Tuesday, April 26, 2016

Selamat Melanjutkan Perjalanan, Kawan

Tadi pagi saya mendapatkan kabar yang cukup menyedihkan. Salah seorang teman kuliah saya yang terkenal cerdas, baik, ramah, cantik, serta memiliki pronunciation bahasa Inggris yang sangat bagus telah pergi meninggalkan kami untuk selamanya. Sang Pencipta memanggilnya kembali di usia 25 tahun.

Namanya Faradilla. Dilla panggilannya. Meskipun baru ingat belakangan, sebenarnya pertemuan pertama saya dengan Dilla bukanlah ketika kami berada di unit yang sama saat menempuh pendidikan di Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris IAIN (sekarang UIN) Ar-Raniry. Kami pernah berada di premise yang sama selama beberapa hari dalam kegiatan lomba tentang gender equality tingkat provinsi (saya lupa nama resmi lombanya) yang diadakan di Hotel Madinah pada tahun 2007, setahun sebelum kami kuliah. Saat itu kalau tidak salah Dilla mendapatkan juara 3. Bukti bahwa ia memanglah seorang gadis yang cerdas.

Masa-masa kuliah membuat saya lebih mengenal Dilla. Kesan saya terhadapnya dari dulu hingga kini tetap sama: ia adalah seorang teman yang begitu mudah untuk disukai. Pembawaannya yang ceria membuat Dilla mudah diterima siapa saja. Berbeda dengan saya yang clumsy dan tidak pandai bersosialisasi, Dilla adalah jenis teman yang dapat membuat orang seperti saya pun merasa mudah bergaul. Intinya ia mudah akrab dengan siapa pun dan tentu saja, disukai banyak orang.

Dilla unik dengan caranya sendiri. Ia sangat menyenangi menggunakan rok kembang yang dijahit ayahnya. Ia pandai mengenakan make up. Ia pernah membawa tissue satu pak besar dalam tasnya saat terserang pilek (dan membagi tissue-nya kepada saya). Bagi saya ia hebat karena mampu beli sepeda motor sendiri ketika kuliah. Sebagai irrelevant sentence, dari Dilla lah saya pertama kali tahu bagaimana bentuk dan apa itu hape android bertahun lalu.

Tamat kuliah, kami mulai menempuh jalan masing-masing. Ada yang menjadi pekerja kantoran, ada yang mengajar, ada yang melanjutkan pendidikan. Komunikasi tetap terjalin -meskipun tidak secara intens- di grup-medsos seperti Facebook dan chat WhatsApp. Saya sendiri terakhir bertemu dengannya awal tahun 2015 lalu di pernikahan seorang teman. Saat itu Dilla sudah bekerja namun ia tetap dirinya yang biasa, yang menunjukkan keterkejutannya melihat saya di Aceh (karena saat itu saya sedang S2 di Salford dan pulang saat libur tahun baru). Tidak ada yang berubah darinya dan saya sangat senang bertemu dengannya.

Pertengahan bulan ini kami -para alumni TEN 2008- dikejutkan dengan kabar tentang keadaan Dilla yang sedang koma dan dirawat di ICU. Tentunya kami semua merasa terkejut karena kabar ini begitu tiba-tiba. Apalagi sebelumnya kami baru saja merayakan kebahagiaan salah satu teman yang baru saja menggelar resepsi pernikahan. Niat untuk menjenguk tidak terlaksana karena pihak keluarga belum mengijinkan, jadi perkembangan keadaannya saling dibagi di grup. Hingga tadi pagi kabar menyedihkan itu tiba. Tepat lima belas hari sejak kabar sakitnya kami terima, Dilla pergi untuk selamanya. Innalillahi wa inna ilaihi raajiuuun.

Selamat jalan, Dilla. Semoga Allah mengampuni dosa Dilla dan menempatkan Dilla di tempat terbaik di sisi-Nya. Ra menuliskan ini karena ingin tetap mengenang Dilla. I'm honestly happy to know you and be one of your many friends. You'll always be smiling so widely in my memory. Just like the last photo of us together.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...