Monday, November 11, 2013

Pineung Nek Fatimah


 
Angin kencang lagi.
Aku tergesa-gesa mengambil pakaian yang kering di jemuran. Meletakkan di tempat khusus pakaian bersih yang akan disetrika. Terlambat sedikit saja aku sudah harus memungutnya di tanah. Kalau itu terjadi, otomatis aku harus bekerja dua kali untuk memcucinya lagi. Tentu saja hal tersebut sangat tidak kuinginkan.
Sudah beberapa hari ini cuaca tidak menentu. Mula-mula panas, kemudian mendung, lalu hujan rintik disertai angin kencang. Tak lama kemudian cerah kembali. Ini mempersulit orang-orang yang bekerja berdasarkan cuaca. Contohnya saja tetanggaku.
Dari jendela kamar kulihat Nek Fatimah kembali memungut pinangnya yang tak kunjung kering. Telah beberapa kali ia menjemur-memungutnya. Namun pinang tersebut masih terlihat basah. Biji pinang belum terlepas dari sabutnya dan ketika digoncangkan tidak berbunyi. Sehingga sulit untuk mengupasnya. Sementara persediaan dapurnya sudah menipis. Jika pinang-pinang tersebut belum bisa terjual dalam minggu ini maka ia terpaksa berhutang lagi. Padahal hutang sebelumnya belum terlunasi. Begitu ceritanya kemarin.

Omong-omong tentang Nek Mah, wanita berusia akhir 60-an tersebut telah lama menjanda. Suaminya meninggal karena kecelakaan saat hendak ke pasar menjual pinang mereka. Ia hanya tinggal berdua dengan anak bungsunya yang cacat di gubuk mereka. Sementara anak-anaknya yang lain, yang semuanya perempuan, telah pergi mengikuti suami masing-masing.
Tetanggaku itu adalah seorang yang sangat ramah dan kuat. Meski usianya tak lagi muda, ia sanggup memikul sekarung penuh biji pinang yang akan dijualnya ke pasar. Padahal pasar terdekat berjarak tak kurang dari tiga kilometer dari tempat tinggal kami. Sore-sore ia sering bertandang ke rumah kami. Duduk di dipan dengan ibuku. Bercerita tentang apa saja.
Nek Mah, begitu ia biasa kusapa merupakan sosok yang terbuka. Ia tak sungkan berbicara dengan siapa saja tentang apa saja. Itu makanya aku tahu banyak tentang dirinya. Namun meskipun kekurangan, ia tak mau dikasihani. Nek Mah selalu membawakan apa pun yang ia punya untuk ditukarkan, jika ingin meminta sesuatu dari kami. Karena itu jika akan bertandang ke rumahnya ibu selalu membawakan sesuatu.
Kak! Kajeut top tingkap![1] aku terkejut. Ibuku menyeru dari dapur.
Hari ternyata sudah mulai gelap. Aku sampai tidak menyadarinya kerena asyik memerhatikan Nek Mah. Yang bersangkutan pun sudah tidak nampak lagi. Pinang di halaman rumahnya juga sudah bersih. Jadi sebenarnya apa yang kulakukan dari tadi?

Malam ini masih seperti tadi sore. Angin masih kencang. Pohon mangga di depan rumahku terus menggugurkan daunnya. Menyeraki halaman. Mempersiapkan pekerjaan bagiku esok hari. Padahal tadi pagi baru kusapu. Hhh…
Iseng kuintip rumah Nek Mah lewat jendela. Tak ada cahaya lagi di sana. Berarti penghuninya telah terlelap. Ah, Nek Mah… udara malam ini begitu dingin. Sementara dinding rumahnya hanya selapis tripleks. Bagaimana rasanya tidur di sana? Dan pinang-pinangnya, tidak adakah yang cukup kering untuk bisa dikupas? Angin… berhentilah!

Aku membuang daun-daun mangga ke dalam lubang sampah organic di belakang rumah. Meletakkan kembali sang sapu di tempatnya. Selesai sudah tugas yang dibebankan si angin untukku tadi malam. Halaman rumah sudah bersih kembali. Tinggal menunggu episode berikutnya.
Pagi ini aku mengunjungi Nek Mah yang sedang menjerang air di bawah rumah panggungnya. Ia tidak menyadari kedatanganku. Timbul pikiran iseng untuk mengagetkannya. Namun buru-buru kuurungkan mengingat beliau sudah tua.
“Assalamua’alaikum Nek!” sapaku.
“Wa’alaikum salam. Neuk. Piyoh… nek teungoh magun ie nyoe.[2]
Percakapan langsung dimulai. Aku menanyakan perihal pinangnya yang dipungut kemarin sore. Ternyata itu merupakan pinang yang paling kering di antara yang tidak kering. Maksudnya, Nek Mah memiliki persediaan pinang yang tidak sama tingkat kering-basahnya, tergantung masa masak pinang tersebut. Pinang kemarin sepintas memang Nampak kering karena kulitnya sudah terburai dan tak lagi berwarna. Sementara itu ada setumpuk lagi yang masih kelihatan keras dan menyisakan warna oranyenya. Yang paling kusuka adalah yang baru diambil dari pohonnya, berhubung itu adalah warna kesukaanku, oranye cerah.
Ia memiliki begitu banyak pengetahuan tentang pinang dari semua orang yang kukenal. Dari kecil aku sudah sering bersamanya. Nenekku sudah tiada. Jadi ialah penggantinya. Karena itu waktu kecil dulu aku sempat bercita-cita ingin jadi pengusaha pinang dan mengalahkan Nek Mah dalam mengupasnya. Pinang yang telah dikupas tersebut dijual perkilonya.
Pajan neupot pineung nyan Nek?[3] tanyaku heran. Aku tidak membayangkan ia pergi ke kebun untuk memetik pinang-pinang cantik tersebut dalam cuaca seperti ini.
“Hana nek pot, Neuk. Nek pileh di yup bak saknyoe beungoh. Ata dipeurhot le angen buklam. Nyan keu berkah Allah keu ureung tuha lagee nek.[4] Ujarnya tersenyum.  
Aku melongo. Semalam dan malam-malam sebelumnya aku selalu memikirkan bagaimana ia tidur dengan angin yang hampir bisa merobohkan rumahnya. Namun Nek Mah tidak merisaukannya sama sekali. Ia malah menganggapnya berkah.
Aku jadi terdiam. Berpikir. Tidak adakah sedikitpun manfaat yang dibawa angin itu untukku? Selama ini aku hanya menganggapnya sebagai musibah. Kuperhatikan Nek Mah sekali lagi. Ia masih tersenyum tulus. Dalam usianya yang renta ia masih bisa bersyukur. Namun aku yang lebih muda hanya bisa mengeluh. Astaghfirullah…
Kuambil sebuah pinang masak. Mengagumi warna cantiknya. Berdoa dalam hati. Semoga esok lusa Nek Mah tetap bisa memunguti pinang-pinangnya.



[1]“Kak! Udah bisa tutup jendela!”
[2] “Wa’alaikum salam nak, singggah… nenek sedang memasak air..”
[3] “Kapan nenek petik pinang itu?”
[4] “Tidak nenek petik. Nenek pungut di bawah pohonnya tadi pagi. Dijatuhkan angin. Itulah berkah Allah bagi orang tua seperti nenek.”

2 comments:

  1. Asyik kawan ceritanya, bakat nie nulis novelnya. Persis kayak di novel-novel meski hanya cerita tentang tetangga rumah. Keren-keren

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah... Terima kasih atas apresiasinya.. Doakan saja novel saya cepat menemukan penerbit, haha

      Delete

Thanks for calling at ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...