Wednesday, September 11, 2013

NAZRAN NAILUFAR [DUTA WISATA ACEH 2010]

Nazran Nailufar saat ini masih tercatat sebagai mahasiswi Pendidikan Dokter FK Unsyiah Banda Aceh. Usianya boleh saja masih muda. Namun mengenai kemampuan dan kualitas ia tidak perlu diragukan lagi. Buktinya, gadis ini pada usianya yang masih tujuh belas tahun saat itu mampu mengalahkan senior-seniornya dari kabupaten/kota di Aceh dalam pemilihan Duta Wisata Aceh Tahun 2010.


Tidaklah instan perjalanan meraih prestasinya tersebut. Proses pemilihan  Agam Inong Duta Wisata dimulai dari penyeleksian tingkat sekolah dan kemudian dikirimkan ke penyeleksian di Kotamadya. Berbagai tahap penyeleksian dilalui. Hingga akhirnya gadis yang akrab disapa Nazran ini dinobatkan sebagai Duta Wisata Kota Banda Aceh pada HUT Kota Banda Aceh ke-805 pada tahun 2010 lalu. 
Selang sebulan kemudian diadakan pemilihan duta wisata Aceh 2010 yang diikuti oleh Agam Inong Duta Wisata dari 22 kabupaten/kota di Aceh. Seluruh peserta dikarantina selama seminggu di Hotel Grand Nanggroe. Meski hanya mempunyai sedikit waktu untuk membekali diri dan sempat merasa pesimis  karena saingannya adalah Duta Wisata kabupaten/kota yang berusia antara 17 hingga 25 tahun, gadis kelahiran 17 Desember 1993 ini terpilih sebagai Inong Duta Wisata Aceh 2010 dan dinobatkan di Hermes Palace Hotel pada pertengahan tahun yang sama. 

Selanjutnya, pada tanggal 1 Desember 2010, Inong dan Agam Duta Wisata Aceh bertolak ke Kendari Ibu Kota Sulawesi Tenggara untuk mengikuti pemilihan duta wisata Indonesia. Pada kesempatan ini, perwakilan duta wisata Aceh berhasil menyabet kategori Duta Wisata Indonesia Perdamaian. Sesuai dengan misi yang mereka usung yaitu mempromosikan perdamaian Aceh.


“Yang menjadi permasalahan pariwisata Aceh adalah ketidaksiapan kita menerima wisata dan yang terpenting adalah ketidaksiapan mental masyarakat luar yang selalu bertanya tentang  keamanan yang ada di Aceh. Jadi selama di Kendari kami selalu membawa pesan bahwa Aceh sudah damai dan kondusif serta tidak ada yang perlu ditakuti jika datang ke Aceh,” ungkapnya.

Nazran sendiri menganggap hal ini adalah sebuah tanggung jawab karena untuk bisa membawa nama Aceh lagi di tahun mendatang para duta wisata harus lebih banyak berbenah diri. Karena kondisi syariat Islam yang diterapkan dan jilbab yang inong duta wisata Aceh kenakan buktinya tidak menghalanginya memenangi kategori Wisata Perdamaian. Padahal sebelum berangkat, ada beberapa komentar pesimis dari beberapa pihak yang mengatakan tidak adanya gunanya melanjutkan ke tingkat nasional sebab yang akan terpilih pastinya mereka yang tidak berjilbab. 

Menurut putri pasangan H. Zamzami AG dan Hj. Cut Rufaida ini, sebagai duta wisata Banda Aceh, banyak pekerjaan rumah yang harus dikerjakan selama periode mereka. Para duta berperan sebagai perpanjangan tangan dari pemerintah ke masyarakat dan sebaliknya. Tugas utama mereka adalah mempromosikan wisata Aceh dan berkewajiban sebagai orang terdepan di perkembangan pariwisata, bukanlah ikon semata. Selain itu, setiap ada kegiatan yang berhubungan dengan pariwisata para duta ini tentu saja dilibatkan karena mereka secara langsung berada di bawah Dinas kebudayaan dan Pariwisata Banda Aceh tepatnya di bawah kabid . Mereka juga kadangkala berperan sebagai tour guide, ia mencontohkan ketika singgahnya kapal pesiar Clipper Odyssey di pelabuhan Ulee Lheu tahun 2011 lalu, Nazran dan Agam Duta Wisata menjadi guide mereka.

Berbicara mengenai Visit Banda Aceh, bungsu dari lima bersaudara ini punya pandangan sendiri, “Kita harus siap dari infrastruktur, masyarakatnya sendiri, juga tempat-tempat destinasi wisata. Jadi kalau kita katakan Banda Aceh Bandar Wisata Islami kita harusnya bangga perkembangan Islam pertama ada di Aceh.” Menurut Nazran hal itu bisa menjadi modal yang baik dalam perkembangan pariwisata. Ia mencontohkan Bali yang menggunakan ritual budaya dan agamanya sebagai daya tarik bagi wisatawan. “Sebenarnya itu bisa menjadi modal. Karena ketika di daerah lain nilai religiusnya hilang, kita masih mempertahankannya sebagai bagian dari budaya. Karena pariwisata itu merupakan suatu hal yang memiliki multiplier effect bagi masyarakat, meskipun tidak  terlihat dalam jangka waktu yang pendek,” lanjutnya.

Nazran menambahkan bahwa pariwisata akan sangat berkontribusi dalam perkembangan perekonomian masyarakat. Pariwisata yang layak ditawarkan oleh Banda Aceh menurutnya adalah wisata historis atau cerita, yaitu mengenai situs-situs peninggalan Tsunami dan kerajaan Aceh dulunya. Sedangkan wisata bahari masih didominasi oleh Sabang karena kondisinya lebih kondusif serta tempat wisatanya lebih banyak.

Mengenai perempuan, menurutnya kaum ibu ini bisa mempunyai peran yang sangat berpengaruh di dalam pariwisata, seperti menjadi duta wisata. Di samping itu, mereka juga memiliki program-program sendiri di dalam organisasi tempat para duta wisata bernaung: Sarikat Agam Inong Nanggroe. Di organisasi ini Agam dan Inongnya tidak dibedakan, semuanya sportif dalam bekerja dan berkarya. Ia juga merujuk pada wakil walikota Banda Aceh, Hj. Illiza Sa’aduddin Jamal yang menurutnya sangat peduli kepada pariwisata yang dibuktikan dengan kehadirannya di setiap program pariwisata. 

Nazran juga berharap agar program-program pariwisata dapat mendatangkan turis sebanyak-banyaknya ke Banda Aceh dan pariwisata Aceh semakin bangkit dan maju. “kita dapat memberdayakan masyarakat dengan memberdayakan pariwisata. Semoga kita bisa lebih membuka mata terhadap persaingan global bahwa pariwisata merupakan sector yang penting untuk membangun ekonomi.  Semoga untuk ke depan pariwisata Aceh semakin maju dan kita bisa terus bangkit,” pungkasnya. [Khairatun Hisan]

*Tulisan ini pernah dimuat di tabloid Bungong edisi tahun 2011

2 comments:

Thanks for calling at ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...