Thursday, October 17, 2013

Untuk Apa Kuliah Dua?

Assalamu'alaikum... Kali ini saya ingin kembali berbagi cerita.

"Ngapain kuliah di dua tempat?" Pertanyaan tersebut sering saya terima sejak awal-awal saya kuliah lima tahun lalu bahkan hingga sekarang. Seperti autobiography yang saya tuliskan di sini, sejak Juli 2008 saya memang terdaftar di dua perguruan tinggi negeri yang ada di Banda Aceh: jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di IAIN (sekarang UIN) Ar-Raniry dan jurusan Ekonomi Akuntansi Univ. Syiah Kuala. Alhamdulillah, saya telah tamat dari IAIN tahun 2012 lalu dengan masa studi 8 semester dan Insya Allah November tahun ini saya akan mengikuti yudisium dan wisuda serta resmi menjadi Sarjana Ekonomi.

Kembali ke pertanyaan di atas: untuk apa kuliah dua?
Sejujurnya saya tidak mempersiapkan jawaban yang "wah" karena memang saya tidak menganggap kuliah di dua tempat secara bersamaan adalah sesuatu yang wah. Alasan saya simpel saja: karena ada kesempatan. Iya. Kenapa saya kuliah dua? Karena saya lulus di dua tempat. Period. As simple as that.

Ceritanya, setelah Ujian Akhir Nasional SMA dulu saya mengikuti les intensif SNMPTN. Tujuannya jelas, agar lulus di perguruan tinggi. Kalau diingat-ingat lagi, situasi saya saat itu benar-benar menyedihkan. Bukan hanya buta tentang kuliah, saya bahkan tidak tahu mau kuliah di mana. Unsyiah, jelas. Tapi saya tidak tahu jurusan apa yang ingin saya masuki. I didn't know what I want! That's horrible. Bagaimana hendak mencapai tujuan jika hal yang dituju pun belum jelas? Well, begitulah saya.

Teman-teman sekelas les saya dulu rata-rata sudah tahu mau milih jurusan apa. Ada yang kekeuh ingin jadi dokter sehingga setiap try out selalu pilih FK Unsyiah, nyatanya sekarang dia sudah koass di RSUZA. Ada yang senang management dan lulus dari jurusan pilihannya tersebut dengan predicate cumlaude. Ada juga yang hobi di bidang hukum dan sekarang sudah kuliah S2 bidang yang sama di USU. Sementara saya dulu masih harus konsul untuk menentukan jurusan yang tepat karena pilihan saya hanya Unsyiah dan IAIN, mengingat orangtua tidak mengizinkan saya ke luar daerah.

Sebenarnya sejak dulu ada yang menarik minat saya: bahasa dan psikologi. Saya cenderung cepat mempelajari bahasa asing dengan catatan: saya benar-benar menyukai bahasa tersebut. Untuk Bahasa Inggris, saya sudah mendaftar di IAIN dan entah kenapa saya begitu yakin akan lulus di sana dan tidak repot-repot memasukkan FKIP Bahasa Inggris Unsyiah dalam daftar pilihan. Sementara psikologi... saya tidak tahu banyak. Saya hanya tertarik dengan ilmu tersebut dan ingin mendalaminya. Dalam pikiran saya, sepertinya seru jika kita mengerti tentang psikologi karena artinya akan lebih mudah memahami orang lain. Entah benar begitu. Sepertinya memang harus bertanya pada adik saya yang sekarang melanjutkan cita-cita saya yang kandas lima tahun lalu.

Singkat cerita, setelah berulang kali konsultasi dengan tentor wali, beliau menyarankan saya untuk mencoba jurusan Ekonomi Akuntansi. Oke, yang saya inginkan memang psikologi. Namun karena saat itu PSG Akuntansi lebih tinggi dari Psikologi, saya disarankan menuliskan Akuntansi di kolom pilihan pertama sedangkan Psikologi turun ke peringkat kedua. Beres. Saya masukkan berkas dan ikut ujian masuk.

