Sunday, August 31, 2014

Alumni in White Jacket

Pada dasarnya, pesantren dikenal sebagai institusi pendidikan yang mencetak generasi penerus dengan bekal pengetahuan agama yang dominan. Fakta tersebut menyebabkan alumni pesantren seringkali diasosiasikan dengan ustadz ataupun da’i. Hal ini ada benarnya mengingat para santri diberikan pendidikan agama yang lebih banyak daripada yang diterima oleh siswa sekolah pada umumnya, jadi mereka dianggap memiliki pengetahuan yang lebih dibandingkan rekan sebayanya. Namun demikian, berdakwah –secara harfiah- bukanlah satu-satunya bidang yang dapat digeluti para lulusan. Seperti halnya tamatan sekolah umum, alumni pesantren juga dapat berkiprah di berbagai aspek, sebut saja sosial, pendidikan, angkatan bersenjata, kesehatan, dan sebagainya. 

Sebagai pesantren yang telah berdiri selama lebih dari dua dekade, Oemar Diyan telah menghasilkan alumni dengan beragam pilihan profesi. Banyaknya pelajaran yang perlu dipahami terbukti tidak menghalangi para lulusan untuk menggapai cita-cita. Termasuk bagi mereka yang hendak bersaing untuk mendapatkan bangku kuliah di jurusan ‘pilihan sejuta umat’, pendidikan dokter.


Shinta
Di antaranya adalah Mecita Afdhilah dan Shinta Amelia. Dua anggota leting Isyalirtium ini telah mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran mereka pada tahun 2012 dan saat ini sedang menyelesaikan masa pendidikan preklinik-nya (koas) di RSUZA.

Bagi Shinta, menjadi dokter merupakan cita-citanya sejak kecil. Namun ia tak memungkiri bahwa pilihan karirnya sempat berubah. Keyakinannya muncul kembali saat berada di kelas XII.  Ia memerhatikan masih banyak bantuan yang dapat ditawarkan oleh pihak medis dan ia pun mendapatkan banyak motivasi serta dukungan dari orangtua. Hal tersebut membuat sekretaris OPDTCU selama dua periode ini yakin dalam mengambil keputusan untuk masuk ke dunia kedokteran.

Keadaan yang sebaliknya berlaku pada Mecita. Ia bisa dikatakan sama sekali tidak berpikir untuk menjadi dokter hingga saat harus menentukan pilihan jurusan. Mantan ketua bagian bahasa ini baru memutuskan untuk memilih pendidikan dokter sehari sebelum batas akhir pengembalian formulir pendaftaran Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) tahun 2008 lalu, ketika ia mengikuti saran salah satu anggota keluarganya. 
Meci

Namun demikian, berbedanya motivasi awal  mereka tidak turut membedakan  persiapan yang dilakukan untuk lulus. Keduanya mengaku tidak memiliki persiapan khusus agar dapat bangku di jurusan tersebut. Mereka hanya mempersiapkan diri secara standar bagi calon mahasiswa, yaitu dengan belajar mengenai soal-soal SNMPTN –yang berbeda dari soal UN- dan tidak lupa berdoa.

Adalah suatu rahasia umum bila kuliah di jurusan pendidikan dokter  diasosiasikan dengan padatnya jadwal dan minimnya waktu libur.  Begitu pula yang dialami oleh dua alumni tamatan tahun 2008 ini. Mereka beranggapan keadaan tersebut merupakan hal yang menantang bahkan dapat menjadi menyenangkan jika dijalani dengan tulus dan tanpa paksaan. Tapi akibat tingginya tuntutan untuk dapat menguasai ilmu, mereka tidak memungkiri kadangkala kurang merasakan hal lain selain kuliah.

Tambahan pula, setelah empat tahun berjibaku untuk mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran (S.Ked.), mahasiswa masih harus menjalani pendidikan preklinik (koas) di rumah sakit untuk mendapatkan gelar dokter (dr.). Tahapan inilah yang memberikan banyak pengalaman bagi para dokter muda, saat mereka benar-benar belajar untuk menangangi pasien. Shinta menyebutkan bahwa  salah satu hal yang menyenangkan ketika koas adalah di saat pasien yang ia tangani dari awal sampai akhir rawatan merasa senang dan puas dengan sikapnya dalam memberikan pelayanan, sehingga hubungan silaturrahmi tetap terjaga dengan baik walaupun si pasien telah selesai rawatan. Di samping feedback positif tersebut, menjalani koas selama hampir dua tahun di enam belas bagian yang berbeda juga menawarkan pengalaman yang kurang menyenangkan bagi mereka. Bahkan ada kalanya di salah satu bagian, duka yang mereka dapati lebih banyak daripada sukanya. “Namanya juga perjuangan,” ujar Mecita.

Saat disinggung mengenai peluang untuk lulus di fakultas kedokteran dengan latar belakang pendidikan pesantren -yang dianggap kurang fokus terhadap pelajaran eksak-, Mecita berpendapat bahwa bukan sekolah yang menentukan kelulusan melainkan ujian masuk universitas. Pilihan jurusan bukanlah masalah sebab tes yang diikuti tidak berbeda untuk semua jurusan kecuali pada tingkat persaingannya. Jadi para calon mahasiswa perlu mempersiapkan diri dan belajar untuk mengikuti ujian yang kini telah berubah nama menjadi SBMPTN itu, apapun pilihan jurusannya.

Bahkan bagi Shinta, semua pembelajaran dan pengalaman yang ia dapat selama di pesantren sangat berguna untuk diaplikasikan dalam menjalani pendidikan dokter. Hal-hal seperti manajemen waktu, cara berkomunikasi, kedisiplinan, kemandirian, tanggung jawab, keorganisasian dan kemampuan dalam berbahasa Arab dan Inggris sangat membantu proses pendidikannya yang begitu menguras tenaga dan pikiran. “Dari segi ilmu, banyak sekali hubungan antara ilmu kedokteran dengan ilmu agama. Maka dari itu dengan adanya dasar ilmu agama yang kuat dapat memudahkan kita, contohnya dalam menentukan pengobatan yang baik dan halal dari segi agama bukan hanya dari segi medis,” pungkasnya.

Dengan bercermin dari pengalaman kedua pejuang jas putih di atas, tidak ada alasan bagi alumni pesantren yang notebene-nya mendapatkan pendidikan agama  yang lebih banyak dan ilmu pengetahuan umum yang tidak kurang dari alumni sekolah lainnya untuk tidak berusaha meraih cita-cita yang telah digantung tinggi -dalam bidang apa pun sejauh tidak bertentangan dengan aqidah islamiyah. Setiap manusia telah ditentukan takdirnya dan tiada siapa pun yang mengetahui apa yang telah digariskan untuknya. Semua orang memiliki peluang yang sama untuk menjadi insinyur, dokter, guru, ilmuwan, dan sebagainya. Kewajiban sang hamba adalah berupaya dan Sang Pencipta yang akan menentukan hasilnya. Do your best, and God will do the rest.

3 comments:

  1. waw...dengan menjadi bagian dari alumni in white jacket, tentu jadi kebanggaan bagi semua orang yang menyanyanginya.

    selamat kepada para alumni, shinta...:D

    ReplyDelete
  2. saluuuuuuuuttttt...makin penuh blognya....lanjut!! mga chaira jadi penulis internasional...amin ya Allah!!

    #trusniekapan???hohoho

    ReplyDelete
  3. sukses semua kepada kawan kawan... seemoga selalu dalam lindungan Allah.. :D

    ReplyDelete

Thanks for stopping by ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...