Friday, December 26, 2014

IT'S BEEN A DECADE (Tsunami 26 December 2004)

It feels like just yesterday that I was a final-year middle school student preparing for term exam. It feels like yesterday that the earth shook so strongly. It feels like just yesterday that I rushed out of the dormitory only to find that building collapse minutes afterwards. It feels like just yesterday that I saw people coming to our school in the wrecked states, saying things I couldn’t understand about the gigantic sea waves that destroyed the land. It feels like just yesterday was the first time I learned a new Japanese word: tsunami.

It all feels just like yesterday. In fact, it was ten years ago. A long time measured by a decade.


The recollection about the 26 December 2004 catastrophe will remain forever in my head and heart –and so other Acehnese, I believe. It’s not something to forget for a life time. It’s a story worth-telling to the children and grandchildren. It’s a real history. Really, how can I ever have the heart to erase that heartbreaking tragedy from my memory?

Tsunami has even claimed its new role among the people of Aceh. It has now become a time measurement when talking about certain happenings: whether it’s before or after tsunami. That’s amid the effect tsunami has on Acehnese. Not to mention other well-known things.

Well, this year, being thousand miles away from the land I love to death, I still can feel the pain from ten years ago linger in the air. Upon arriving in Salford approximately two months ago, the very first topic I and my flatmates –three Germans and an Italian- shared was the said calamity from the Indian Ocean. Even they know and still remember that great disaster!

Honestly, I don’t have many things to write. Not that I lose feeling about the tragedy. It’s so overwhelming that I can’t transfer them into words. Only prayers can be sent to those lives taken during that time, may Allah accept their good deeds and forgive the bad ones. Al-fatihah...

--------------------------------------------------------------------------------------------

Rasanya baru kemarin saya masih siswa kelas IX MTs yang sedang bersiap-siap untuk ujian semester. Rasanya baru kemarin bumi berguncang dengan hebatnya. Rasanya baru kemarin saya berlari keluar dari asmara hanya beberapa menit sebelum gedung itu roboh. Rasanya baru kemarin saya melihat orang-orang berdatangan ke sekolah kami dalam keadaan compang-camping, memberi tahu kami tentang sesuatu yang tidak dapat saya pahami mengenai ombak besar yang menghancurkan daratan. Rasanya baru kemarin saya mengenal satu kosakata bahasa Jepang : tsunami.

Semua hal itu terasa seakan baru kemarin terjadi. Padahal, itu sudah sepuluh tahun yang lalu. Ukuran waktu yang disebut satu dekade.

Ingatan tentang bencana 26 Desember 2004 akan selalu berada dalam ingatan saya. Hal yang sama saya yakin berlaku untuk orang Aceh lainnya: tidak dapat dilupakan seumur hidup dan patut diceritakan kepada anak cucu. Inilah sejarah sebenarnya. Lagipula, bagaimana mungkin saya dapat melupakan tragedi yang menghancurkan hati tersebut?

Tsunami bahkan telah memiliki fungsi baru bagi orang Aceh. Tsunami telah menjadi semacam pembatas waktu ketika bercerita tentang suatu kejadian: sebelum atau setelah tsunami. Sebegitu lekatnya tsunami dalam ingatan kami.

Tahun ini saya berada ribuan mil dari tanah rencong tapi tetap dapat merasakan luka yang sama seperti sepuluh tahun lalu. Saat tiba di Salford kira-kira dua bulan yang lalu, topik pertama yang menjadi pembicaraan saya dan teman se-flat yang berasal dari Jerman dan Italia adalah tentang tsunami. Ya, bahkan mereka pun tahu dan ingat tentang musibah ini.

Saya dan  teman se-flat
Jujur saja, tidak banyak hal yang dapat saya tulis kali ini. Hanya doa yang dapat dikirimkan kepada para korban. Semoga Allah menerima amal baik dan mengampuni yang tidak baik. Al-fatihah...

Note: Tulisan saya tentang tsunami di tahun-tahun sebelumnya dapat dibaca di sini dan di sini.

4 comments:

  1. Ternyata Mbak lagi kuliah di Salford yah. (y)

    ReplyDelete
  2. dalam diam sudah hampir 10 tahun...terasa masih baru sahaja berlaku

    ReplyDelete
  3. Amiin. meskipun 1 dekade berlalu, tapi seolah itu baru kemaren terjadi. karena Tsunami Aceh 2004 takkan pernah terlupa oleh rakyat Aceh dan Indonesia.

    ReplyDelete
  4. baca artikel kakak jadi teringat Hafalan Shalat Delisa.. ^_^

    ReplyDelete

Thanks for calling at ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...