Sunday, May 26, 2013

On a Journey

[Sebenarnya ini apa? Sepertinya aku menyukai sahabat laki-lakiku. Jadi, kukatakan saja kepadanya, "Sepertinya aku menyukaimu." Usiaku dua puluh empat tahun. Tidak lagi menjadi sebuah masalah besar ketika aku menyatakan perasaan kepada seseorang yang aku suka, bukan?]

Judul : On a Journey
Penulis : Desi Puspitasari
Penerbit : Bentang
Tebal : 262 Halaman
Cetakan Pertama, Januari 2013

Februari lalu saya memesan paket buku merah jambu dengan spesifikasi paket bertepuk sebelah tangan pada penerbit Bentang. Paket tersebut berisi empat buku: Keliling Korea (yang belum saya buka plastiknya, karena saya lebih tertarik ke Jepang), Kick Andy: Kisah Inspiratif 3, Sunset in Weh Island, dan On a Journey. Di antara keempat buku tersebut, yang terakhirlah yang menjadi favorit saya. Ada banyak penyebabnya: tema (life story, not ultimately love story), gaya bercerita, dan bahasa yang digunakan (baku namun ringan saja). Entah sejak kapan saya tidak lagi terlalu menyenangi buku yang menggunakan bahasa gaul remaja dalam penceritaannya. Pengaruh usia, mungkin (heee!). Sedikit sinopsisnya:


Rubi Tuesday, seorang penulis muda menyatakan rasa sukanya kepada satu-satunya teman laki-laki yang ia miliki, Stine. Ditolak. Rubi kira ia tidak akan peduli pada jawaban si teman. Namun ternyata hatinya seperti dicubit. Ia patah hati.

Beberapa hari berikutnya Stine mengajak bertemu, tidak jadi. Rubi malah ditinggal pergi begitu saja, diminta untuk pergi jauh. Ia jadi tahu bagaimana rasanya hati yang hancur berkeping-keping. 

Belajar dari Stine yang menghindar -kalau tidak bisa disebut melarikan diri- darinya, Rubi memutuskan untuk melakukan perjalanan. Tidak ingin lagi berurusan dengan laki-laki itu yang kembali sibuk menghubunginya dan meminta maaf. Jawaban yang dilontarkan pertama kali secara spontan itulah yang paling jujur, bukan yang telah diralat kembali. Rubi mengeluarkan sepeda tua dari gudang, membereskan barang seadanya yang dijejalkan ke dalam satu ransel, dan menaiki bus untuk menuju kota yang belum pernah ia datangi. Semua dilakukannya karena patah hati. Bukan untuk menuruti permintaan Stine.

Namun perjalanan yang kurang rencana tersebut sudah pasti tidak akan mulus. Rubi diturunkan di sebuah stasiun di sebuah kota kecil yang tidaklah dekat dengan tujuannya. Ia tidak membawa peta. Mulailah ia mengayuh sepeda tanpa arah. Petualangan sesungguhnya dimulai. Rubi bertemu orang-orang yang baru, belajar banyak hal dari mereka, dan bahwa melarikan diri bukanlah cara seorang ksatria...

I love this book. Hanya ada sedikit dialog namun tidak terkesan berat. Penulis bisa memaparkan narasi yang berhalaman jumlahnya tanpa terasa membosankan. Deskripsi tempat yang begitu nyata, (meski menurut saya semuanya itu fiktif) detil yang tidak terlupa, dan tentu saja, bahasa yang ringan dan bahkan mengundang tawa.

Hanya saja saya sedikit terganggu pada bab 9 halaman 105. Penulis berkali-kali menyebutkan "Pak Oto" padahal awalnya Rubi sedang berbicara dengan "Pak Sam", pemilik kedai yang mempekerjakannya selama beberapa hari. Saya tidak tahu, apa di sana memang benar Pak Oto, atau seharusnya adalah Pak Sam dan penulis silap menamainya.

Intinya, saya suka buku ini dan bicara tentang perjalanan, saya pun sangat ingin melakukannya. Mungkin terpengaruh dari tontonan dan bacaan yang banyak membahas tentang petualangan dan backpacking. Ya, saya ingin pergi ke suatu tempat yang belum pernah saya kunjungi, melihat kehidupan di tempat baru, belajar banyak hal. Tapi tidak akan terwujud dalam waktu dekat, berhubung saya buta arah, belum punya uang, dan tidak berani sendirian. Mungkin suatu hari nanti, saat saya sudah memiliki "teman".

Nah, saatnya hunting novel baru. Ada saran?

No comments:

Post a Comment

Thanks for calling at ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...