Thursday, September 12, 2013

Menambang Pasir di Krueng Aceh

Seorang anak sedang duduk di tepi Krueng Aceh dengan latar perahu yang digunakan sebagai wadah penampung pasir kerukan
Pasir merupakan salah satu jenis hasil tambang golongan C yang sangat mudah diperoleh. Material bangunan ini tersedia di alam dalam jumlah besar. Bahkan, para penambang tak perlu bersusah-susah menggali jauh ke dasar bumi untuk mendapatkannya.
Minggu pagi itu Krueng Aceh yang mengalir di antara desa Lambeutong dan Limo diramaikan dengan berbagai aktivitas. Anak-anak berenang sambil bermain, para perempuan mencuci pakaian, sedangkan kaum lelaki mengeruk pasir dari dasar sungai.
Sebuah truk Hercules berwarna kuning diparkir di pinggir sungai dengan ban belakangnya terendam air. Di sampingnya ada gundukan pasir setinggi anak TK. Material yang ditambang hampir di sepanjang Krueng Aceh, tak terkecuali di kawasan Indrapuri.
Tak jauh dari pemandangan itu terdapat satu benda lain yang melengkapi gambaran tentang aktivitas penambangan, sebuah perahu tertambat di tepian. Terbuat dari kayu tanpa mesin. Fungsinya memang bukan sebagai media untuk menangkap ikan atau sebagai kendaraan, melainkan tempat penampung pasir hasil kerukan sebelum dibawa ke daratan lalu dimasukkan ke dalam bak truk.
Sementara di pantainya, Muhammad, sopir Hercules tersebut duduk mencangkung di bawah pohon seri. Matanya menatap lurus ke seberang, membingkai aktivitas beberapa temannya yang menyurukkan alat pengeruk berbentuk kerucut ke dalam air. Tak lama alat itu diangkat kembali dengan barang galian golongan C itu di dalamnya lalu menumpahkannya ke dalam perahu.
Ia sedang menunggu mereka mengumpulkan pasir untuk truknya. “Semenjak penambangan dengan alat berat dilarang, pengumpulan jadi semakin lama,” keluhnya. Satu truk pasir dihargai sekitar Rp.160.000
Pasir di Lambeutong
Lambeutong merupakan suatu desa di kecamatan Indrapuri yang sungainya menjadi salah satu area penambangan pasir. Kegiatan mengambil pasir dari sungai ini telah berlangsung sejak lama. Mulai dari cara tradisional, menggunakan alat berat, hingga kembali ke cara manual sekarang ini. Setelah alat berat dilarang karena dapat merusak alam.
Sebelum penambangan besar-besaran dilakukan, sungai di desa  ini jauh berbeda dari keadaannya dari sekarang. Daerah Aliran Sungai (DAS) yang topografinya lebih rendah dari kawasan pemukiman tidaklah seluas sekarang. Hal ini disebabkan banyak lereng  runtuh saat debit airnya besar. Menyisakan hamparan tanah liat berwarna kuning sebagai lahan bersemainya ilalang.
Dulu dasar sungai bisa ditebak. Tempat-tempat yang dalam selalu dapat dihindari oleh orang-orang yang mandi ataupun menyeberang sehingga jarang sekali ada korban tenggelam. Tapi semenjak alat berat digunakan dalam penambangan beberapa waktu lalu dasar sungai tak lagi rata. Terdapat banyak lubang di sana-sini. Jika terperosok ke dalamnya si korban bisa saja tenggelam.
Ikan-ikan kecil, udang, serta kepiting yang dulu sering bersembunyi di balik batu dan menjadi objek perburuan anak-anak kini raib entah kemana.
“Air sungai sekarang sering keruh. Jadi mau mencuci pun susah,” ujar Halimah, ibu satu putra yang sedang bergelut dengan satu karung pakaian kotor selama seminggu yang dibawanya dari rumah.
Perempuan muda yang juga seorang guru PNS di sebuah Madrasah Ibtidaiyah ini mengaku lebih sering mencuci di sungai meski jaraknya tidaklah begitu dekat dari kediamannya. Alasannya karena lebih mudah saat membilas, tidak perlu menimba air dari sumur. Meski keberadaan penambang yang ramai itu agak mengganggunya karena mengacaukan air dan kadang-kadang membuatnya keruh, kalau penambang itu berada di hulunya.
Penggalian menggunakan alat berat juga dapat membuat sumur-sumur warga kering dengan semakin rendahnya permukaan air. Hal ini pun pernah dialami Halimah. Timba yang dipakainya tidak dapat menyentuh air sedangkan tali pengikat sudah diulur semuanya. Padahal rata-rata sumur di desa Lambeutong kedalamannya melebihi tiga puluh cincin. Namun semenjak penggunaan alat berat dilarang kekeringan seperti itu tidak terjadi lagi.
Selain itu, truk pengangkut yang sering melintasi desa juga mendatangkan masalah tersendiri. Debu-debu beterbangan dan mengotori rumah-rumah warga. Belum lagi jalan yang dilaluinya jadi rusak dan berlubang-lubang. “Karena masalah itu dibuat suatu kesepakatan, setiap truk harus membayar Rp.10.000,00 kepada gampong setiap kali jalan. Sebutlah itu sebagai uang jalan,” terang Zahriah, perempuan ramah istri geuchik desa Lambeutong, “jalur masuk dan keluar truknya pun ditentukan. Tidak boleh masuk dari jalur keluar atau sebaliknya. Selain itu tidak ada masalah sampai saat ini,” tambahnya.
Saat penambang hanya menggunakan cara-cara tradisional alam pun tidak begitu terkuras dan rusak. Alam selalu bisa dimanfaatkan selama manusia menjaganya dengan baik.
Begitu pula desa Lambeutong jadi lebih aman sejak truk Hercules yang melintas frekuensinya tidak setinggi dulu. Zahriah dan Halimah tidak takut lagi membiarkan anak-anak balita mereka bermain di luar rumah yang berdekatan dengan jalan. Keadaan jauh lebih baik sekarang bagi warga desa. Sementara di sungai sana, penambangan masih tetap dilakukan. Karena banyak masyarakat lainnya yang membutuhkan pasir sungai untuk bangunan mereka. [Khairatun Hisan]

No comments:

Post a Comment

Thanks for stopping by ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...