Friday, October 31, 2014

My Salford Story (Day 8)

Sebelum ada yang protes, sesekali saya boleh pasang foto sendiri, kan?
Assalamu'alaikum. Anybody's missing me? Hmm... kayaknya nggak ada, ya.

Tak apalah. Saya masih sehat wal afiat. Kali aja ada yang mau tahu. Ah ya, mungkin saya bakal sering nge-post cerita ringan tentang apa yang saya alami ataupun saya lakukan di sini. Sekadar untuk catatan sendiri dan sedikit berbagi untuk yang ingin mengikuti. Kalau udah ada yang mau close tab saat baca paragraph ini, waktu dan tempat dipersilakan dengan segala hormat :P

Satu lagi, semoga tidak ada yang menyempatkan diri mengkritik bahasa yang saya gunakan. Karena saya berniat mencampur aduk semuanya. Ya ampun... saya jadi kangen pecal bunga kates masakan mak :(

So, I basically have plenty of free time this week that I mostly have nothing so important to do. I can wake up faster than the sunrise, sit at my desk, turn the laptop on, then go online. The sun here completely rises at around 8 in the morning and starts to set at around 4 in the afternoon. That's said, we only have about 7 to 8 hours of daylight. Waktu yang sangat tepat buat ganti puasa, hehe.

Now I'm gonna tell you today's story.

Just like the other day, I woke up to an alarm this morning. The world outside my window was still dark. Ini sih soundtrack-nya lagu Incomplete by Backstreet Boys: "I'm awake, but my world is half asleep." Itu termasuk my all time favorite song. Kalau belum tau lagunya, Anda bisa langsung googling atau segera ke Youtube, keren lah pokoknya. 

Balik lagi, setelah hampir dua jam di depan laptop, saya pun beranjak ke dapur. Masih sekitar jam setengah 7 pagi. Saya berencana masak nasi putih dan tumis brokoli. Masaknya manual pake panci karena saya dan Ana memutuskan tidak membeli rice cooker yang di sini harganya hampir menyaingi hape android. Lagipula, kami berencana mencoba pola makan british: tidak tergantung pada nasi tiga kali sehari. Oke. Saya telah selesai mencuci beras dan meletakkan panci beserta isinya ke atas kompor tanpa api.


Sambil menunggu nasi tersebut tanak, saya pun berinisiatif mengambil sayuran di kulkas untuk segera diproses. Tanpa sengaja tangan saya menyenggol sesuatu, semacam lembaran daging -maaf ya, saya nggak tau istilahnya apa- milik flatmates yang semunya nonmuslim. Sambil harap-harap cemas saya memungut daging tersebut. Berharap itu bukan forbidden meat, dan cemas kalau-kalau Steph, si flatmate, melihat makanannya jatuh. Harapan saya tidak terkabul, karena saat membalikkan labelnya, saya melihat tulisan Pork Salami with something... di sana. Ya Allah... kena lah saya.

Setelah meletakkan sayuran yang akhirnya saya ambil dengan tangan kiri di atas sink, saya segera kembali ke kamar, ambil kunci, dan turun keluar untuk mengambil tanah. I told you, my flat is on the third floor. Untungnya masih agak gelap, jadi mungkin nggak ada yang memperhatikan saya ngorek-ngorek tanah. Salah satu hal yang sangat saya syukuri dari flat ini adalah adanya basin di setiap kamar. Saya pun bisa dengan leluasa mencuci tangan yang belepotan tanah tanpa mendapat tatapan heran dari orang sekitar.

Kembali ke dapur. Steph udah nggak ada. Air dalam panci nasi udah mulai kering. Saya pun mengecilkan panasnya. Sesaat kemudian saya baru sadar kalau ternyata airnya kurang sehingga nasi menjadi agak 'meukeuteut'. Nggak tau ya, orang bilang practice makes perfect, tapi ini first attempt-nya berhasil. Pas udah kedua dan ketiga malah gagal. Nggak tau itu salah saya atau salah si panci karena sampe tadi pagi masih belum ada tutupnya. 

Jadi ingat Alesha, flatmate yang berasal dari Italia, dia lagi belajar masak karena udah berstatus engaged dan rencana nikah tahun depan. Nah kalau saya berarti masih harus lebih banyak belajar lagi, biar nggak menghidangkan nasi 'meukeuteut' untuk suami nanti. Itu artinya, saya belum bisa nikah tahun depan. Ah, ngomong-ngomong tentang nikah, hari ini sahabat saya Ira telah memulai hidup baru. Selamat, Sayang, doakan saya bisa ikut jejaknya suatu hari nanti.
 
See? Even the already really beautiful girl can look much more stunning in her wedding dress <3 span="">
Okay... back to the topic. Ini kenapa saya nggak bisa fokus malam ini?

