Wednesday, February 12, 2014

The Fault in Our Stars

The Fault in Our Stars
Sebuah kisah menarik tentang Hazel dan Gus.
Hazel Grace adalah seorang gadis penderita kanker tiroid berusia 16 tahun yang tinggal di Indiana. Kankernya telah merambat ke paru-paru  dan cairannya telah menghambat kerja organ pernapasan tersebut.  Akibatnya, ia selalu menggunakan alat bantu napas, bahkan selalu membawa tabung kecil oksigen kemana pun. Hari-hari Hazel dihabiskan di rumah dan sesekali mengikuti pertemuan bersama Kelompok Pendukung di ruang bawah tanah gereja, suatu kegiatan yang ia anggap malah menambah depresi.  Atau setidaknya, hingga ia bertemu pemuda jangkung dan tampan berusia 17 tahun, Augustus Waters, mantan atlit basket SMA North Central dan harus berhenti bermain karena kehilangan sebelah kakinya akibat osteosarkoma. Ia  kini berstatus NEC (No Evidence of Cancer) setahun lebih.

Dimulai dari ajakan Augustus untuk menonton film favoritnya, V for Vendetta (kata Gus, Hazel mirip Natalie Portman tahun 2000), mereka saling bertukar bacaan favorit: Ganjaran Fajar dan Kemalangan Luar Biasa. Ganjaran Fajar adalah buku kesukaan Gus yang merupakan versi novel dari video game favoritnya, sedangkan Kemalangan Luar Biasa yang disukai Hazel bercerita tentang Anna, penderita kanker darah langka yang membangun Yayasan Anna untuk Penderita Kanker yang Ingin Menyembuhkan Kolera. Berawal dari diskusi bacaan tersebut, keduanya merasa cocok dan menjadi lebih sering menghabiskan waktu bersama.
Namun kemalangan luar biasa memiliki akhir yang tidak biasa, yaitu berakhir di tengah-tengah cerita. Tepatnya di tengah-tengah kalimat. Hal ini membuat Hazel terobsesi untuk mengetahui apa yang terjadi pada Anna, ibunya, bahkan hamster peliharaannya. Hazel bahkan telah menulis puluhan surat kepada penulis novelnya yang telah pindah ke Belanda, mencari tahu perkembangan orang tersebut di internet, namun tidak ada titik terang sama sekali hingga suatu hari Gus mengabarkan bahwa ia mendapat balasan email dari asisten penulis tersebut yang mengatakan bahwa si penulis tidak akan membocorkan akhir cerita tersebut kepada siapapun, kecuali mereka bertemu secara langsung.
Adalah organisasi bernama Yayasan Peri yang kerjanya mewujudkan satu keinginan anak sakit. Karena Keinginan Hazel telah digunakannya untuk pergi ke Disney World, Gus memberikan kejutan dengan menghubungi pihak relawan dan menggunakan keinginannya untuk membawa mereka ke Belanda.
Namun beberapa waktu kemudian Hazel masuk ICU dan koma beberapa hari akibat cairan kanker kembali memenuhi paru-parunya. Selama ini ia selalu berusaha menjauhkan diri dari Gus karena merasa dirinya adalah granat yang akan melukai orang yang dicintainya saat meledak nanti.  Tapi siapa sangka, hampir bertepatan dengan saat Hazel terbaring di ICU, Gus yang mulai merasakan nyeri di pinggangnya kembali melakukan pemindaian PET dan hasilnya, ia menyala hampir di seluruh tubuh.
Ternyata, Hazel-lah yang sebenarnya mencintai bom waktu yang akan meledak dalam waktu dekat!
Sebuah cerita cinta yang sederhana dan tulus, antara dua remaja yang berusaha bertahan hidup dalam perang melawan penyakit mematikan. Novel ini ditujukan untuk pembaca remaja, karenanya bahasa yang digunakan pun sangat ringan dan tidak berbelit. Sederhana, namun mampu memberikan makna yang dalam.

Judul: The Fault in Our Stars
Penulis : John Green (penerj. Ingid Dwijani)
Penerbit: Qanita
ISBN: 978-602-9225-58-7
Tebal: 424 Halaman
Cetakan I, Desember 2012

12 comments:

  1. setuju dengan mizz aiza bahawa sinopsis buku ini menarik...

    ReplyDelete
  2. mengharukan, cerita yang sepertinya bakal mengaduk emosi pembaca dan meneteskan air mata ... resensi yang bagus sekali, Khaira....

    ReplyDelete
  3. macam menarik jer jalan cerita nie...hehehe

    Regards,
    -Strider-

    ReplyDelete
  4. novel ini sedang diangkat mnjd movie. bulan juni ini release :D

    ReplyDelete
  5. kakak, buku indonesianya beli dimana?:)

    ReplyDelete

Thanks for stopping by ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...