Friday, March 28, 2014

Panjang Umur dengan Silaturrahim

Beliau masuk ke dalam rumah dengan langkahnya yang tertatih-tatih. Wajahnya yang sudah sangat keriput terlihat berseri, segar dengan air wudhu yang masih menetes. Aku segera bangkit dari duduk dan menyongsongnya, meraih tangannya untuk kusalami dan kucium. Ia balas mencium tanganku sambil mendekatkan wajahnya dan menyipitkan mata, mencoba mengenaliku. “Nyoe Hisan, nyoe (ini Hisan, ya)? ” tanyanya yang segera kujawab dengan “Nyoe (ya), Nek.” Aku tidak dapat menyembunyikan kebahagiaanku bahwa beliau masih mengenalku.

Setelah itu giliran ketiga adikku dan kedua orangtuaku yang menyalaminya. Lalu setelah memastikan kami telah selesai menyantap makan siang dan memperoleh tikar yang layak untuk duduk, beliau pun menaiki tangga ke bagian rumah panggungnya untuk menunaikan salat dhuhur.

Aku tidak tahu namanya. Sepertinya pernah kutanyakan pada kakekku tapi aku lupa. Jadi, kami semua mengenalinya sebagai Nek Mureu, yang mengacu kepada desa di wilayah Indrapuri, Aceh Besar, karena beliau tinggal di sana. Nek Mureu adalah ibu kandung kakekku, yang berarti adalah nenek ibuku, dan nek tu-ku. Usianya sudah melewati satu abad dengan fisik yang masih cukup kuat untuk ‘jalan-jalan’ dan mengurus keperluannya sendiri.

Hari ini kami sekeluarga berangkat ke Mureu untuk menghadiri undangan maulid di kampung halaman kakekku. Begitu tiba di sana, nenekku segera memberitahu bahwa Nek Mureu menanyakanku. Aku sedikit tersanjung mendengarnya. Senang karena dari sekian banyak cucu dan cicitnya, nektu-ku itu masih mengingatku.

Selesai menyantap makan siang kami pun melangkah masuk ke rumah tempat tinggal Nek Mureu. Beliau masih di luar untuk berwudhu. Sementara beliau salat, kami berbincang dengan salah seorang adik kakek yang ada di sana. Tentu saja topiknya adalah pemilik rumah. Membicarakan bagaimana beliau masih seringkali jalan-jalan mengunjungi anak dan saudaranya. Sesekali Nek Mureu kedapatan berjalan kaki beberapa kilometer untuk mengunjungi anaknya yang tinggal selang beberapa desa dari tempat tinggalnya. Tidak ada yang tahu beliau pergi hingga ia tiba di tujuan dan mengejutkan anak, cucu, serta cicitnya di sana. Setelah mendapati bahwa anaknya sehat-sehat saja, tidak ada keluarga anaknya yang sakit, beliau pun kembali berjalan kaki menuju rumahnya. Tidak peduli kepada cucu dan cicitnya yang kalang kabut mencari sepeda motor untuk mengantarnya pulang.

Sesekali saat beliau berada di rumah kakekku, beliau akan minta diantarkan ke rumah siapa saja yang ia kenal. Mulai dari mengunjungi besan (ibu dari nenekku) hingga mendatangi cucu dan cicitnya. Lain kali beliau diantar pulang oleh kemenakan setelah mereka mendapati ‘kemunculannya’ di rumah mereka, yang terletak di desa yang lebih dekat dari rumahnya namun dipisahkan oleh sungai yang cukup dalam. Sehingga satu-satunya cara beliau bisa tiba di sana ialah dengan melewati jembatan gantung. Tentu saja anak cucu yang tinggal satu pekarangan dengannya seringkali dibuat khawatir dengan hobi silaturrahim-nya ini karena beliau tidak pernah memberi tahu siapa pun saat akan kemana-mana.

Aku selalu mengagumi Nek Mureu karena di umurnya yang sudah tiga digit beliau masih sehat dan bisa beraktivitas dengan lancar. Hanya pendengaran dan penglihatannya yang sudah berkurang ketajamannya serta sesekali beliau mengeluh sakit pinggang -yang tentu saja dianggap lumrah oleh anak cucunya. Beliau juga mempunyai ingatan yang sangat kuat dan dapat mengenali setiap cucu dan cicitnya, terutama yang sering berkunjung. Beliau bahkan sanggup mengenali anggota baru keluarga dalam wujud cucu menantu saat mereka mengunjunginya. 

