Wednesday, October 1, 2014

Kisah Hidup Si Petualang Tua

Judul: The 100-Year-Old Man Who Climbed Out Of the Window and Disappeared
Penulis: Jonas Jonasson
Tebal: viii+508 hlm
Penerbit : Bentang Pustaka
ISBN: 978-602-291-018-3
Cetakan Pertama, Mei 2014

Kurang dari satu jam sebelum perayaan ulang tahunnya yang ke 100, Allan Karlsson memutuskan untuk melompat keluar melalui jendela kamarnya di rumah lansia dan kabur. Allan tidak pernah berlama-lama dalam memutuskan sesuatu. Begitu pula kali ini. Saat ia tiba-tiba saja memutuskan tidak ingin menunggu kematiannya datang menjemput di rumah yang dipenuhi orang-orang tua – meskipun tidak ada yang setua dirinya. Tanpa rencana kaki-kaki tua yang sudah tidak terlalu kuat lagi dan hanya dilapisi sandal kamar membawanya ke terminal bus untuk menjalani satu lagi petualangan yang telah ia lalui selama seratus tahun hidupnya.


Allan Karlsson lahir di suatu kota kecil di Swedia pada tahun 1905, menjadi yatim piatu pada usia 15 tahun, dan meledakkan rumahnya sendiri sembilan tahun kemudian. Setelah peristiwa itu, Allan yang telah piawai dalam bahan peledak memulai petualangannya di berbagai Negara dan ikut andil dalam ‘menuliskan’ sejarah dunia. Ia pernah menjadi teman Jenderal Franco dari Spanyol (bab 7), makan malam bersama presiden Amerika Harry S. Truman (bab 9), menyelamatkan istri Mao Zhe Dong (bab 11), dijamu oleh Stalin (bab 16), hingga memangku Kim Jong Il kecil saat ia menangis (bab 18). Meskipun demikian, ia sangat membenci politik sehingga dengan sendirinya akan berhenti mendengar saat ada seseorang yang mulai berbicara tentang topik tersebut.

Allan diceritakan sebagai tokoh yang sabar. Karakternya dibangun dengan sangat kuat. Allan hanya pernah lepas kendali –dalam hal ini benar-benar marah- satu kali, saat ia berumur 99 tahun lebih. Itu pun disebabkan oleh rubah yang memangsa kucingnya. Sementara sebelumnya ia tenang-tenang saja ketika dicaci maki oleh tiran Rusia. Pada dasarnya Allan memiliki kepribadian yang ‘menghibur’, jika kita mengesampingkan fakta bahwa ia hobi meledakkan sesuatu dan membunuh orang tanpa sengaja. Sejak kecil Allan tidak pernah mengkhawatirkan apa yang akan terjadi. Ia juga tidak ingin menebak-nebak apa yang ada di hadapan. Seperti saat sebuah kapal selam tiba-tiba muncul menembus es tak jauh dari tempatnya berdiri. 
“Jadi, sekarang kau mengerti betapa masuk akalnya untuk tidak menebak-nebak apa yang terjadi,” kata Allan. “Lagi pula, berapa lama aku harus menebak-nebak terus sebelum menebak ini?” (hal. 266)
Menurutnya, “Segala sesuatu berjalan seperti apa adanya, dan apapun yang akan terjadi, pasti terjadi.”

Karena menceritakan kehidupan Allan sejak tahun 1905 hingga memasuki usia 101 tahun (dan belum ada tanda-tanda akan meninggal), membaca novel ini seperti membaca buku sejarah dunia dalam bentuk novel biografi seorang tokof fiktif. Pembaca disuguhkan fakta-fakta historis tentang perang dunia ke I, II, hingga perang dingin di akhir abad ke 19. Meskipun tentu saja, setiap detil yang melibatkan Allan Karlsson adalah fiktif. 

Di antara hal yang membuat novel ini menarik adalah gaya cerita. Untuk sebuah buku setebal lima ratus halaman, dialog langsung yang terdapat di dalam novel ini termasuk sedikit. Tapi alih-alih menuturkan narasi panjang yang membosankan, penulis menggunakan gaya cerita –yang menurut saya baru- dengan mengubah dialog langsung ke dalam bentuk reported speech. Seperti dalam paragraph ini:
Julius bertanya apakah Allan bisa berhenti menginterupsi Bosse supaya mereka bisa mendengar ceritanya, dan Allan menjawab bisa. (hal. 258)
Hal itu membuat novel ini dengan sendirinya memiliki sisi komedi yang cukup menghibur.

Kekurangannya adalah, penulis menggambarkan Allan sebagai tokoh yang sangat hebat hingga kesan realistis dari ceritanya menjadi berkurang. Butuh banyak sekali keberuntungan dan kebetulan bagi seseorang yang hidup pada masa perang dunia untuk dapat berkenalan secara langsung dan bahkan berteman dengan beberapa pemimpin Negara sekaligus. Tak peduli ia mata-mata ataupun agen rahasia.

Namun demikian, secara keseluruhan saya menyukai novel ini. Mungkin karena saya dan Tuan Karlsson memiliki kesamaan: membenci politik. Tapi tentu saja, tingkat kebencian saya tidak setinggi Tuan Karlsson yang tak jarang mengata-ngatai para pemimpin dan Negara mereka. Terutama yang beraliran komunis-sosialis. Bahkan Indonesia digambarkan sebagai dengan tingkat korupsi dan nepotisme yang tinggi. Tapi sepertinya Negara-negara tersebut –beserta pemimpin dan rakyatnya- tidak terlalu peduli dengan pikiran Tuan Allan tentang mereka. Buktinya kisah ini telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dan difilmkan, dan hingga saat ini tidak ada yang protes kepada penulisnya.

Pada akhirnya, tentu saja, seperti novel barat pada umumnya, cerita ini juga punya akhir yang menggantung, and I like that!

No comments:

Post a Comment

Thanks for stopping by ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...