Sunday, July 28, 2013

Future Planning

Bismillah...

Akhir-akhir ini -kira-kira sejak beberapa bulan yang lalu- ada suatu hal yang mulai mengganggu pikiran saya. Saya mulai memikirkan 'masa depan'. Iya, apa yang akan saya lakukan bulan depan, tahun depan, dan seterusnya. Aneh kah?

Pertanyaannya, berapakah usia saya sekarang? Insya Allah September nanti hitungan kehidupan saya akan menggenapi angka 23. Kombinasi angka yang -mungkin- tidak lagi dianggap remaja -apalagi anak-anak. Meskipun begitu, saya tidak memiliki bayangan akan berada di mana saya esok hari. Alasannya jelas. Saya tidak punya rencana. Saya belum punya target. Saya belum tahu apa yang akan ataupun ingin saya lakukan. Parah, ya?


Itulah sebabnya belakangan ini saya mulai merenung. Mulai banyak berpikir. Mulai ingin untuk merencanakan masa depan. Saya mulai mencari tahu apa yang saya inginkan. Namun demikian, muncul pertanyaan lain dalam benak saya, apa tidak terlalu terlambat jika ingin merencanakan masa depan sekarang?

Saya patut bersyukur hidup saya sejak lahir hingga sekarang aman-aman saja. Maksud saya, berjalan sesuai dengan jalan yang telah digariskan Allah dan saya belum pernah sekalipun merasa ingin memberontak. TK, MIN, Sekolah Menengah, bahkan kuliah pun saya jalani dengan senang hati. Pilihan saya dan pilihan orangtua sejalan. Tidak ada masalah.

Sejak kuliah saya belajar bertanggung jawab untuk diri sendiri. Alhamdulillah, saya mempunyai orangtua yang tolerir dan selalu mendukung apa yang saya lakukan. Banyak keputusan penting yang saya ambil berpengaruh terhadap jalan hidup saya. Setiap ada persoalan, saya akan berkonsultasi dengan orangtua dan mereka akan memberikan masukan. Namun keputusan mutlaknya ada pada saya. Termasuk keputusan untuk mengambil kuliah di dua tempat secara bersamaan sekaligus kerja paruh waktu sejak tahun 2008 lalu. Banyak cerita yang tidak akan tercipta jika Allah tidak memberi saya petunjuk untuk mengambil keputusan besar tersebut.

Tahun 2012 lalu saya sudah mendapat gelar Sarjana Pendidikan Islam dari jurusan Bahasa Inggris IAIN Ar-Raniry, Banda Aceh. Saya masih mengajar di lembaga pendidikan A Plus dan di almamater saya dulu, Pesantren Tgk. Chiek Oemar Diyan. Insya Allah tahun ini -mohon doanya- saya akan meraih gelar Sarjana Ekonomi dari jurusan Akuntansi Unsyiah. Setelah itu selesai. Saya bukan lagi mahasiswi. Mungkin masih akan tetap bekerja di dua tempat tadi tapi posisi say bukannya tidak tergantikan. Jadi apa rencana saya selanjutnya?

Saya harus memiliki rencana, tentu saja. Siapa bilang merencakan masa depan itu dilarang? Tidak ada yang mengetahui masa depan, semuanya rahasia Allah. Benar. Namun, bukankah manusia hanya bisa berencana dan berusaha menjalankan rencananya? Soal terwujud atau tidak itu urusan Allah.

Dengan pemahaman tersebut saya mulai menyusun kerangka pemikiran: pendidikan, karir, keluarga. Tiga hal tersebut yang terlintas dalam pikiran saya. Tidak, urutan tersebut bukanlah skala prioritas. Hanya merupakan reflek jari saya saat mengetiknya. Duniawi? Saya rasa tidak. Bukankah segala yang ukhrawi memang harus terintegrasi dalam kehidupan dunia?

Pendidikan jelas. Saya ingin sekolah S2. Karir, saya masih merasa cukup dengan apa yang saya jalani sekarang. Lalu keluarga... ini yang sedikit tidak menyenangkan. Lazimnya perempuan di Aceh -saya tidak tahu di tempat lain- pertanyaan yang menyusul setelah wisuda sarjana adalah pertanyaan sakral: kapan menikah. Saya beberapa kali menerima pertanyaan ini dan saya tidak menyukainya. Hei, urutannya kan bukan 'skripsi-sidang-wisuda-menikah'? Hanya tiga yang pertama saja. Yang keempat itu rahasia Allah. Alhamdulillah, sekali lagi saya bersyukur orangtua saya bukan tipe yang menganut paham empat urutan di atas.

Rencana yang mulai menguat dalam benak saya adalah melanjutkan pendidikan ke Strata selanjutnya. Itu masih rencana kasar, belum lengkap dengan detil seperti apa, kemana, bagaimana serta hal-hal lain untuk menjalankan rencana tersebut. Saya mulai merintis jalan ke arah sana. Pendidikan S1 saya dibiayai orangtua, karena itu saya bertekad untuk kali ini tidak lagi membebani mereka. Saya harus bisa kuliah dengan beasiswa. Tentu saja, tidak akan terwujud dalam waktu sebulan dua bulan. Tapi paling tidak saya punya target untuk saat ini, dan saya akan berusaha mewujudkannya.

Jadi intinya, saya sedang merencanakan masa depan seperti apa yang ingin saya jalani kelak. Untuk waktu yang abstrak. Tidak ada yang tahu apakah saya akan hidup bahagia hingga menjadi seorang nenek ataukah usia saya hanya tinggal besok. Itu wewenang Allah. Urusan saya adalah merencanakan dan berusaha keras mewujudkannya sepanjang waktu yang saya punya. Sebagai bentuk rasa syukur bagi kehidupan yang telah dianugerahkan oleh-Nya.

OK, saatnya mencari secarik kertas untuk dicoret-coret, membuat list apa yang ingin saya capai. Mungkin juga membuka kembali 'dream book' yang belum sempat saya isi dulu. Salam.

14 comments:

  1. wah. aku doain lah moga lancar cita-citanya. insya Allah.
    undangannya ditunggu yaa (nah lho??)

    ReplyDelete
  2. Wah, baru tau saya kalo khaira kuliah di dua tempat. Mantap kali ya.
    Selamat merencanakan masa depan, ya.
    Tenang-tenang aja soal jodoh, saya nikah malah waktu usia 28 :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih kak, saya insya Allah tenang-tenang saja :)

      Delete
  3. woaaaa...komennya pake moderasi euy :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha... gara-gara banyak dapat spam dari anonim kak :D

      Delete
  4. nah yg udah genap 23, still donno what to do! ;(

    ReplyDelete

Thanks for calling at ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...