Sementara itu, selang beberapa hari setelah tes SNMPTN, saya dan teman-teman mengikuti ujian masuk IAIN Ar-raniry dengan pilihan pertama Pendidikan Bahasa Inggris. Pengumuman IAIN keluar lebih dulu dan alhamdulillah, saya lulus di jurusan tersebut. Saya pun mengikuti matrikulasi dengan senang hati sampai hasil SNMPTN diumumkan dan alhamdulillah, lagi-lagi saya lulus di pilihan pertama: Ekonomi Akuntansi, yah... meskipun yang saat itu lebih menarik hati saya adalah Psikologi. Tak apalah.

Yay! Saya akan kuliah dua! Begitu perasaan saya kala itu. Iya. Tidak ragu sedikitpun. Saya menyukai Bahasa Inggris. Saya ikut les di bimbel agar lulus SNMPTN. Jadi apa masalahnya? Kalaupun saya memutuskan untuk tidak mengambil salah satu, bangku saya akan terbiarkan kosong karena memang tidak bisa diisi oleh yang lain. Lagipula, saya cenderung cepat jenuh jadi mungkin  mempelajari dua hal yang berbeda dapat dijadikan pelarian.

Satu-satunya hal yang berat adalah ketika minta izin pada orangtua karena kuliah dua artinya mereka harus mengeluarkan biaya yang setara dengan membiayai dua orang yang kuliah. Sementara saya bukanlah anak tunggal. Saya anak sulung dengan empat orang adik yang saat itu masih sangat kecil-kecil. Alhamdulillah, ayah saya tidak keberatan asal saya sanggup menjalaninya. Seperti saya katakan tadi, saya memang yakin dari awal so that's not a problem.

Pada waktu yang bersamaan, saya ditawari untuk ikut tes menjadi pengajar di bimbel tempat saya les. Saya kembali bertanya pada orangtua. Mereka pun menyerahkan keputusan kepada saya dan mendukung apa yang saya lakukan. Akhirnya, sejak tahun 2008 hingga 2012 saya menjalani tiga peran sebagai mahasiswi bahasa Inggris Ar-Raniry, mahasiswi Akuntansi Unsyiah, serta tentor  Bahasa Inggris SSC Banda Aceh. Bagaimana saya mengatur waktu? Mudah saja. Saya tidak mengatur waktu tapi waktu yang mengatur saya.

Banyak yang mempertanyakan keputusan ini. Ada yang menyampaikan kesan positif ada juga yang negatif. Ada yang mengatakan saya hebat, rajin, ambisius, bahkan kurang kerjaan. Yah, itu pendapat mereka. Saya sama sekali tidak merasa hebat. Saya juga malas. Saya senang belajar tapi tidak study freak. Saya kuliah tanpa berpikir tentang peluang kerja karena dalam pikiran saya saat itu, kalau menikah nanti harusnya tidak terlalu bermasalah jika pun tidak kerja. Saya hanya ingin belajar dan menikmati prosesnya. Itu saja. For me, menjalani kuliah dua adalah bentuk dari pertanggungjawaban atas pilihan/keputusan yang saya buat saat mengisi formulir pendaftaran dulu. Prinsip saya, selama saya menikmati apa yang saya jalani dan tidak mengganggu orang lain maka Insya Allah hidup saya akan baik-baik saja. Alhamdulillah, hal tersebut telah terbukti karena hingga saat ini, semuanya lancar-lancar saja.

Jadi, tidak ada salahnya untuk kuliah dua dan jangan pula mempertanyakan tujuan dari keputusan yang telah diambil. Pertanyaan 'untuk apa' atau 'ngapain' dalam hal seperti ini hendaknya disimpan saja. Because everything happens for a reason and we need not to know each of them.

Wassalam.

26 comments:

  1. wow, tidak salah menambah ilmu. kata orang ilmu itu tangga kejayaan :)

    ReplyDelete
  2. Enaknya kuliah 2, pas cari kerja bisa punya alternatif yang lebih banyak.Tapi dipikir-pikir, kuliah 2 pasti akan-sangat-sering mondar/ir darussalam ya.sepertinya lumayan ribet, ra.hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, ra malah ga mikir tentang itu dulu. Tepat sekali, emapt tahun mondar-mandir di darussalam, haha

      Delete
  3. saya pernah liat ada yang kuliah tiga. meski pada akhirnya dia memilih satu karena kesibukan organisasi. alasannya sama seperti chaira. dan saya pribadi juga setuju. tinggal bagaimana me-managenya saja. karena selama kuliah saya rasa juga banyak sekali waktu luang, terlebih dengan kemudahan teknologi seperti saat ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya kan? sekarang memang udah banyak yang kuliah lebih dari satu. tapi entah kenapa masih banyak juga yang mempertanyakannya. Padahal tidak ada salahnya belajar banyak hal.

