Sunday, January 19, 2014

Kaze: 1# Kematian di Persimpangan

Judul: Kaze (Death at the Crossroads)
Penulis: Dale Furutani (penerj. Meithya Rose)
Penerbit: Qanita
ISBN: 978-979-3269-83-2
Tebal: 384 Halaman
Cetakan I, November 2008

Sesosok mayat ditemukan di persimpangan. Seorang tukang arang yang sedang terburu-buru mengantarkan pesanan meninggalkan dagangannya, berlari kembali ke desa Suzaka, lalu melapor pada kepala desa yang meneruskannya pada magistrat setempat.

Ketika iring-iringan yang terdiri dari magistrat, kepala desa, para pengawal, dan si tukang arang kembali ke persimpangan, mereka disambut oleh tawa seorang samurai yang sedang memerhatikan dari cabang pohon cemara yang tumbuh di lereng bukit dekat persimpangang. Samurai tersebut memperkenalkan diri sebagai "Matsuyama Kaze".


Pengembaraan Kaze untuk mencari putri majikannya yang diculik setelah perang Sekigahara telah membawa samurai yang kini menjadi seorang ronin tersebut berkeliling Jepang. Selama dua tahun pencariannya tidak menemukan titik terang. Insiden penemuan mayat tersebut membuatnya diminta menetap sejenak di desa Suzaka.

Sementara itu, saat sedang singgah di kedai Teh Higashi, tak jauh dari desa Suzaka, Kaze mendengar cerita tentang sosok hantu berkuda yang melintasi desa beberapa hari yang lalu dengan sesosok tubuh teronggok di bagian belakang kudanya. Kaze pun memutuskan untuk kembali ke desa Suzaka setelah sebelumnya berencana meneruskan pencarian.

Kaze tiba di rumah si tukang arang -tempat ia menginap selama di desa Suzaka- hanya untuk ditangkap dan dihadapkan pada Penguasa Wilayah. Sang Penguasa adalah seorang laki-laki yang bertabiat memakai pakaian kimono berlapis yang mewah dan berbicara dengan nada yang dialunkan khas bangsawan istana, yang sama sekali tidak sesuai dengan terpencilnya dan kecilnya wilayah yang ia kuasai. Merasa cocok dengan Kaze setelah berdiskusi tentang kisah Genji, si Penguasa pun membebaskan Kaze dan mengizinkannya menyelidiki pembunuhan tersebut.

Dalam perjalanan kembali ke desa dari vila sang Penguasa, Kaze mendengar suara tangisan wanita dan menemukan sosok berkimono putih terisak di tengah jalan. Ia pun gemetar karena tahu betul sosok tersebut merupakan majikan perempuannya yang telah meninggal. Kaze memberanikan diri menyapa obake (hantu) itu dan meminta izin untuk menyelidiki pembunuhan sebelum kembali berkonsentrasi melacak jejak tuan putri kecilnya.

Penyelidikan itu membawa Kaze hingga ke sarang bandit yang telah lama meresahkan warga. Kaze membunuh si ketua dan membuat kelompok tersebut kocar-kacir. Namun mereka bukanlah pihak yang bertanggung jawab atas mayat di persimpangan. Di sisi lain, saat mengunjungi kedai teh Higashi untuk kedua kalinya, Kaze bertemu dengan rombongan aneh yang terdiri dari seorang wanita tua yang galak, remaja tanggung yang penakut, serta seorang laki-laki tua yang ringkih. Mereka sedang menjalankan misi balas dendam resmi terhadap seorang pedagang. Pada akhir pertemuan, si pemuda memberikan Kaze sepotong kue beras bakar yang dibungkus dengan kain.

Penyelidikan Kaze akhirnya membuahkan hasil. Ia berhasil mengetahui pemilik anak panah berkualitas tinggi yang membunuh laki-laki di persimpangan, juga misteri hantu berkuda yang membawa sesosok tubuh. Kaze pun meminta pembunuh tersebut untuk melakukan seppuku.

Ketika meninggalkan desa Suzaka untuk melanjutkan pencariannya, Kaze teringat pada kue beras yang diberikan si pemuda di kedai teh Higashi. Ia pun memutuskan untuk memakannya. Saat hendak membuang kain pembungkus kue, Kaze tercekat. Di sisi dalam kain itu tampak gambar tiga kuntum bunga plum. Itu merupakan lambang keluarga majikannya. Lambang dari pakaian gadis yang sedang ia cari.

Sebuah kisah yang amat menarik tentang kesetiaan seorang samurai kepada tuannya. Mengambil latar masa awal kekuasaan Tokugawa, novel ini menceritakan sedikit tentang Nobunaga, Hideyoshi, dan perang Sekigahara dari sudut pandang samurai dan rakyat jelata. Kisah sejarah klasik Jepang selalu menarik buat saya sejak menamatkan Musashi dan Taiko karya Eiji Yoshikawa beberapa tahun lalu. Apalagi jika dituturkan dengan bahasa yang teratur dan tidak berbelit sehingga memudahkan untuk mempelajari kebudayaan Jepang klasik.

Have a sunny Sunday!


4 comments:

  1. Sepertinya menarik, review nya keren nih,...terimakasih sudah berbagi :)

    ReplyDelete

Thanks for calling at ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...