Monday, February 17, 2014

Hikayat Gampong Lam Uteun

Sebuah cerpen yang dimuat di tabloid Bungong edisi Desember 2010.

HIKAYAT GAMPONG LAM UTEUN
Oleh Khairatun Hisan

Uteun
Gampong Lam Uteun gempar. Keuchik yang sedang menjabat  tak lama lagi akan menghabiskan masa jabatannya. Warga akan segera memiliki pemimpin baru. Banyak nama mencuat sebagai calon kepala kampung itu. Satu yang membuat geger adalah nama yang tidak asing di telinga masyarakat yang juga ikut disebut-sebut. Nama yang tidak disangka-sangka berambisi memimpin gampong. Satu-satunya nama yang mencerminkan perbedaan dari nama calon lainnya. Yaitu nama seorang perempuan: Zubaidah.



Zubaidah merupakan seorang warga biasa. Ia ibu rumah tangga bersuami satu dengan dua anak yang sedang menempuh pendidikan di tingkat Sekolah Menengah. Sehari-hari Zubaidah dikenal sebagai seorang yang pendiam. Ia jarang ikut para tetangganya yang seumeulhap sambil membicarakan desas-desus yang beredar di gampong. Kalaupun ia ikut mereka, ia hanya berpartisipasi di acara makan-makan tersebut tanpa tertarik memberikan pendapat terhadap kabar burung yang dibicarakan rekannya sesama ibu rumah tangga. Zubaidah pun selalu terlihat menutup kepalanya saat keluar rumah, meski ia hanya berkunjung ke rumah tetangga di sebelah rumahnya.

Sementara ia bekerja di rumah, suaminya adalah seorang guru di Sekolah kecamatan. Ia merupakan laki-laki beruntung anak seorang yang dituakan di gampong, yang menikahi Zubaidah –bungong gampong cerdas yang berasal dari kecamatan berbeda- dan memboyongnya ke gampong Lam Uteun ini. Mereka berkenalan saat masih kuliah di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) di sebuah sekolah tinggi di Banda. Tentu saja, Zubaidah dipersunting suaminya salah satunya karena kecerdasannya. Saat sang suami menjabat ketua himpunan mahasiswa, Zubaidah terpilih sebagai sekretarisnya.

Meskipun lulus dengan nilai yang memuaskan, Zubaidah tidak menolak ketika diminta suaminya untuk tinggal di rumah mengurus rumah tangga. Ia percaya bahwa sang suami menginginkan yang terbaik untuknya dan selalu berusaha memenuhi keinginannya. Seperti kali ini, ia mendukung sepenuhnya niat sang istri untuk menjadi kepala gampong.

Para tetangga merasa terkejut dengan keinginan Zubaidah tersebut. Pasalnya,  belum ada satu pun gampong di daerah mereka yang memiliki keuchik seorang perempuan. Memang ia belum tentu memenangi pemilihan, namun sekadar mencalonkan diri pun tidak pernah ada sebelumnya. Lagi pula, siapa yang akan mempercayai perempuan sebagai pemimpin? Apalagi macam Zubaidah, seorang figure yang sangat pendiam. 

Begitulah kira-kira apa yang ada dalam pikiran masyarakat desa mengenai pencalonannya. Zubaidah bukannya tak tahu itu. Tapi tekadnya untuk maju sudah bulat. Masyarakat hanya belum terbuka untuk memiliki perempuan pemimpin. Mereka masih mengira kepemimpinan itu mutlak monopoli kaum laki-laki. ‘Setidaknya, pencalonanku ini akan mengubah pola pikir mereka tentang kepemimpinan,’ pikir Zubaidah.

Ia sudah mendapat restu dari suami dan keluarga besar suaminya. Mereka semua tahu kemampuan memimpin Zubaidah, meskipun skala yang akan dihadapinya berbeda dengan apa yang telah ia tangani selama masih menjadi mahasiswi. ‘Tapi setidaknya ia punya pengalaman memimpin dan kemampuannya patut dipertimbangkan,’ asumsi keluarga.

