Thursday, November 14, 2013

PANYOET



PANYOET
Oleh Khairatun Hisan

“Mak, lihat panyoet[1] yang Amin bawa tadi siang nggak?”
Amin sibuk mencari lampu teplok baru yang dibelinya tadi siang. Rencananya akan digunakan untuk menerangi kebun, karena yang lama sudah bocor. Tapi benda yang dimaksud tidak kunjung ditemukan.
“Tidak, Nak. Kamu letakkan di mana?” Mak Aisyah menyahut tanpa berpaling dari masakannya. Gulee pliek[2] di atas api harus terus diaduk.
Sepertinya di rak piring, tapi nggak ada lagi,” Amin menghampiri ibunya, “Ada yang pindahin? tanyanya.
Mak menggeleng sekali lagi, tidak melihatnya. “Mungkin si Minah.”
Amin mengernyitkan dahinya, mengisyaratkan ‘untuk apa?’
Kuah telah matang. Mak Aisyah mengangkatnya dari api. “Tadi ia mau bakar sampah,”ujarnya sambil menyendokkan kuah ke dalam wadah dan meletakkan ke atas meja. “Untuk apa?” Tanya Mak Aisyah retoris, “Nyoe kuah ka masak, ta pajoh bu dilee.”[3]
“Mau saya bawa ke kebun. Tak apa Mak, nanti saja. Amin pergi dulu ya… Assalamualaikum!”
             “Waalaikum salam!” Mak Aisyah mengernyit heran, ‘Kemana panyoet itu?’

                                                            ***

      Pukul 9 malam, setelah shalat Isya Amin masih uring-uringan. Berjalan mondar-mandir, duduk, mondar-mandir lagi, duduk lagi. Hal yang sama masih mengganggunya. Lampu teplok yang sejak sore dicari belum juga ketemu. Padahal ia ingin toet panyoet di lampoh.[4]. Musim rambutan memang membuat pemilik kebun menjadi lebih memerhatikan kebunnya. Karena buah-buah merah berambut yang bergelantungan di pohon tidak hanya menarik perhatian manusia, tetapi juga para hewan yang mencari nafkah pada malam hari.
      Buah-buah yang mulai ranum itu mulai diincar binatang malam. Salah satu cara untuk melindunginya yaitu dengan meneranginya, biasanya penerang yang dipakai adalah lampu teplok. Tapi malam ini penerangnya tidak ada.
      Amin tidak habis pikir, ‘bagaimana mungkin panyoet itu raib begitu saja?’ Tadi siang setelah membelinya di peukan[5] ia langsung membawa pulang ke rumah. Namun saat  ingin membawanya ke kebun di sore hari sudah tidak ada lagi. ‘Pasti ada yang mengambil, paling tidak, memindahkan ke tempat lain. Tapi siapa?’ Entah kenapa perkara panyoet ini membuatnya tidak tenang.
     “Bang, berhentilah. Nggak capek?” Minah yang sedang belajar untuk ujian final besok merasa terganggu dengan kelakuan abangnya
      Kemana panyoet barunya?
Mak tidak tahu, Minah juga tidak melihat panyoet itu, Amin telah menanyakannya.
Mak Aisyah telah melarang Amin menginap di kebun malam ini. Angin yang bertiup kencang ditimpali hujan rintik. Cuaca kurang bersahabat. Kata Mak, ia tidak ingin anaknya sakit. Bukan memanjakan, melainkan agar kegiatan lainnya tidak terganggu. Jadi kebunnya betul-betul tanpa pengawasan malam ini.
Karena itulah Amin hanya mondar-mandir di ruang tamu. Mak tidak mungkin diyakinkan lagi. Ia pasrah saja jika esok pagi harus melihat kulit-kulit merah bertebaran di bawah pohon karena isinya telah menjadi santapan kelelawar dan kalong yang berpesta. Tidak ada yang menjaga. Mudah-mudahan hewan tersebut juga dilarang keluar rumah karena cuaca buruk ini, lagee lon’ pikir Amin iseng.
Tiba-tiba saja, seperti hendak membuktikan bahwa pendapat Amin salah, sekawanan kelelawar terbang numpang lewat di rumahnya melalui jendela yang masih terbuka. “Ka hana lee!” rutuknya.

* * *

Malam hampir mencapai tengahnya saat Amin yang belum bisa memejamkan mata terkejut oleh suara-suara ribut dari kejauhan. Ia bergegas bangkit dan lari keluar rumah. Tetangganya juga sudah diluar. Ada kebakaran, kata suara-suara itu. Tapi Amin tidak melihat api. Tidak ada api sejauh mata memandang. Namun dari kejauhan langit nampak memerah seperti fajar, tapi ini masih larut. Arahnya dari lhok.[6]  Segera saja mereka berlarian kesana.
Amin yang baru saja sampai di sana hanya tercengang. Api telah berkobar membakar hampir setengah lampoh rambot bang Syukri. Menghanguskan buah-buah yang telah siap panen. Kata orang-orang yang juga berkerumun menyaksikan, api itu berasal dari panyoet yang dihidupkan di pohon-pohon. Entah kenapa salah satu panyoet itu oleng dan menumpahkan minyaknya ke batang rambutan. Angin yang kencang membantu apinya menjalar hingga besar seperti sekarang. 
 Warga yang datang langsung berinisiatif memadamkan api dengan cara menimba air dan menyiramnya. Namun angin yang kencang membuat usaha tersebut kurang membuahkan hasil. Jadi mereka hanya berusaha menghambatnya agar tidak menjalar lebih luas lagi.
Tanpa sadar Amin tercenung melihat musibah yang menimpa kerabat jauhnya tersebut. Teringat akan betapa ngototnya ia tadi sore mencari panyoet untuk dihidupkan di lampoh. Dan jika saat itu panyoetnya ditemukan, dihidupkan, bukan tidak mungkin musibah yang sama juga akan menimpanya. ‘Allah Maha Besar, Maha Suci Allah, Alhamdulillah’ ujarnya tanpa suara.
Didekatinya bang Syukri yang tampaknya terguncang hebat. Menyaksikan api yang mulai padam setelah membumihanguskan separuh kebunnya. “Sabar beuh, Bang!”
Bang Syukri menoleh. Ia terkejut dan tampak salah tingkah mendapati Amin menyapanya. “Meu’ah beuh, Min!”
Amin mengerutkan keningnya. Bang Syukri bercerita bahwa tadi siang ia mengambil panyoet Amin. Saat itu tidak ada orang di rumah dan ia lupa memberitahu Amin. “Mungken lon teumeurka bak kah. Maka jih lagee nyoe.”[7]
Amin tertegun mendengarnya, kemudian menggeleng. Scenario Allah begitu tidak terduga.[]

    
     


[1] Lampu teplok
[2] Gulai melinjo dengan santan kental, khas Aceh.
[3] “Ini kuahnya sudah matang,  makan dulu”
[4] Kebun
[5] Pasar
[6] Daerah yang topografinya lebih rendah dari pemkiman penduduk, biasanya digunakan sebagai lahan perkebunan.
[7] “Mungkin saya kualat sama kamu, makanya begini.”

4 comments:

Thanks for stopping by ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...