      Delete
  4. Ini kayak teman saya, kuliah 2; TEN IAIN dan Ekonomi Ubsyiah :D

    ReplyDelete
  5. kk selalu salut dengan orang mampu kuliah di dua tempat dan dua-duanya sukses dijalani. khaira Hebat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Whehe... ga biasa aja kok, kak
      jadi malu :D

      Delete
  6. daripada kuliah s1 di dua tempat, saya mendingkan untuk kuliah s2 hehe :D

    ReplyDelete
  7. mbak minta akun fb ada??pengen tau perjalanan mbak semua,,,,,,aku lagi galau masalah ini....

    ReplyDelete
    Replies
    1. FB saya di Khairatun Hisan
      Semoga udah nggak galau ya mbak

      Delete
  8. assalamualaikum,kak ^^

    postingan kakak jadi membangkitkan keinginanku saat ini untuk mencoba kuliah di dua tempat ^^ Hanya begini,kak... Aku merasa aku pribadi belum cukup baik dalam me manage waktu serta tidak cukup PD untuk bersaing kembali tahun ini... Itu juga, masalah biaya menjadi satu pemikiranku juga :( Kira-kira menurut kakak apa aku ini bisa untuk menjalankan hal yang serupa (berkuliah di dua tempat)? ._.

    mohon sarannya,kak ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waalaikumsalam... Mohon maaf Baru saya balas. Saya tipe orang yang yakin jika ada kemauan akan ada jalannya :)

      Delete
  9. Assalamualaikum kak. Saya ingin bertanya. Bagaimana kakak me manage waktu untuk ospek di 2 universitas tersebut. Karena sekarang ini saya juga di terima kuliah di 2 tempat dan bingung bagaimana cara menghadiri ospek keduanya, Makasih kak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waalaikum Salam.. Wah.. Selamat sudah lulus :)
      Pengalaman saya dulu ospek tidak masalah karena kebetulan jadwalnya tidak sekalian. Mungkin bisa konsultasi dengan panitianya?

      Delete
  10. wah, termotivasi juga, saya juga sekarang berencana untuk mengambil kuliah di dua ptn, sama sekarang saya sedang kuliah di UIN bandung juga, dan insha Alloh taun skarang sudah msuk Unpad juga. Yang saya ingin tanyakan, bagaimana pengalaman kaka saat ada jadwal bentrok, pasti adakan ya? lalu saat mengambil kuliah dua, bagaimana kaka memanage berorganisasi,tugas-tugas,dll. Hehe maklum kak saya ingin melihat dan mempelajari dari orang-orang yang pernah berhasil atau mengalaminya. Terima kasih.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, selamat ya udah lulus! :) Mengenai jadwal bentrok, saya mencoba pindah ke kelas lain yg punya matakuliah sama tapi jadwal berbeda. Karena di salah satu PTN saya dulu mahasiswa dibagi per kelas tetap. Kalo ternyata ttp tidak bisa dikompromikan, terpaksa saya tinggalkan salah satunya dan ambil matakuliah yg lebih 'penting' dalam artian menjadi persyaratan utk matakuliah semester depan, sedangkan mata kuliah yg saya tinggalkan td akan saya ambil tahun depannya. Karena kuliah dua juga saya memutuskan hanya aktif di organisasi salah satu kampus saja. Mengenai tugas, itu tergantung cara belajar masing-masing orang kan :)

      Delete
    2. iya terima kasih ka alhamdulillah, terima kasih berbagi pengalamannya sangat membantu. sangat termotivasi,,, Kaka juga bisa, insha Alloh saya juga bisa hehe...,aamiin.

      Delete
  11. Kak kalau pas kkn sama magang di industri gimana?

    ReplyDelete
    Replies
    1. kebetulan waktunya ga sekalian. tapi mau ga mau ttp harus ambil non-aktif di salah satunya

      Delete

Thanks for stopping by ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...