Friday, October 11, 2013

Alhamdulillah... Akhirnya Selesai Juga ^_^


gambar dari sini
Salam… apa kabar? Lama tidak menulis. Dalam entry kali ini saya ingin berbagi sedikit cerita tentang agenda yang –menurut saya- patut untuk didokumentasikan. Warning: Unstructured article.

Semingguan ini saya agak disibukkan oleh suatu prosesi yang paling sakral bagi mahasiswa yaitu… persiapan sidang skripsi (plok plok). Iya sodara-sodara, akhirnya, setelah selang satu tahun saya kembali dapat membuat postingan yang judulnya sama dengan Agustus tahun lalu. Beda bahasa aja. Lama ya jedanya.

Jumat 11 Oktober adalah salah satu hari yang penting bagi saya karena saya kembali masuk ruang sidang untuk mempertahankan skripsi yang telah satu semester saya susun. Jika tahun lalu saya menggunakan bahasa negeri Steven Gerrard entitled “Improving Students’ Vocabulary through English Songs”, kali ini kembali ke bahasa Indonesia Raya dengan judul “Penerapan PSAK 109 terhadap Laporan Posisi Keuangan Baitul Mal Aceh”. Meskipun bukan yang pertama, tetap saja sidang kali ini membuat saya tidak enak makan tapi enak tidur. Sampai terbawa mimpi, haha…


Sidang skripsi itu…

…adalah ujian paling menegangkan bagi mahasiswa yang akan melangkahkan kakinya keluar dari gerbang kampus dengan membawa title sarjana. Perjuangan dari ujian masuk, suka duka selama jadi mahasiswa dan setiap usaha yang dilakukan akan dipertaruhkan di depan komisi ujian. Setidaknya itu yang saya rasakan.

Pada dasarnya, persiapan menuju sidang akhir bukanlah perjuangan satu-dua minggu. Perjuangan menuju titik ini sudah dimulai berbulan-bulan sebelumnya. Diawali dengan menentukan judul, menyusun proposal, seminar, bimbingan dan serangkaian proses yang harus dilalui. Perkara menentukan judul bukanlah hal yang mudah. Tidak seperti mata kuliah lainnya yang terikat dengan jadwal dosen, skripsi ini menuntut keseriusan dan kerajinan mahasiswa itu sendiri. Karena itu, sangatlah penting untuk menulis skripsi mengenai suatu masalah yang benar-benar dikuasai dan disukai. Jika tidak, menulis skripsi akan terasa sangat sulit dan bahkan membosankan. Apalagi jika mahasiswa lama seperti saya dan teman seangkatan sudah selesai, motivasi untuk ke kampus pun biasanya akan menurun. Memang ada tenggat waktu maksimal satu tahun. Namun bukan tidak mungkin  karya tulis tersebut tidak selesai bertahun-tahun bahkan hingga si mahasiswa terpaksa keluar dari kampus akibat habis masa jabatan. Jadi saran saya untuk para mahasiswa yang akan mengajukan judul skripsi, pilihlah suatu tema yang benar-benar dikuasai dan disukai serta mudah untuk diteliti. Tidak perlu mencari judul yang wah namun kurang dimengerti, apalagi datanya sudah didapat. Alamat tidak jadi tamat.

Skripsi itu pada dasarnya gampang-gampang susah dan jujur saja, membosankan. Karena itu tidak heran jika ada mahasiswa yang mengupah skripsinya. Menyewa orang lain untuk membuatnya. Tidak ada salahnya jika meminta bantuan teman untuk berdiskusi mengenai hal-hal yang tidak dimengerti. Namun meminta orang lain untuk menyusun dari pendahuluan hingga kesimpulan bukanlah hal yang dapat dibenarkan. Selain membodohi diri sendiri, bukankah itu membuat perkuliahan yang telah dijalani selama empat tahun menjadi tidak ada artinya? Jika satu karya tulis saja tidak dapat diselesaikan sendiri, apakah kita bisa berbangga hati menggunakan gelar sarjana? Ini pendapat pribadi saya. No offense.

Kembali ke pembahasan sidang skripsi. Memasuki suatu ruangan dengan beberapa dosen penguji memang terkadang menciutkan nyali. Bahkan tadi ada teman saya yang wajahnya jadi pucat, serasa kayak mau ijab qabul katanya (padahal dia belum pernah ijab qabul :D). Namun kita tetap harus tenang. Santai saja. Toh para penguji tersebut tidak dapat menyakiti mahasiswanya lebih dari tidak mengeluarkan nilai atau tidak meluluskan. Itu artinya anda belum beruntung. Coba lagi. Jadi yakinlah, kita akan tetap keluar dengan selamat –kecuali jika Tuhan berkehendak lain. Dalam keadaan tenang, pikiran menjadi lebih terarah dan sistematis sehingga akan mudah untuk me-recall informasi yang telah kita pelajari. Sementara kalau gugup kadangkala otak serasa blank, lupa semuanya. Bisa juga kacau, yang membuat sulit untuk me-retrieve informasi karena tidak tahu lagi disimpan di bagian mana. Jadi intinya: tenanglah.

Jika kita sudah menghabiskan waktu untuk menyusun skripsi dengan masa bimbingan selama berbulan-bulan, seharusnya isi skripsi tersebut sudah kita pahami luar dalam. Jadi, apa yang perlu ditakutkan? Santai saja dan baca doa penerang hati. Insya Allah akan dimudahkan. It worked on me! 

Nah, sidang skripsi itu memang paling menegangkan bagi status mahasiswa. Tapi masih banyak prosesi lain dalam hidup ini yang lebih sakral. So, stay cool! :)

(Alhamdulillah... akhirnya selesai juga. Masih ada seremonial yudisium dan wisuda, sih. Tapi, bagian paling menantangnya sudah terlewati. Legaaa... More ways to go! :))

7 comments:

  1. Beban kuliah,,, oh, memang tiada duanya.

    Tapi itu demi masa depan juga, demi bangsa dan negara tercinta...

    ^_^

    #mengenangmasamasakuliah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tambahin demi-nya bg: demi agama, nusa dan...
      ^_^
      terima aksih udah mampir :)

      Delete
    2. iya, dengan demikian sudah diralat ... :)

      Delete
  2. Kalo ingat perjuangan dengan skripsi...aihh....memang jungkir balik, mana sempat ganti pembimbing pulak. Berasa balik dari nol
    Eh, saya masih ingat, saya buat skripsi nyambi jadi fasilitator di Seuramoe Teumuleh. Jadi waktu ketemu kalian di ST, kakak sedang jumpalitan dengan skripsi sebetulnya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe
      Begitulah sifatnya si skripsi :D

      Oya kak? Tapi seru juga ada aktivitas lain... Bsa sekalian refresh kan baca coretan kami dulu? :)

      Delete
  3. wuiihhh.. selesai juga akhirnya..
    memang skripsi bikin keriting.
    selamat ya chaira..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selesai skripsi makan mie bg, haha
      Terima kasih^^

      Delete

Thanks for calling at ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...