Monday, July 7, 2014

Karena Saya Kecewa

Saya memulai tulisan ini pada Minggu, 6 Juli 2014 pukul 23.24 malam, setelah selesai mencuci piring dan menepuk nyamuk yang hinggap di kaki adik. Mungkin tidak akan selesai hingga hari berganti. Mungkin juga saya akan menamatkannya suatu hari nanti. Jadi jika Anda sekarang sedang membaca, berarti saya sudah berhasil menuliskannya.

Image credit: Google.com
Mohon dicatat: saya tidak bermaksud menyinggung siapa pun dengan tulisan ini. Tidak juga pihak manapun. Saya hanya ingin menuliskan apa yang saya rasakan. Saya kecewa dan entah kenapa, saya ingin bercerita.

Berbicara dengan ayah tentang hal yang serius, seringkali menyangkut masa depan, selalu saja berhasil membuat kelenjar air mata saya melaksanakan tugasnya. Begitu juga malam ini. Saat ayah menyinggung suatu hal yang beberapa bulan belakangan ini saya perjuangkan, namun harus menelan kekecewaan. Kata-kata lembutnya kembali membuat air menggenangi kedua mata saya, mengingatkan saya tentang cita-cita yang sudah saya coba lupakan. Keadaan tersebut membuat saya menyadari satu hal: saya benar-benar kecewa. Jujur saja, itu menyakitkan.

Tidak, saya tidak kecewa dengan ayah saya. Saya amat bangga padanya.

Bagi saya, ayah adalah sosok yang sangat pengertian. Layaknya anak perempuan pada umumnya, saya juga mengidolakan ayah saya. Beliau tahu betul apa yang terjadi pada saya serta apa yang saya rasakan. Beliau selalu dapat menjadi tempat curhat sejak saya kanak-kanak, remaja, bahkan saat ini. Beliau selalu mampu memberikan solusi untuk persoalan yang saya hadapi. Beliau selalu mendukung setiap keputusan yang saya ambil, walaupun dalam beberapa hal saya tahu mungkin beliau kurang setuju. Dan layaknya seorang hero, beliau selalu berusaha memastikan segalanya work out untuk saya. Termasuk dalam hal ini…

But, beggars can’t be choosers.

Saya yakin Anda semua pernah mendengar kalimat ini. Seorang peminta-minta tidak punya hak untuk memilih apa yang akan diterima. Pun seseorang yang diberi hadiah. Ia tidak seharusnya memilih hadiah yang akan diterima, kecuali si pemberi memberikan kebebasan untuk itu. Nah, posisi saya sekarang ini mirip dengan situasi yang terakhir.

Analoginya begini: katakanlah sedang membutuhkan sebuah buku tentang topik tertentu namun tidak mempunyai dana untuk membelinya. Suatu hari ada seseorang yang menawarkan untuk membelikan buku bagi siapa yang memerlukan. Anda pun menemuinya dan ia meyakinkan Anda untuk memilih salah satu buku yang Anda inginkan tanpa menyebutkan batasan harga. Anda lalu memilih satu buku yang paling Anda sukai. Si Pemberi pun menyukainya. Namun karena buku yang Anda senangi itu sudah ada yang pesan, Anda harus menunggu beberapa hari hingga re-stock. Dalam jangka waktu itu mungkin Anda diminta membayar sedikit sebagai tanda pemesanan karena buku itu termasuk yang sulit didapat. Saat Si Pemilik toko mengabarkan bahwa buku yang Anda pesan sudah ada, Sang Pemberi tadi mengatakan bahwa harganya terlalu mahal dan Anda diminta untuk memilih yang lain saja. Anda pun terpaksa membatalkan pemesanan tersebut karena walaupun sangat menginginkannya, Anda tidak mampu membayarnya.

Saya tidak tahu jika Anda, tapi kalau saya ada dalam posisi tersebut, saya akan merasa kecewa. Tidak terlalu, mungkin, jika itu untuk sebuah buku. Kenyataannya, yang saya alami tidaklah sesederhana membeli bacaan. Karena untuk berkesempatan memilih buku gratis, Anda mungkin tidak perlu bersaing dengan ribuan orang dan melalui beberapa tes agar sampai ke tahap akhir. Dan sebuah buku pastinya tidak akan berpengaruh secara drastis terhadap kehidupan Anda untuk satu atau dua tahun ke depan.

Karena ini suatu hal yang telah menjadi cita-cita saya sejak bertahun lalu, saya rasa wajar jika saya merasa sangat kecewa.

Saya tahu diri. Saya tidak pernah berusaha menawar suatu benda jika saya tidak sanggup membelinya, kecuali ada yang berjanji akan membayarnya untuk saya. Karena jika sudah menawar, artinya saya mulai menumbuhkan harapan untuk memiliki dan saya pasti akan kecewa jika harapan tersebut tidak menjadi kenyataan. Seperti yang saya tuliskan di sini, saya selalu takut kecewa.

Dalam konteks yang sama, bertahun lalu saya juga pernah kecewa. Seperti yang saya ceritakan di sini. Namun saat itu yang menjadi penyebab bukanlah nominal, melainkan mamak yang sebenarnya tidak rela. Untuk mencegah kekecewaan saya berulang, kali ini saya telah meminta restu dari beliau berulang kali, bahkan sempat berniat tidak melanjutkan jika beliau ternyata belum ridha. Alhamdulillah, ridha kedua orangtua sudah saya kantongi. Saya hanya perlu terus mencari cara untuk mewujudkannya.

Oleh karena itu, saat ayah duduk di samping saya sepulangnya dari salat tarawih dan meyakinkan saya bahwa pasti ada hikmah di balik apa yang terjadi, saya tidak dapat mencegah mata saya dari menjadi basah. Pun saat beliau bertanya apa ada yang bisa dilakukan mengenai hal tersebut, saya hanya bisa berkata akan mencoba mencari buku lain yang harganya lebih rendah, atau mungkin mencari pihak lain yang bersedia membelikan saya buku yang saya butuhkan.

Saya memang kecewa. Tapi saya tahu ini bukan akhir dari semua. Masih banyak jalan untuk mewujudkan cita-cita. Siapa tahu ternyata rezeki saya ada pada buku yang satunya? Mohon doa dari Anda.

Sekali lagi saya hanya menuliskan apa yang saya rasa, tidak bermaksud menyinggung siapa pun dan pihak mana pun. Saya sadar betul posisi saya. Beggars can’t be choosers. Saya paham benar makna kalimat tersebut.

Note: If you understand what I am trying to say, please be informed that honestly, the most frustrating time for me recently has been when I am being asked the thing that I have no idea what the answer is. Sorry for that.

Happy fasting!

4 comments:

  1. i have nothing to say.. but.. u re not beggar. u can choose what u want...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks for coming here.
      I am not, I believe so. Yet in this case I don't have many choices.

      Delete
  2. Waduh nampaknya si mbak khaira sedang dilema hehehe.

    ReplyDelete
  3. Membaca postingan ini seperti mengejar 'apa' yang membuat kak chaira kecewa, tapi ga ketemu dan saya kecewa. #glek!

    :D

    ReplyDelete

Thanks for stopping by ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...