Saturday, November 22, 2014

Akhirnya Kumenemukanmu

Assalamu'alaikum...

Hisashiburi! Long time no see. Padahal di entry sebelumnya saya bilang bakal sering cerita, haha. Sekarang saya udah berstatus student lagi, jadi ya gitu deh, penyakit lama kambuh kembali.

Betewe, ada yang merasa bernostalgia nggak pas baca judul entry kali ini? Itu judul salah satu lagu grup band Indonesia kalau nggak salah saya. Pernah jadi soundtrack sinetron juga kayaknya.

"Apa? Si Khaira suka nonton sinetron?"

Iya, tapi itu dulu. Bertahun yang lalu. Sebelum saya tau kalau film-film bagus dan drama Jepang begitu mudahnya di-download atau copy dari teman untuk ditonton di laptop. Oke, stop.
Balek lagi ke judul. Sekilas info: dhamir 'mu' di kata di atas refers to what, not who.

Pada hari ketiga tiba di negeri baginda ratu, saya dan Ana mulai menjelajahi kota -abaikan bahasanya- untuk berbelanja. Dengan dipandu oleh Acehnese yang sedang ambil Ph.D di sini, kami ditunjukkan toko mana saja yang menjual bahan makanan serta daging halal (kebanyakan berada di kawasan Cheetham Hill) supermarket mana yang harganya cukup kompetitif (Aldi jadi pilihan), dan lain sebagainya.

Ketika pertama kali memasuki Aldi yang berada di kawasan Ashton Under Lyne, saya segera attracted ke salah satu booth yang ada di dekat kasir. Isinya tentu saja, buket bunga segar (si Khaira cit hanjeut dikalon bungong, kata Ana). Okelah, saat itu bahan makanan lebih penting dari bunga. Jadi saya meninggalkannya dengan berat hati dan menuju bagian fruit & veg. There're lots of fresh ingredients which I love the most! Among them were mushroom and broccoli, my fave ones. Ada paprika juga, bawang bombay dan bawang merah yang segede kepalan tangan, tomat yang beraneka ragam, plum yang relatif murah, anggur, stroberi, and many more.

Meskipun sebelumnya saya bilang kalau pilihan kami adalah Aldi, nyatanya supermarket tempat kami belanja pertama kali adalah Tesco. Itu karena letak Aldi di Salford Shopping Centre agak tersembunyi. Nah, kalau di rumah, bumbu dapur yang harus selalu ada adalah bawang merah (onion), cabe (chilli, not pepper), tomat, dan bawang putih. Merujuk pada dapu mak, setelah mengisi keranjang dengan berbagai sayuran, saya pun mencari basic ingredient tersebut. Namun setelah puas mengelilingi supermarket hingga ke bagian fashion saya tetap tidak bisa menemukan the first two things. Akhirnya saya pun berinisiatif membeli sekilo bawang bombay yang agak kecil, serta satu set paprika warna pelangi untuk pengganti chilli. Saya baru tahu kalo ternyata paprika itu sama sekali tidak pedas, yang ada meuheng (e kedua dibaca seperti dalam kata empat) maaf ya, saya nggak tau apa bahasa Indo-nya.

Karena memang tidak bisa hidup tanpa cabe (sebelumnya udah beli Maggi's hot chilli sauce, but believe me, it tastes like tomato sauce!), beberapa hari kemudian saya dan Ana kembali menjelajahi Aldi dan menemukan cabe yang ukurannya udah agak manusiawi: segede jempol kaki si Syakira, atau Taqiyya (yang jelas bukan Shanza). Satu pak berisi 6 cabe. Kami beli 2 pak. Rasanya mirip cabe, sih, setidaknya pedaslah. Tapi tetap aja, belum pas di hati.

Ini penampakan sarapan kami di hari ke-9 (if I'm not mistaken). Udah lebih manusiawi, kan? Bisa lihat irisan cabe ijo-nya?


Sekitar seminggu kemudian (tanggal 2 Nov) kami kembali ke Manchester Superstore yang ada di Cheetam Hill. Ada benda yang benar-benar mirip cabe ijo, baik bentuk dan ukuran. Kami beli banyak, saking banyaknya hingga meski tiap hari dipake, sampe hari ini belum habis. Rasanya sama sekali tidak mengecewakan: seperti rasa cabe rawit.

Ini penampakannya:


Nah, yang di sampingnya adalah cabe merah yang juga benar-benar 'cabe'. Dapatnya di Chinatown. Akhirnya bisa juga buat sambal lado. Tapi nggak tau apa ada yang salah di bahannya, sehingga lado-nya berwarna oren alih-alih merah. Untung aja rasanya tetap seperti sambal lado, tidak berubah jadi rasa jeruk.

Awal mula kami mencari Chinatown adalah untuk beli sambal ABC, karena udah sakit hati sama hot chilli sauce yang sebelumnya. Maka suatu sore, ketika rencana buka akun bank gagal gara-gara datangnya udah agak sore dan bank lagi rame-ramenya, kami putar haluan untuk mencari kota pecinan. Dengan berbekal GoogleMap kami menemukan beberapa toko yang ada huruf china-nya. Toko pertama hanya ada kecap manis ABC. Bolehlah, setidaknya ada label yang dikenal. Kami beli si kecap dan tauge di sana. Masuk ke toko kedua, ibarat pucuk dicinta ulam pun tiba (ntah cocok), terdapat banyak sambal ABC di sana dan... kangkung! Sayuran favorit saya sejak masih bocah. Akhirnya dua benda ini pun terbeli.

Bisa lihat label harganya? 3 Pounds sekian untuk kangkung. 50.000 Rupiah lebih! Sejak saat itu saya berusaha untuk tidak mengonversikan harga setiap barang yang saya beli ke Rp. Or I'm gonna get heart attack every time I go into shops.

Jadi, begitulah cerita saya menemukan bahan makanan yang sesuai dengan lidah Aceh. Ah, tentang bunga, karena persediaan makanan tidak lagi menjadi masalah, akhirnya saya beli satu buket berisi 11 tangkai mawar segar seharga 2 Pounds. Maunya sih yang merah. Tapi karena saat itu nggak ada, saya ambil yang ini:


Selasa lalu saya ke Bolton. Beli bunga lagi. Haha.


See you around!
Wassalamu'alaikum.

Note: setiap kata 'kami' di tulisan di atas merujuk kepada 'saya dan Ana'.

12 comments:

  1. bunganya d kasih makan apa? kok ga matii? :o

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo mawar, flower food-nya include di package, bunganya tahan 2 minggu lebih. Kalo yg di bawah itu belinya sekalian dengan potnya :D

      Delete
  2. omaa. bereh that kak khaira. meunyoe lon jak keudeh, neu tung lon bak bandara beuh. hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. jak laju... train ka dipreh di bandara, haha

      Delete
  3. lon jak cit ,, tapi meudoa doa dilee..

    ReplyDelete
  4. kapaloe dek. 50 ribei nyan on rumpun?? dilikot asrama khaira hana ditimoh??,eh! haha,han ase ta meudep

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haha... hana udeup sang sinoe kak. Nyan pih nan jih lagee nan bungong: morning glory :D

      Delete

Thanks for stopping by ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...