Sementara itu, wacana ini terus menjadi bahan perbincangan yang hangat di seluruh gampong, malah radiusnya sudah mencapai desa tetangga. Pembicaraan semakin menghangat saat Zubaidah membuktikan desas-desus itu bukanlah isapan jempol belaka dengan mendatangi kantor geuchik untuk mendaftarkan diri. Tanggapan warga beragam. Ada yang mencibir, heran, bahkan mendukung.

“Tak menyangka aku dia mau jadi keuchik. Apalah kata orang nanti kalau gampong kita dipimpin perempuan? Mau taruh di mana muka  bapak-bapak di sini?” cetus seorang warga yang juga mencalonkan diri kali ini. Pembicaraan yang lazim bergaung di keude kuphi.

“Aneh rasanya kita akan mempunyai bu keuchik alih-alih pak keuchik. Biasanya bu keuchik itu adalah istrinya pak keuchik. Tapi kalau Zubaidah yang jadi keuchik, apa kita akan menyebut suaminya sebagai pak keuchik?” cetus seorang tetangga yang sepertinya tertarik dengan ide adanya keuchik perempua,. “memang gampong laen belum ada, kalau Zubaidah terpilih kita akan jadi yang pertama dan ini layak dicoba,” tambah warga yang juga seorang guru tersebut.

“Sepertinya Zubaidah punya maksud dan alasan sendiri kenapa ia mau menjadi keuchik. Dan kalau tujuannya bagus, saya akan pilih dia walaupun dia perempuan. Karena dari dulu gampong kita tidak ada perubahan yang berarti.” Komentar seorang tetangga yang segera menyambangi Zubaidah di rumahnya sore itu juga.

Ketika ditanya alasannya akan pencalonan yang menggemparkan tersebut, Zubaidah menjawab lugas, “Saya hanya ingin memberikan suatu hal yang berbeda dan tentu saja lebih baik untuk gampong ini, terutama untuk perempuan. Selama ini sangat sedikit program gampong yang melibatkan perempuan selain memasak saat kenduri. Saya ingin kita bisa punya kelompok tani ataupun ternak yang terdiri dari perempuan. Karena saat ini pun, PKK yang menjadi wadah perempuan gampong agak tidak terperhatikan,” jawabnya diplomatis.

Jawaban Zubaidah terkesan seperti kampanye walaupun tentu saja bukan sebab ia tidak mendatangi masyarakat untuk menyampaikannya. Ia hanya mengutarakan alasan keinginannya menjadi geuchik, itupun karena ditanya. Namun lazimnya masyarakat gampong, berita mengenai sebab Zubaidah ingin menjadi geuchik berikut apa saja yang mungkin akan dilaksanakannya jika menjabat segera menyebar ke seluruh gampong. Banyak yang kini mulai mempertimbangkan untuk memilihnya, terutama kaum perempuan. Apalagi saat mereka tahu bahwa Zubaidah sebenarnya seorang yang cerdas dan berpengalaman, kekaguman warga semakin menyata. Kian hari rumahnya kian ramai didatangi warga.

Hingga tibalah harinya pemilihan dilaksanakan. Warga gampong baik yang laki-laki dan perempuan, tua dan muda, seluruhnya berkumpul di meunasah, memenuhi bangunan yang mejadi pusat pemerintahan gampong tersebut. Karena tidak dapat menampung semua yang hadir, banyak warga yang berdiri di luar. Semuanya tidak ingin melewati pemilihan geuchik paling berbeda sepanjang yang mereka ingat. Ada tiga pihak yang mencalonkan diri dan tentu saja hanya Zubaidah yang perempuan. Pemilihan dilakukan secara voting yang dipimpin oleh keuchik yang akan habis masanya. Hasilnya, Zubaidah memenangi pemilihan dengan selisih enam suara dari pesaing terberatnya, kandidat yang mencemoohnya di warung kopi. Mayoritas pemilihnya adalah perempuan dan segelintir laki-laki. 

Siang itu cerah seiring masyarakat bergembira. Mereka akhirnya memiliki pemimpin perempuan pertama di gampong. Semuanya berharap apa yang dicita-citakan Zubaidah dapat benar-benar diwujudkan. Terutama yang berkaitan dengan pemberdayaan perempuan gampong.[]

10 comments:

Thanks for calling at ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...