Aku tidak dapat menebak rahasia umur panjang dan kesehatannya. Mungkin karena gen atau pola hidup? Mengingat abu chiek –suaminya- juga meninggal dalam hitungan usia melebihi satu abad. Aku baru mendapat pencerahan saat mendengar ucapan ayahku: 

“Begitulah orang tua dulu, selalu berusaha untuk tetap menyambung silaturrahim hingga hidupnya tenang dan tak jarang diberkahi dengan umur yang cukup panjang.”

Ayah kembali menjelaskan bahwa setiap kali bersilaturrahim, kita akan mengucapkan salam yang notebene-nya adalah ungkapan doa. Di lain pihak, orang yang mendengarkan salam wajib menjawabnya sehingga mereka pun mendoakan kita. Nah, semakin sering bersilaturrahim semakin banyak pula orang yang mendoakan keselamatan dan kesejahteraan kita. Inilah salah satu sebab hidup kita menjadi tenang dan diberkahi.

Saat mendengar penjelasan ayah, aku baru teringat akan hadist nabi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dengan redaksi artinya kira-kira seperti ini:


“Siapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia menyambung (tali) silaturrahim.”

Mungkin tidak semua orang mendapatkan umur panjang dalam arti harfiahnya dengan silaturrahim, tapi setidaknya mereka mendapatkan umur yang berkah dari banyaknya doa yang mereka terima. Bukankah umur yang singkat namun berkah jauh lebih baik daripada umur panjang tetapi sia-sia?

Me and my great grandma
Setelah salat, Nek Mureu kembali turun menjumpai kami dan mendengarkan pembicaraan kami. Sesekali beliau menanyakan kabar orang-orang yang dikenalnya. Apakah mereka sehat dan baik-baik saja. Wajahnya tidak berhenti tersenyum saat kami mengajaknya bicara dan tidak ragu untuk meminta kami mengulang dengan suara yang lebih tinggi saat beliau tidak mendengarnya dengan jelas. 

Menjelang pukul dua siang kami mohon diri karena langit pun sudah mulai gelap, pertanda hujan akan segera turun. Ketika berpamitan pulang, setelah mencium punggung tangannya dan memintanya untuk berfoto, beliau terlihat tersipu dan menolak dengan alasan sudah tua dan pastinya tidak akan bagus jika difoto. Aku sempat melihat tangannya menyapu jilbab ke matanya dan aku berasumsi beliau menangis karena mata itu memang tampak sedikit berair. Tentu saja aku terharu. Melihat Nek Mureu aku jadi bertanya-tanya sendiri, apakah masa tua kami akan bahagia sepertinya? More importantly, akankah kami hidup hingga usia yang cukup untuk disebut tua?  

Wallahu a’lam.

8 comments:

  1. ternyata memanjangkan silraturrahim bermanfaat terhadap emosi kita juga.. itulah kunci ketenangan dan kegembiraan kita juga..

    ReplyDelete
  2. kira - kira berapa umuurnya sudah, kalo dikira2 dengan angka

    ReplyDelete
  3. Wooooww. Nice. Entah kenapa ada nuansa haru terasa setelah selesai membaca tulisan ini.

    ReplyDelete
  4. Salah satu hal yang paling disenangi dari kisah orang-orang dulu yang berusia lanjut memang tak lain adalah jalinan silaturrahmi, karena betul bahwa silaturrahmi memberikan kita berkah dalam usia :)

    ReplyDelete
  5. Betul sekali yah Mbak Khaira, dengan bersilaturahmi mungkin
    Bisa memanjangkan Umur, bahagia terasa yah Mbak bisa kumpul sama keluarga

    ReplyDelete
  6. omaa.
    hana saba lee woe u gampong utk silaturrahmi.
    hahaha
    nice post, sista :D

    ReplyDelete
  7. Kalau di dunia maya, kadang blogwalking bisa disebut-sebut sebagai istilah silaturahim, padahal sih antara iya sama enggak. hehehehe

    ReplyDelete

Thanks for calling at ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...