Selain aroma paprika yang ternyata begitu kuat, tidak ada yang salah dengan tumis brokoli. Omong-omong, saya pake paprika karena nggak menemukan cabe. Beginilah penampakan menu sarapan tadi pagi:

Pretty edible
Rencana hari ini adalah belanja (lagi). Eitss... bukannya kebanyakan uang, ya, ini pun statusnya masih ngutang, tapi berhubung persediaan makanan sudah menipis mau nggak mau harus beli. Dalam upaya berhemat, kami memutuskan untuk jalan kaki ke Salford Shopping Centre dari Castle Irwell. Jaraknya kira-kira dua kali jarak rumah saya ke rumah nenek. Nggak tau jarak rumah saya dan rumah nenek? Baiklah. Jaraknya mungkin setara dengan Simpang Jambotape ke kantor gubernur. Harap perhatikan garis bawah pada kata mungkin di kalimat sebelumnya.

Alhamdulillah, dengan bantuan mbah Google Map kami berhasil tiba dengan selamat dan tidak tersesat karena tau arah jalan pulang. Tujuan pertama adalah Aldi, supermarket yang menyediakan fresh ingredient dengan harga yang relatif lebih murah dari yang lainnya. Kalau mau belanja di sini harus bawa kantong sendiri, karena mereka nggak kasih gratis. Keluar dari Aldi kami memasuki Poundworld, toko yang seluruh barangnya berharga 1 Pound. Saya masih tidak bisa menemukan tutup panci di sana. Lalu lanjut lagi ke Poundland, masih sama-sama menyediakan barang dengan harga 1 Pound. Karena tetap nggak dapat tutup panci yang dijual terpisah, akhirnya saya beli satu baking tray berbentuk bulat, sambil mengira-ngira diameter si panci. 

Saatnya pulang. Perjalanan yang kami lalui tidak semulus saat pergi. Well, jalannya sama aja sih, tapi tangan kami yang nggak. Berangkat dengan tangan kosong, pulang dengan kantong belanjaan yang lumayan berat. Perlu dua kali berhenti di bus stop untuk numpang duduk. Alhamdulillah, kami berhasil kembali dengan selamat tanpa kurang suatu apa. Begitu tiba di flat, saya langsung menuju dapur dan menyiapkan makan siang, which happened to be Indomie rasa Soto Medan, the very last stock.

Hmm... sepertinya udah dulu ya. Saya jadi nggak yakin masih ada yang baca sampe paragraph ini. Nggak mungkin juga saya lanjut cerita sampe tidur nanti. Sama diary aja saya nggak segitunya. Okelah. Selamat malam.

Assalamu'alaikum.

15 comments:

  1. Wah kerreenn.. haha. Expresi lebay. Sering2 aja ra ngepost crita2 slama dsana di fb n grup leting. Jd smangat kami2 to struggle scholarship ttap trjaga. Anyway, tetap smangat walaupun masi "ngutang" ya. Hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Whehe... rencananya sih gitu, Wan. Moga aja ntar masih ada yang mau baca pas tingkat ke-lebay-annya jadi lebih tinggi. Haha

      Delete
  2. Waauuww amazing sekaliii kheyy :D
    klw tetap masak nasi nya "meukeuteut", coba bysain mkn roti aja kyk org sana haha siapa tau dpt jodoh org sana :p
    btw, diunggu yaa postingan2 selanjutnya di negeri :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha... mulai dibiasakan Za, tapi ya dasar perut Indo, masih mnta nasi jg akhirnya :)
      Terharu kami ada yang nunggu postingannya, hiks.. *ambel kaen lap

      Delete
  3. Untuk bahagia itu sederhana, namun kita sendiri yg membuatnya rumit...
    Saat kita makan, sebenarnya hanya dengan tangan saja Sudan cukup, tapi kita buat menjadi rumit dengan sendok, garpu, sumpit sampai2 pisau...

    Dan ingatlah, bahwa setiap perjuangan itu memiliki akhir, tinggal engkau yg menentukan akhirnya: apakah kalah ditengah perjuangan ataukah menang meski tertatih...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wuih... super sekali, bang! Tapi maaf, apa dalam cerita di atas ada tersirat indikasi saya sedang tidak bahagia ya?

      Delete
  4. im used to reading ur report dek..hahahaha
    kasian kalian makan nasi hana masak :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Whehe.. baru nongol kakak ni. Ternyata saya punya banyak silent reader ya, haha

      Delete
  5. Baru kali ini ngebaca blognya kaka. Sangat ampuh untuk menukis perjalanan hidup :D hahahh . Jdi pengen buat blog juga :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe.. besok datang lagi ya, buat jg lah blog-nya :)

      Delete
  6. Luarr biasa yaa perjuangannya di sana, Chaira.
    Gud luck, sukses buat study dan masak-masak! :D

    ReplyDelete
  7. apa yg berlaku seterusnya? jeng jeng jenggg

    ReplyDelete
  8. Keren ceritanya jadi betah membaca salam kenal

    ReplyDelete

Thanks for stopping by ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...