika manusianya hanya diam tak bergerak, atau bahkan tidur, organ-organ dalam tubuhnya tidaklah ikut tidur. Bahkan ada kalanya beberapa organ lebih aktif ketika pemilik tubuh beristirahat. Mereka hanya akan berhenti jika Dia memerintahkan. Lalu, apa yang terjadi jika salah satu organ saja mogok? Semuanya maklum, salah satu nikmat terbesarnya telah dicabut oleh-Nya.

Meskipun demikian, segala keotomatisan kerja organ sering membuat kita tidak menyadarinya. Seperti cerita tadi. Seseorang tidak akan sadar betapa bernapas secara normal adalah sebuah nikmat yang sangat besar sampai ia harus membayar untuk udara yang dihirupnya, atau hingga bernapas menjadi suatu hal yang sulit untuk dilakukan. Hey, saya tidak akan bisa menyelesaikan tulisan ini jika dalam waktu yang bersamaan harus memusatkan pikiran untuk bernapas, merangkai ide menjadi kalimat, dan mengetikkannya di laptop!

Tidak ada orang yang lupa untuk bernapas. Yang ada adalah lupa bahwa bernapas merupakan nikmat yang amat besar dan bisa saja dicabut kapan-kapan. Manusia seringkali menyadari suatu nikmat saat nikmat tersebut tidak lagi menjadi miliknya. Jadi, marilah mengucapkan syukur atas segala nikmat yang masih Ia izinkan untuk kita nikmati. Tak usah menghitungnya satu-satu. Syukuri saja semuanya.

Alhamdulillah 'alaa kulli maa a'thaitanaa...

2 comments:

  1. Hmm.. kadang kita emang lupa untuk bersyukur ya kak, padahal dengan mensyukuri Allah akan menambah kenikamatan tersebut kan..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya.. memang sudah begitu sifatnya manusia..
      Allah telah berjanji akan menambah nikmat-Nya jika kita bersyukur..

      Delete

Thanks for stopping by ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...