Friday, November 8, 2013

Self-Harm

Assalamu'alaikum...

image from here
Self-Harm. Pernah dengar? Iya, terjemahan bebasnya adalah 'menyakiti/membahayakan diri-sendiri'.

Saya belum pernah mengetahui tentang hal ini sebelumnya. Ceritanya beberapa saat yang lalu saya sibuk browsing artikel yang kira-kira cocok untuk dijadikan bahan soal and I just happened to jump into this page: Self Harm.

Dari halaman itu saya tahu bahwa self-harm adalah salah satu cara melampiaskan kesedihan atau rasa sesal, kecewa maupun emosi negatif lainnya yang cukup mendalam. Caranya beragam. Mulai dari melukai diri dengan mencoret-coret, mengiris, hingga membakar kulit yang semuanya menghasilkan rasa sakit. Menggunakan obat penenang dengan dosis yang berlebihan. Ada juga yang melampiaskan dengan membenturkan diri ke objek yang keras. Pola makan yang bermasalah seperti anorexia dan bulimia, mabuk-mabukan, dan berbagai tindakan yang dapat mencederai fisik mereka. Bahkan aktivitas yang mungkin dianggap biasa seperti merokok dan menenggelamkan diri dalam pekerjaan juga merupakan salah satu cara untuk melupakan masalah. Singkatnya, para pelaku berusaha mentransfer mental distress kepada physical pain. Setelahnya mereka merasa lebih baik, untuk sesaat.

Masih menurut situs itu, kebanyakan orang tidak sadar mereka sedang melakukan self-harm. Bahkan para pelaku bisa saja tidak merasakan sakit saat melakukannya. Hal ini disebabkan karena kesadaran mereka sedang terfokus pada emosi negatif yang mereka rasakan sehingga luka fisik tidak mendapat perhatian. Akibatnya, seseorang semakin merasa nyaman untuk mengulangi self-harm saat kondisi jiwa mereka kembali diguncang rasa kecewa maupun sedih yang mendalam.

Image from here
Pelaku self-harm tidak mudah terdeteksi. Mereka biasanya bergaul secara normal dengan orang lain dan terlihat tidak memiliki masalah. Mereka berusaha menunjukkan kepada dunia bahwa mereka baik-baik saja. Laughing outside but screaming inside. Dalam konteks ini, bisa jadi kecenderungan untuk melakukan self-harm dipicu oleh tidak adanya seseorang yang mereka anggap mampu dan mau membantu mereka saat mereka terpuruk untuk pertama kalinya.

Menurut beberapa situs yang saya baca, orang yang kedapatan melakukan self-harm seringkali dianggap sedang mencari perhatian, caper. Namun sebenarnya itu bukan tujuan mereka. Mereka hanya menggunakan satu-satunya cara yang mereka tahu dalam menyikapi depresi. Mereka bahkan cenderung menyembunyikan jejak self-harm seperti menggunakan pakaian lengan panjang jika di lengan mereka terdapat bekas goresan silet. Tapi iya, mereka memang butuh bantuan.

Setau saya self-harm ini bukan merupakan topik serius di daerah kita (correct me if I'm wrong). Tapi ini adalah masalah yang cukup banyak menyedot perhatian di dunia luar. Salah satu asumsi saya adalah karena pelaku self-harm merupakan orang-orang yang kehilangan arah dalam menyikapi masalah dan merasa ditinggal sendiri. Sementara kita, muslim, percaya bahwa kita tidak akan pernah diuji dengan suatu keadaan yang tidak sanggup kita hadapi. Lagipula kita percaya bahwa kita tidak pernah benar-benar sendirian karena Sang Pencipta tidak pernah meninggalkan kita. Jadi apa yang dapat kita lakukan? Mulai memerhatikan sekitar, siapa tahu ada mereka yang sedang butuh untuk didengar.

8 comments:

  1. sangat setuju dengan pendapatnya sobat, yang jelas kita tidak sendirian dan Allah senantiasa bersama kita.
    Postingan yang sangat memberi manfaat dan penuh inspirasi
    terima kasih banyak sudah berbagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih kembali sudah singgah di sini ^^

      Delete
  2. Terima kasih telah berbagi. Saya juga menyimak tulisan-tulisan tentang psikologi di blog-nya Kak Liza dan Bang Toenis Moersalin, juga Kak Fardelyn Hacky. Gangguan psikotik bisa dialami siapa saja. Terlebih di zaman serba canggih seperti saat ini di mana televisi dan teknologi lain mulai mengurangi intensitas komunikasi fisik dalam keluarga /sosial.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih kembali atas komentarnya. Saya memang tertarik dengan topik psikologis seperti ini. Iya memang, komunikasi fisik tidak boleh ditinggalkan.

      Delete
  3. Menarik, khususnya buat saya yang menekuni kuliah di bidang psychiatric :D

    ReplyDelete
  4. bahaya individu begini.. nampak ceria di luar, tapi jiwanya sangat tertekan..

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya kak... mereka memang butuh diperhatikan.

      Delete

Thanks for stopping by ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...